#79 Hanya Kamu

3.7K 452 272
                                        

Arissa mendongakan kepalanya. Sedikit tidak terima, akan komentar Bastian.

Pintar sedikit. Hanya sedikit. Apa ia tidak tau, bagaimana Arissa harus usaha keras belajar bahasa inggris di bawah tekanan, tetap tersenyum dan tertawa padahal  tidak ada yang pantas terlihat lucu, semua terlihat menegangkan berbelanja dengan orang yang menabrak There dan menculik dirinya. Apalagi There terdengar sering menghantuinya, setiap saat ia selalu menjadi sangat tegang,

Makin selow, makin keji.

Jika ingat hal ini, Arissa jadi ingat pertama kali berkenalan dengan Bastian. Jika dipikir-pikir, dulu setiap saat Bastian juga sering membuat dirinya tegang. Tapi, mengapa akhirnya ia jatuh menyukai sangat banyak.

Tik..!tik..!!
Jam tangan Dion terasa berisik, detik jarum panjang sudah melewati jarum 12, lebih sepuluh kali. Sepuluh menit, ia sudah menunggu.

Deg!!

Dion menatap dua bayangan orang yang terlihat saling diam. Rasa curiganya mulai muncul, jangan sampai kelinci polosnya itu termakan bujuk rayu Pria bermata biru.

Sial.

"Arissa kembali!" teriak Dion. Tapi hati kecilnya sudah mengolok-ngolok.

Kau terlambat sadar!kelinci sudah keluar dari kandang.

Arissa menoleh ke arah Dion yang terdengar menggertaknya, tapi Bastian sudah berada sangat dekat dengaannya, dan Dion sudah sangat jauh. Orang bodohpun tidak akan kembali kepada orang yang jahat.

Bastian melirik dengan ujung matanya. Pria itu ternyata lebih bodoh dari yang ia kira. Jadi ia hanya kembali menatap seperti jatuh cinta lagi pada Arissa.

"Mau peluk?" Bastian merentangkan tangannya, tanpa sadar dalam hitungan detik, Arissa sudah lari dalam pelukan Bastian. Pria bermata biru ini memiliki magnet yang sangat ketat memikat.

Dion melotot sebentar, seakan tidak percaya apa yang ia lihat. Seakan kali ini, dirinya lah yang bergantian terpanggang di atas bara api. Kini api telah berpindah membakar dirinya. Ternyata gadis bodoh ini, tidak pandai bermain trik, tapi sikap mudah terbujuk dengan mudah, membuat Dion ingin segera pergi mencekiknya sampai mati.

Mendapat pelukan, Bastian segera membawa kembali calon istri dan anaknya masuk ke dalam mobil. Ia hanya memberikan isyarat dengan jarinya yang  memotong leher kepada Thom.

Tuk!! Tuk!!

Kembali suara ketukan terdengar  seragam menyentuh tanah, dan suara derit mobil Bastian yang pergi meninggalkan debu asap tepat di kepala Dion, tentu saja Bastian tidak akan membiarkan pria ini pergi tanpa harus mematahkan kaki tangannya lebih dulu.

***
Setelah mengendarai mobil lebih dari lima belas menit, mereka berhenti tepat di sebuah klinik.

Arissa pergi bingung melihat plang  tanda + bewarna merah, siapa yang terluka? Mengapa harus pergi ke klinik. Ingin bertanya, tapi Bastian lebih dulu melemparkan pertanyaan.

"Apa kau sudah makan?" tanya Bastian dengan nada kwatir.

"Sudah, makan kimchi..."

Mata Bastian masih terlihat cemburu, ia mengejar langsung, "apa pria itu baik padamu?"

Arissa langsung mengangguk setuju, dan menjawab, "he is selow, but he is keji.".

Bastian meledak tertawa, setidaknya lafal pengucapan Arissa, tidak salah, tapi kosakata yang ia angkut, terdengar sangat menggelikan.

"Apa ada yang salah?"

Bastian enggan berdebat, ia hanya menggelengkan kepala. Arissa pun menggigit bibirnya, kali ini ia mengira dirinya cukup sukses. Tetap saja sorot mata  cemburu Bastian tidak surut, ia mengejar langsung dalam satu kalimat.

"Lain kali, aku yang akan pergi mengajarimu, hmmm... yang pasti, aku bisa lebih berkali-kali sabar dari dia."

Arissa berbalik dengan tatapan mata kelinci yang bertemu wortel, isi mulut pria ini, terdengar lebih manis dari segala ungkapan cinta manapun. Arissa ingin berkata sesuatu, namun Bastian sudah mencium bibirnya lebih dulu, walau hanya sebentar. Tapi itu terasa sangat menyenangkan.

Satu tangan Bastian tidak lupa menarik kalung yang melingkar di leher Arissa,  membuka kaca mobil, dan Arissa segera mencegah, "jangan dibuang!"

"Aku bisa menggantinya lebih baik dan yang lebih banyak."

Arissa berpikir sebentar, dan tetap membuka tangan agar Bastian memberikan kalung tersebut, "tetap saja ceritanya berbeda, kalung ini bisa jadi kenangan-kenangan dari tuan penculik."

"Ehm.."
Bastian tersedak sebentar, namun akhirnya menjatuhkan kalung di tangan Arissa. Arissa dengan cepat menyimpan kalung tersebut dalam dashboard mobil.

Jika ini Andra, mungkin saat itu ia akan cemburu dan marah besar. Walau Andra memohon, ia tidak akan pergi memberikannya. Tapi Arissa, mengambil dan menyimpan sesuatu bukan karena dasar ia menyukai seseorang, namun karena menghargai cerita di balik benda itu. Bagi Bastian, Arissa dan Andra, sangat jelas perbedaannya. Arissa tidak akan pernah berani menipunya. Oleh itu, ia sangat mudah jatuh cinta pada kepolosan Arissa.  Sangat sulit menemukan gadis seperti ini. Lucu dan tidak pandai bermain trik.

"Bastian, mengapa kita ke sini?" Arissa segera bertanya, dan memeriksa Bastian. Pria ini terlihat baik-baik saja.

"Kita pergi memeriksa bayi dalam perut,"jawab  Bastian terlihat jelas sangat kuatir, ia takut Arissa cukup trauma hari ini, dan juga mempengaruhi perkembangan janin dalam perutnya.

Arissa melotot sebentar, apa ia tidak salah dengar? Bastian mengajaknya memeriksa bayi. Bayi dalam perut. Perut siapa? Dalam hitungan detik, cuka Arissa segera tumpah. Ia teringat gadis itu juga tengah hamil. Jangan-jangan pria ini pergi membawanya melihat proses pemeriksaan isi perut Dira.

"Aku tidak turun. Kau periksa sendiri saja!"

Alis Bastian merengut sebentar, cukup satu putaran jarum panjang kembali ke angka dua belas, membuat Bastian mengerti, pasti Arissa termakan cuka orang lain, "yang hamil kan kamu, nggak ada wanita lain kok."

Arisaa tidak percaya, lantas menyebut satu nama wanita dengan nada jijik, "Dira..buktinya--"

Arissa segera membuang wajah. Berlaku mahal. Entahlah sejak kapan, ia mulai bertingkah seperti ini. Arissa benar-benar lupa, jika ia marah, sepertinya pria bermata biru ini tidak akan pergi menindasnya. Oleh itu, ia mulai berani dan sangat berani memasang wajah angkuh dan jahat.

Bastian memijit alisnya sebentar, sambil  memikirkan satu kalimat yang bisa menyelesaikan  siraman cuka panjang ini, "Dira itu tidak hamil, tapi ia busung lapar kasih sayang saya. Jadi ia mengarang cerita,  agar seperti di sinetron, tokoh wanitanya marah-marah mulu pada tokoh prianya."

Arissa "...."

Mendengar satu penjelasan itu, Arisaa langsung berbalik, kecurigaan benar runtuh seketika, ia pergi memeluk Bastian, "kenapa aku nggak kepikiran kesitu yah?" keluh Arissa pada Bastian.

Bastian tersenyum sendiri, satu kalimat saja sudah cukup. Tidak perlu banyak adegan-adegan mengemis dalam novel atau drama. Arissa, bukan gadis yang selalu menjaga gengsi dan tarik ulur, dan bermuka dua.

"Lain kali nonton Drama Korea aja, belajar lebih banyak, biar kamu tau ngatasi calon-calon pelakor,"bisik Bastian penuh hasutan, tanpa sadar Arissa merasa di penuhi sugesti akan kalimat Bastian, mengangguk setuju.

"Jadi yang hamil, itu aku?"

"Tentu."

"Kamu--"

"Saya hanya suka kamu!" potong Bastian yang memperkat pelukannya, dan satu gigitan kecil naik mencubit daun telinga Arissa dan membisik, "saya hanya menyentuh kamu."

Arissa kehabisan kata-kata kali ini. Satu kalimat terakhir Bastian, cukup mencabut akar masalah di antara mereka.

"Tidak ada Dira, tidak ada wanita lain. Hanya kamu. Kamu harus ingat hal itu. Jangan mudah terhasut."

***

Ns. Yuk semngat votement buat Part ini 🤭 pengen bikin Bastian ribut dengan Arissa, tapi malah jadi panjang episode, si samaikan dulu deh cepet2.. Br urus 3 tokoh antogonis tersisa , 🤭

Gadis Arisan (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang