Sejak kehadiran orang tuanya, Navia tak lagi berkunjung ke apartemen Nathan. Tepatnya break menjalani profesi sebagai pembantu Nathan. Itupun atas perintah Nathan. Sebab kedua ortunya akan menginap di apartemen Nathan selama mereka berada di kota itu. Tentu saja Nathan tak ingin ortunya mengetahui keadaan sesungguhnya. Kalo mereka tau, Nathan akan dihujani omelan abis-abisan.
Nathan mengajak Mama dan Papanya dinner di sebuah cafe bintang lima. Sebuah cafe yang letaknya tak begitu jauh dari apartemen Nathan. Dipilihnya sebuah ruangan privasi di lantai tiga.
"Kita telah sampai. Mama dan Papa silakan pesan terlebih dahulu. Nathan akan ke depan dulu!" kata Nathan sembari melenggang pergi.
"Kau mau kemana?" tanya Pak Ardian.
Nathan menghentikan langkahnya. Berbalik menatap kedua ortunya.
"Nathan sedang menunggu seseorang." jawab Nathan singkat.
Kemudian Nathan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Langkahnya panjang-panjang. Berharap cepat sampai di lobby cafe. Berharap seseorang yang ditunggu segera datang. Seseorang itu adalah Navia.
"Nathan..." panggil seorang gadis dengan suara pelan. Dialah Navia.
Nathan tak menjawab sapaan ramah gadis di depannya. Mata Nathan masih sibuk mengamati sesuatu yang luar biasa. Kecantikan Navia. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, dilihatnya tanpa ada yang terlewat. Melihat sikap diam Nathan, Navia semakin gugup.
'Jangan-jangan aku udah bikin kesalahan. Udah bikin dia marah. Salahku apa?' batin Navia.
"Ayolah! Papa dan Mamaku sudah menunggu kita!" ajak Nathan yang mulai menarik tangan Navia dengan paksa.
Navia mengikuti langkah Nathan. Dia berusaha mensejajarkan langkah kakinya dengan langkah kaki Nathan yang panjang-panjang. Tapi tetap saja tak bisa. Nathan terlalu cepat jalannya. Navia tak bisa mengimbangi.
"Oh jadi ini tamu spesial yang kau tunggu?" tanya Bu Alifiyanti dengan senyuman menggoda Navia.
Nathan dan Navia saling berpandangan. Kedua mata mereka terpaut. Navia tersenyum manis. Nathan yang tadinya tegang, membalas senyuman Navia.
"Ma, inilah tamu yang istimewa. Dialah pengisi hati Nathan. Dialah cinta Nathan..." kata Nathan tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Navia.
Navia tertunduk malu. Sementara kedua ortu Nathan hanya bisa tersenyum. Mereka memakluminya. Sebab mereka pernah muda.
'Apa yang dilakukan Nathan? Dia sengaja membuatku deg-degan tak karuan begini. Iya sih, dia sangat tampan. Sempurna banget. Tapi kan... aku jadi malu kalo dia bilang aku adalah cintanya. Apa benar aku juga mencintainya? Ku rasa ini terlalu dini untuk mendeteksi isi hatiku. Aku belum begitu paham dengan cinta. Biasanya aku hanya sebatas suka dengan cowok. Tapi selalu hilang rasa suka itu, sebelum bernama cinta. Entahlah!' batin Navia.
'Navia... apa yang lo pikirin? Apa lo nggak suka dengan pengakuan gue? Gue suka sama lo. Gue cinta sama lo. Gue juga sayang sama lo. Apa lo belum liat semua itu dari gue? Apa lo punya cowok lain? Ah, kayaknya nggak ada! Lo hanya jalan sama gue! Karena lo milik gue! Milik gue!' batin Nathan.
"Loh, kalian kok diem-dieman gitu! Duduklah!" kata Pak Ardian.
Navia dan Nathan tersadar dari lamunan masing-masing. Lalu mereka duduk di sofa empuk berseberangan dengan sofa yang diduduki ortu Nathan.
"Navia, kamu sudah lama kenal dengan Nathan?" tanya Pak Ardian.
"Be... belum lama Om. Baru dua mingguan ini. Kami..."

KAMU SEDANG MEMBACA
SEXY MAID & SEXY BOSS
عاطفية"Lo nangis? Sshhhtt, gue nggak mau lo nangis lagi. Gue mau lo bayar semua kerugian yang gue derita!" Dia mendekatiku dengan wajah sok iba. Aku kesal. Masalahnya dia hampir mengambil ciuman pertamaku. Ikh, ngeselin! PLAAAKKKK Sebuah tamparan ku tuju...