Pukul 6.45, Navia telah sampai di depan apartemen mewah milik Nathan. Menjalani profesi sebelumnya, menjadi pembantu Nathan. Setelah mengetik kode sandi masuk, pintu apartemen terbuka untuk Navia. Nathan memang sengaja memberikan kode sandi masuk untuk Navia.
'Pasti pria mesum ala Nathan masih molor di kamarnya. Nggak ada tanda-tanda kehidupan di sini. Apa aku tengok ke kamarnya ya? Memastikan itu pasti dibolehkan untuk takaran mencari kebenaran.' pikir Navia.
Navia mengendap-endap menuju kamar Nathan yang terletak di lantai dua. Perlahan Navia membuka pintu kamar Nathan. Benar saja, Nathan masih tertidur pulas. Dari jauh, pesona tampan Nathan mulai terasa. Navia memutuskan untuk melihatnya lebih dekat.
'Dan ya.... Nathan memang tampan. Tak ada kekurangan dari raut wajahnya. Wajar saja, kalo Nathan jadi idola wanita. Termasuk aku mungkin!' batin Navia.
Saat tidurpun, kesan rapi tampak padanya. Selimut yang melilit setengah tubuhnya, terlihat rapi dan enak dilihat. Beda sama Navia. Kalo Navia, sudah pasti nggak berbentuk selimut. Nggak bisa dibedakan, mana selimut dan mana gundukan kain.
Nathan menguap. Navia masih mematung mengagumi Nathan yang masih belum membuka matanya.
"Lo kagum sama gue, heum??" tanya Nathan yang mulai membuka matanya perlahan.
Navia gugup. Mukanya pucat pasi.
'Kok dia bangun? Matilah aku!' keluh Navia dalam hati.
"Navia......" panggil Nathan saat Navia hendak pergi. "Mau kemana lo? SINI!!!"
Navia melangkahkan kakinya ke arah Nathan. Lebih dekat dari sebelumnya.
"Tumben lo udah standby di apartemen gue?" tanya Nathan.
"Telat salah, standby juga salah. Mau elo itu apa?" Navia mencebikkan bibirnya. "Hayati lelah bang.....!!"
Nathan terkekeh.
"Sudahlah! Lo mandi dulu aja! Mau gue bikinin sarapan apa?"
"Nav, gue pingin dimasakin sambelado telor."
"Oke. Apa lagi?"
"Terserah elo ajalah! Lo kan yang masak. Gue tau lo bisa nebak masakan apa aja yang gue suka!"
"Ya ya ya." kata Navia malas.
Navia bergegas ke dapur. Memulai aktivitas memasaknya. Sementara Nathan segera mengunjungi kamar mandinya. Berbasah-basah ria.
***
"Kita mau kemana?" tanya Navia gugup saat Nathan menariknya ke mobil mewahnya.
"Nanti juga tau!" Navia makin gugup. "Pasang sabuk pengamanmu dengan benar!"
Nathan memacu mobilnya sekencang mungkin. Berpacu melawan waktu yang tetap nomer satu. Membelah iring-iringan mobil yang melaju.
'Dia gila! Kalo ingin mati, kenapa harus ngajak aku juga? Aku belum mau mati. Aku belum nikah!' batin Navia.
Nathan memarkirkan mobilnya di bahu jalan. Navia belum menyadarinya. Matanya masih terpejam dan menahan ketakutan. Nathan tersenyum melihat ekspresi polos Navia. Didekatkannya wajahnya beberapa centi di depan Navia. Navia pun melengos ke arah lain. Matanya dipaksa melihat pemandangan lain semisal burung yang terbang di angkasa.
"Navia...."
"Apa?"
"NAVIA...."
"Apa?" kali ini Navia menoleh.

KAMU SEDANG MEMBACA
SEXY MAID & SEXY BOSS
Romansa"Lo nangis? Sshhhtt, gue nggak mau lo nangis lagi. Gue mau lo bayar semua kerugian yang gue derita!" Dia mendekatiku dengan wajah sok iba. Aku kesal. Masalahnya dia hampir mengambil ciuman pertamaku. Ikh, ngeselin! PLAAAKKKK Sebuah tamparan ku tuju...