Pagi yang sedikit gelap oleh mendung. Rintik hujan pun mengiringi setiap detik jam. Nathan memilih bersantai di sofa ruang tamu untuk membaca koran. Navia tak turut menemani Nathan. Ia memilih bersih-bersih membereskan rumah.
Tiba-tiba, Reno pun datang. Nathan menyambut Reno dengan ramah. Reno terlihat begitu bahagia dengan beberapa berkas penting di tangannya.
"Ada apa? Sepertinya ada berita baru untukku? Ceritakan!" kata Nathan membuka obrolan.
"Benar Tuan Nathan! Saya sudah resmi jadi putra Mr. Frans. Buktinya, saya sudah dapatkan akta kelahiran seperti yang saya mau. Status saya sudah jelas sekarang. Lalu..."
Reno terdiam. Sesaat senyumnya pun mengembang. Nathan makin penasaran dengan sikap Reno.
"Dalam waktu dekat, saya akan menikahi Karin. Saya harap, Tuan Nathan dan Navia akan menghadiri pernikahan saya." tambah Reno.
"Oh tentu saja. Kami pasti akan datang untukmu. Kamu sangat berjasa pada kami. Ditambah lagi, kamu menikahi sahabat istriku. Jadi sangat jelas, kami akan datang pada hari kebahagiaanmu. Aku rasa, kebahagiaanmu sangat luar biasa. Aku turut bahagia atas itu." kata Nathan bahagia.
"Kalian ini... akrab sekali ngobrolnya. Ini, aku bawain teh hangat campur jeruk nipis buat kalian. Suasana yang sedikit dingin begini, sangat pas untuk menikmati minuman hangat ini!" kata Navia yang membawa nampan berisi minuman dan cemilan.
"Terimakasih kesayanganku..." puji Nathan mesra.
"Terimakasih Nona Navia." kata Reno.
"Panggil Navia aja. Itu lebih enak didengar. Tumben sepagi ini kamu sudah ada di sini. Apa ada kabar bahagia? Boleh dong aku tau." ucap Navia sambil menaruh minuman dan cemilan di meja.
"Reno mau nikah sama Karin. Trus, dia juga udah nemuin ayahnya." jawab Nathan ringkas.
"Oh gitu ya. Selamat ya Ren! Aku ikutan bahagia dengernya. Akhirnya sahabatku jadi juga menikah sama kamu. Pasti dia seneng banget sekarang. Kapan hari bahagia itu??" tanya Navia berbinar matanya.
"Tiga hari lagi." jawab Reno.
"APA???" tanya Navia dan Nathan bersamaan.
"Kamu bercanda Ren??" tanya Nathan.
"Tidak, Tuan! Saya selalu serius dengan perkataan saya. Lagi pula, selama mendapat restu ayah, saya akan melakukannya sebaik mungkin yang saya bisa lakukan. Kebaikan harus segera dilakukan. Bukannya begitu Tuan?"
"Iya itu benar! Itu kamu bawa apa?" tanya Nathan lagi.
"Ini ada berkas-berkas penting yang harus Tuan tanda tangani. Ini menyangkut acara pelelangan yang akan kita gelar dalam waktu dekat. Dan ada undangan pernikahan saya. Saya pastikan masalah bisnis selesai secepatnya sebelum acara pernikahan saya. Saya akan melakukan yang terbaik!" jawab Reno.
"Oh tidak! Kamu keterlaluan Nathan! Tidak seharusnya kamu membebani orang kepercayaanmu dengan tugas berat seperti ini. Bisakah kamu membebastugaskan Reno untuk beberapa hari ini? Dia harus fokus dengan pernikahannya. Jangan egois, Sayangku...!" keluh Navia.
"Iya Sayangku..." bisik Nathan dekat dengan telinga Navia. "Nah, kamu dengar kan Ren, apa yang barusan istriku bilang? Dia ingin kamu fokus dengan pernikahanmu. Ku harap kamu bersedia menuruti apa kata istriku. Keputusannya sudah bulat dan tak bisa diganggu gugat." kata Nathan yang masih menatap Navia.
"Ah saya merasa tak enak. Tapi terimakasih. Sudah jadi tanggung jawab saya untuk menyelesaikan urusan bisnis yang biasa saya tangani. Nona Navia tak perlu khawatir. Urusan pernikahan juga hampir 100% terselesaikan. Tinggal menunggu hari pelaksanaannya saja. Yang terpenting kalian harus datang ya!" kata Reno.

KAMU SEDANG MEMBACA
SEXY MAID & SEXY BOSS
Romansa"Lo nangis? Sshhhtt, gue nggak mau lo nangis lagi. Gue mau lo bayar semua kerugian yang gue derita!" Dia mendekatiku dengan wajah sok iba. Aku kesal. Masalahnya dia hampir mengambil ciuman pertamaku. Ikh, ngeselin! PLAAAKKKK Sebuah tamparan ku tuju...