Akhirnya, Papa dan Mamanya Nathan datang juga ke Indonesia. Mengunjungi putra semata wayangnya yang sangat tampan dan sexy, Nathan. Mereka ikut menginap bersamaku di apartemennya Nathan.
Sebenarnya malu rasanya jika satu atap yang sama dengan seseorang yang tak punya ikatan apa-apa selain cinta. Tapi mau bagaimana, Nathan-lah yang menyuruhku untuk tinggal bersamanya. Ada Ibuku, Papa dan Mamanya Nathan juga bersama kami.
Kedua ortu kami tengah sibuk membahas rencana pernikahan kami di ruang keluarga. Sementara aku dan Nathan memilih bersantai di kamar Nathan. Aku lebih suka bersantai di kamar Nathan daripada bersantai di kamarku sendiri.
Pertama: Kamar Nathan lebih luas dari kamarku.
Kedua: Kamar Nathan lebih lengkap dari segi interior dan perabotan.
Ketiga: Kamar Nathan lebih leluasa untuk menatap pemandangan luar.
"Nav, asik yah kalo apartemen rame kayak gini!" kata Nathan padaku.
"Iyah. Tapi gue grogi kalo kumpul bareng Mama dan Papa lo! Gue kan di sini ceritanya lagi numpang. Gue itu parasit nggak sih bagi lo?" curhatku.
"Lah, siapa yang bilang? Menurut gue nggak kok! Justru gue berterima kasih banget kalo lo di sini. Gue jadi nggak kesepian. Lagi pula, lo bantuin gue beres-beres apartemen gue!" ujar Nathan.
"Iya, gue kan pembantu elo!" seruku.
"Lo itu kan sexy maid gue!" kata Nathan dengan tatapan nakalnya.
"Dan lo adalah sexy boss gue!" kataku manja.
"Oya, kita kapan nikah nih? Ortu kita kan udah setuju semua."
"Maunya sih secepetnya aja. Gue mau dihalalin sama elo. Biar status kita ini jelas. Status gue bukan numpang di apartemen ini, tapi sebagai nyonya dari pemilik apartemen ini." kataku.
"Sepertinya ortu kita di dalem lagi ngobrolin rencana pernikahan kita."
"Sepertinya memang begitu. Lo mau gabung sama mereka?"
"Nggaklah! Gue maunya di sini aja sama lo. Di sini lebih baik daripada nimbrung bareng ortu kita."
"Gue mau rebahan di ranjang lo ya? Pegel nih lama-lama kalo terus duduk di sofa ini!"
"Ya. Tapi gue ikutan!" kata Nathan.
"Ah, lo ngikut-ngikut aja deh! Gue mau nyantai bentar, elo mau recokin aja!" kataku.
Nathan mengikutiku yang rebahan santai di ranjangnya.
"NATHAN.... !!! NAVIA....!!!" teriak Mami Alif memanggil kami.
"Nah, itu Mama lo manggil kita. Yuk ke bawah!" ajakku pada Nathan.
"Ikh, ngapain lagi sih? Kan enakan di sini yah. Adem bisa berduaan sama lo. Di sana mah paling cuma bisa manyun nungguin orang tua ngobrol." keluh Nathan.
Ku cium keningnya. Nggak biasanya ku lakukan hal itu dan cukup membuat Nathan tertegun untuk beberapa saat.
"Udah dapet semangat baru kan?" tanyaku.
"Lumayan! Coba bisa tiap hari dapet ginian!"
"Makanya nikahin gue segera! Intinya mah, halalin atau tinggalin!" seruku.
"Yaudah yuk ke bawah!" kata Nathan yang mulai beranjak dari ranjangnya.
Kami berjalan menuruni tangga beriringan seperti pengibar bendera. Para ortu yang tengah berbincang, beralih menatap kami. Tanpa berkedip sepertinya.
"Kalian itu, serasi sekali!" gumam Mama Alif.
"Iya, yang satu ganteng dan satunya cantik!" kata Ibuku.

KAMU SEDANG MEMBACA
SEXY MAID & SEXY BOSS
Romance"Lo nangis? Sshhhtt, gue nggak mau lo nangis lagi. Gue mau lo bayar semua kerugian yang gue derita!" Dia mendekatiku dengan wajah sok iba. Aku kesal. Masalahnya dia hampir mengambil ciuman pertamaku. Ikh, ngeselin! PLAAAKKKK Sebuah tamparan ku tuju...