Perkuliahan telah selesai sebelum jam perkuliahan berakhir. Itu karena dosen yang mengajar, izin pulang lebih cepat.
"Itu Pak Joko kenapa ya? Tiba-tiba setelah nerima telpon dari istrinya, eh ngakhirin jam perkuliahan. Padahal materi masih banyak banget yang belum disampaikan. Apa ada masalah keluarga?" tanya Afifah pada Karin.
"Lo nanya ke gue, lah gue nanya ke siapa?" tanya Karin geram.
"Selow kali ah!" cibir Dewi.
"Yee... nenek lampir ikutan nimbrung! Pulang-pulang!" seru Karin.
"Eh Rin, lo ngutang dua ratus ribu kan sama gue? Balikin dong sekarang! Gue butuh uang itu buat beli obat." kata Imas.
"Jangan sekarang deh! Lusa gimana? Gue lagi bokek nih. Belum dapet kiriman dari Nyak-Babe gue. Sabar dikit kenapa!" kata Karin mengelak.
"Yaelah, janjinya seminggu! Lo gimana sih? Gue mau beli obat buat Nyak gue nih! Kasian asam uratnya kambuh. Dua ratus ribu kan lumayan buat nambah-nambah!" cerita Imas.
"Yah gimana? Duitnya aja belum ada! Gue harus gimana?" ucap Karin.
"Karin!" panggil Navia.
"Navia! Darimana aja lo? Kebetulan lo ada di sini!" seru Karin.
"Gue baru dari toilet. Ada apa?" tanya Navia heran.
"Sini deh, gue bisikin!" kata Karin mendekati Navia, lalu berbisik. "Boleh nggak gue pinjem duit lo? Dua ratus ribu aja, buat bayar utang gue sama Imas."
"APA???" pekik Navia yang membuat beberapa teman mereka menoleh ke arahnya.
"Jangan teriak juga!" gerutu Karin.
"Duit sih ada. Tapi gue ragu kalo minjemin duit ke lo. Ragu nggak balik!" bisik Navia pada Karin.
"Lah, ini gimana urusannya. Rin, mana?" seru Imas sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Bentar! Sabar!" gerutu Karin.
"Mana?" bisik Karin pada Navia.
Navia meraih tas selempangnya. Diambil dompet warna merahnya, lalu dikeluarkan dua lembar uang ratusan ribu. Kemudian uang tersebut diserahkan kepada Karin. Tentu saja tak membuat teman mereka mengetahuinya, untuk menjaga harga diri Karin sebagai sang peminjam ulung.
"Makasih!" bisik Karin dengan nada yang sangat pelan.
Karin segera menemui Imas. Menarik Imas hingga ke pojok ruangan. Di sanalah Karin menyerahkan duit pelunasan utangnya pada Imas.
***
Navia dan Karin menyusuri koridor kampus yang ramai oleh mahasiswa dari fakultas lain yang duduk santai di bangku-bangku teras. Beberapa di antara mereka terpengaruh oleh kedua wanita yang lewat di depan mereka, Karin dan Navia. Navia hanya menganggap angin lalu. Biasa saja. Sementara Karin menganggap sebagai anugerah terhebat untuk hari ini. Karin suka digoda, padahal belum tentu yang digoda adalah dirinya. Bisa jadi Karin hanyalah pengalihan isu. Target yang digoda adalah Navia. Bisa jadi kan?
"Tadi lo ngapain narik Imas ke pojok ruangan?" tanya Navia.
"Tentu saja bayar utang gue-lah. Pake duit dari lo itu!" jawab Karin sambil membenarkan dasinya dengan gaya heboh.
"Tumben lo hari ini pake dasi?" tanya Navia lagi.
"Lagi pingin aja. Gue jadi mirip artis K-POP kan ya?" jawab Karin dengan PD-nya.
"Lo bukannya mirip artis K-POP, tapi mirip orang stress!! Nggak cocok lo dandan serba semrawut gitu!" komentar Navia.
"Tapi kan tadi lo liat kalo cowok-cowok keren yang berjejer di sebelah sana, yang tadi kita lewati, godain gue kan? Itu tandanya mereka tertarik sama gue?" ujar Karin meyakinkan Navia, tepatnya untuk dirinya sendiri.

KAMU SEDANG MEMBACA
SEXY MAID & SEXY BOSS
Romance"Lo nangis? Sshhhtt, gue nggak mau lo nangis lagi. Gue mau lo bayar semua kerugian yang gue derita!" Dia mendekatiku dengan wajah sok iba. Aku kesal. Masalahnya dia hampir mengambil ciuman pertamaku. Ikh, ngeselin! PLAAAKKKK Sebuah tamparan ku tuju...