Setelah memandang wajah terlelap Yura, aku langsung mengangkatnya dengan hati-hati dan meletakan tubuhnya di atas kasurnya.
Kuregangkan tubuhku sembari berjalan ke arah meja belajarnya. Melihat ke arah tugasnya. "Bagaimana caranya ia bisa tertidur ketika belum menyelesaikan tugasnya."
Setelah itu aku langsung duduk dan meraih alat tulis Yura. Walaupun tulisanku tidak serapih tulisannya, setidaknya besok dia tidak terkena hukuman.
-
"Oppa.."
Aku merasa tubuhku bergetar, seseorang menggoyang tubuhku.
Napasku memberat, kemudian aku langsung meregangkan tubuhku. Kudongakkan kepalaku dan melihat Yura yang sudah memakai seragam sekolahnya. Ternyata aku tertidur di meja belajarnya.
Mataku mengerjap kemudian aku langsung berdiri, "Kau sudah siap?" Tanyaku.
Ia mengangguk dan melirik ke arah mejanya, "Kau mengerjakan tugasku?"
Kepalaku mengangguk pelan, sembari tersenyum bangga aku berkata, "Ne.. aku takut kau dihukum hari ini."
Ia terkekeh, sebelum kemudian mencubit pipiku, "Mandilah, aku akan membuat sereal untuk kita sarapan."
-
Sambil terus mengusap rambutku yang basah dengan handuk, aku keluar dari kamar Yura. Terlihat ia yang tengah memakan sereal sembari membaca buku pelajaran.
Kakiku melangkah menghampirinya sebelum kemudian aku mengambil dan menutup bukunya setelah itu aku duduk di hadapannya.
Ia mengerucutkan bibirnya sebelum berkata, "Oppa.."
"Ayolah, belum tentu besok aku akan menginap lagi, pergunakanlah waktumu sebaik mungkin untuk menatap wajah tampanku."
Salah satu sudut bibirnya terangkat. "Cih!"
"Bagaimana sekolahmu?" Tanyaku sembari memakan sereal yang berada di hadapanku.
Alisnya terangkat, kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya pelan, "Baik-baik saja. Tidak ada masalah sama sekali."
"Sudah menemukan sahabat baru?"
Ia kembali menganggukkan kepalanya pelan, "Choi Nara, Park Nayoung, Im Suhyun, Lee Min-"
Ponselku berbunyi, membuatku langsung mengalihkan pandanganku ke arah benda berbentuk persegi panjang yang terletak di samping mangkukku.
"Sebentar.." aku langsung meraih ponselku sebelum menjawab telepon tersebut. "Yeoboseyo hyung-nim?"
"Aku dalam perjalanan, kau bersiap-siaplah!"
"Aku sudah siap, hati-hati!" Jawabku sebelum memutuskan sambungan telepon.
Mataku beralih ke arah Yura yang tengah menatap ke arah mangkuknya yang masih terisi sereal.
Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalaku. Aku mengarahkan ponselku ke arah Yura sebelum merekam apa yang sedang ia lakukan saat ini.
Beberapa detik pertama ia tidak menyadari apa yang sedang kulakukan. Setelah itu ia menatapku, namun tidak seperti yang aku duga, ia malah berkata, "Tadi kau melarangku untuk membaca buku, sekarang kau malah mendiamkanku dan bermain dengan ponselmu!"
Keningku mengerut sebelum kemudian aku terkekeh, "Ne.." ucapku.
Tatapannya berubah garang, "Taruh ponselmu! Makan sekarang!"
"Ne.." ucapku tanpa berniat untuk menyelesaikan video yang sudah kubuat.
"Sekarang!" Ucapnya dengan nada sedikit lebih tinggi, membuatku akhirnya mengakhiri kegiatan merekam.
Aku tertawa kecil sebelum bertanya, "Apa ada pelajaran yang membuatmu bingung?" Tanyaku.
Kepalanya menggeleng pelan, "Tidak.. mungkin karena aku rajin mengadakan kelompok belajar di sini."
Keningku mengerut, "Kelompok belajar?" Tanyaku.
Ia mengangguk, "Teman-temanku akan datang ke sini setelah itu kami akan sama-sama membahas soal. Jika aku tidak mengerti, Mingyu akan mengajariku. Begitu juga sebaliknya."
"Mingyu?" Alisku saling bertautan ketika melihatnya menganggukkan kepala, "Temanmu itu seorang laki-laki?"
Kepalanya mengangguk.
Entah apa yang membuatku merasa sesuatu mengganjal hatiku membuatku ingin bertanya kepada Yura, namun aku mengurungkan niatku ketika Yura bertanya, "Bagaimana dengan latihan, dan jadwalmu?"
Aku menggedikkan pundakku dan menjawab, "Susah untuk diungkapkan dengan kata-kata. Hyung-nim akan menyita ponsel kami jika kami belum hapal gerakan baru."
Untuk beberapa saat Yura hanya terdiam, sebelum akhirnya ia berkata, "Pasti sangat lelah."
"Ya begitulah."
Yura tersenyum setelah mendengar perkataan dariku. Dan senyumannya membuatku merasa bahwa ia tengah menyemangatiku.
Entahlah, aku benar-benar merindukan senyumannya.
Aku langsung berdiri dan membuat Yura memasang tampang bingung dengan apa yang tengah aku lakukan, kemudian kakiku melangkah mendekatinya.
Kening Yura terlihat berkerut, terlihat semakin bingung, namun tanpa menjelaskan apa yang sedang aku lakukan, aku terus melangkah memutari meja makan untuk mendekatinya.
Ia mendongakkan kepalanya ketika aku telah berdiri tepat di hadapannya. Tanpa menunggu waktu lama, aku menarik tangannya sampai ia berdiri sebelum kemudian kupeluk tubuhnya.
Tubuhnya menegang, dan aku tahu bahwa ia terkejut dan bingung dalam waktu yang bersamaan ketika aku memeluk tubuhnya.
"Aku merindukanmu." Ucapku, setelah itu kurasakan ia membalas pelukanku.
"Aku juga."
Kedua sudut bibirku terangkat, niatku untuk mengatakan sesuatu kuurungkan ketika aku mendengar ponsel Yura berbunyi.
Kami langsung melepaskan pelukan kami, setelah itu Yura langsung mengangkat teleponnya.
"Yeoboseyo.. unnie?"
Unnie?
Apakah yang menelepon adalah Yuri nuna?
"Jinjja?!" Ia menutup mulutnya, dan menatapku dengan mata berbinar.
Yura tersenyum, ia terlihat senang dengan apa yang dikatakan oleh seseorang dari sebrang.
"Baiklah! Aku senang mendengarnya! Aku akan menunggumu!"
Ia mematikan sambungan telepon sebelum kemudian tersenyum lebar ke arahku. Beberapa detik kemudian ia berkata dengan semangat, "Sepupuku akan ke Korea kurang lebih dua bulan lagi!"
"Sepupu?" Tanyaku bingung.
"Ahyoung unnie akan ke Korea!"
Senyumanku perlahan pudar ketika otakku langsung menayakan beberapa hal setelah mendengar perkataan Yura.
Ahyoung?
KAMU SEDANG MEMBACA
It's Not Goodbye
FanficSeorang idol besar bernama Jeon Jungkook, ternyata telah menjalin hubungan dengan seorang gadis selama lebih dari tujuh tahun. Cobaan demi cobaan mulai menerpa hubungan mereka. Mampukah mereka mempertahankan hubungan yang telah berjalan selama lebih...
