"Apaaan Sich.....?" Gerutu Arrisa berjalan mendekat ingin rasanya segera menendang angkuh pria jangkung di depannya, tapi dirinya lebih dulu terhuyung ke depan kala ujung kakinya malah tercekal masuk ke dalam karpet, dan menjungkalkan dirinya begitu saja.
" Kyaaaaaaa "
Aroma mint begitu melekat di hidung Arissa, aroma ini bukanlah seperti pengharum lantai biasanya, iapun makin mengesap dan mengendusnya, aroma yang menyejukkan dan memikatnya, satu tangan kemudian menekukkan dan menjatuhkan dagunya mengenai sesuatu yang membuat Arissa menyadari satu hal dengan begitu cepat. Ia membuka matanya perlahan dan sedikit terkejut kala menyadari posisinya sekarang, di atas tubuh Bastian, dengan dagunya yang kini menempel di pundak Bastian.
"Lebih naik dikit" pinta Bastian.
Arissa tidak mengubrisnya, segera membuang wajah semerah tomatnya mengadah ke langit langit, ia sedikit mengerti maksud Bastian, sedikit naik untuk menggapai leher panjang pria tersebut.
Brakkkk...
Dalam satu kali putaran, posisi berbalik, kini Arissa lah yang terkukung tak berdaya di bawah tubuh Bastian, kedua tangannya berada di atas kepalanya, tercekal kuat tak mampu di gerakkan.
Habislah gue malam ini.. kyaaa
Arissa membantin pasrah, kala lumutan bibir Bastian sudah menjejal langit langit mulut miliknya, hampir saja membuat ia kehabisan nafas, jika tidak meminta Bastian memberikan jeda untuk beristirahat. Ciuman Bastian begitu berbeda rasanya dengan diberikan Tristan.
Sangat Agresif.
"Kenapa...?" tanya Bastian menghentikan lumatannya. Bibir Arissa terlihat sedikit lebih merah dan sedikit bengkak, bahkan ia mengeryitkan dan segera menarik nafas panjang-panjang.
" Mau mati..." keluh Arissa
" Brutal banget sih" kritik Arissa lagi.
Giliran Bastian mengeryitkan keningnya, bukankah kebanyakan wanita menyukai letupan letupan dalam mulutnya , terlalu berhasrat dan terlalu mengingininya segera, itu brutal.
"Kau ingin yang lembut..." manik mata Bastian berhenti tepat pada bagian berbukit kembar milik Arissa.
"Enggak ah.. sudah!! gue mau mandi.." cegah Arrisa yang berusaha bangkit, namun kembali dirinya terhentak ke lantai dingin.
"Stupid girl, ini sudah tengah malam..."
"Loe gila... masa di teras sih.." protes Arrisa, Dressnya bergeser perlahan ke bawah. Buru-buru Arissa menarik dan mempertahankan dressnya agar tetap pada posisi semulanya.
" Tunggu.."
Arissa mencengkram lengan Bastian kuat-kuat.
Bastian tampak menelan ludahnya.
Terasa Hening sesaat.
"Gue... belum... siap" rengek Arissa.
Mata Bastian membulat, jakunnya nampak naik turun, dengan hasrat yang terbakar, ia tidak bisa mengontrol nafsunya. Tidak bisa berhenti begitu saja.
"Tunggu...." cegah Arrisa kembali, matanya sedikit memelas kala Bastian menyelipkan tanggannya di belakang punggung Arrisa, dan meraba-meraba mencari pengait bra miliknya.
"Kenapa? kamu lebih suka, aku robek langsung gitu..." ucap Bastian dengan gemertak hasratnya.
"Eegghh" gumam Arrisa, tapi masa ia harus menolak Bastian, alasanya apa? karena hal ini tidak berdasarkan cinta.
C. I. N. T. A.
"Tunggu dulu..."
"Kau pikir ini Waiting rooms..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Gadis Arisan (On Going)
HumorNo# 2 Romance 14 Mei 2019 Dilarang Copas Cerita akan di Private acak. Jadi follow dulu... Ini cuma Fiksi , maafkan jika ada kesamaan nama yah !!!! Cerita dewasa ???? Harap bijak membaca. ************ "Lu harus Cariiii duitttt buat n...
