Tom pamit diri keluar dari ruangan Bastian, Bastian yang awalnya membungkam mulutnya. Kini mengerang kesal. Iapun menyerakan apa saja yang berada di atas mejanya, ia meluap marah ketika membuka acak sebuah buku usang bewarna ungu.
Diary Andra.
Menyesakkan untuk ia baca. Bagaimana sakitnya ia ketika membaca tulisan tangan Andra yang tergila-gila pada Tristan. Bukan Tristan yang memulai, namun Andra yang belajar mengkhianatinya duluan.
"Andra kau dimana, aku akan mencarimu untuk menghukummu" Geram Bastian yang kemudian menutup buku Diary Andra. Ia merasa belum siap untuk membaca seutuhnya dari awal sampai akhir perasaan yang di gores gores dengan tinta oleh Andra.
Ia menghela nafas panjangnya, dan hanya menatap sampul tersebut. Pasti banyak air mata yang ditulis Andra ketika bersamanya.
Andra..
Untuk pertama kalinya Bastian memiliki seorang teman, kala Ayah dan ibunya mengadopsi seorang gadis kecil untuk menemaninya dan mengajarkan berkomunikasi, karena Bastian kecil mengalami, autism spectrum dosorder yang selalu menyukai kesendirian dan suka melakukan aktivitas yang melukai diri sendiri ataupun orang lain secara berulang ulang, namun ia memiliki kecerdasan tinggi jauh di atas anak-anak seusianya.
"Andra, apa kamu nggak pernah bisa maaafkan aku.." isak Bastian perih mengiris luka lamanya, bagaimana ia menyayangi Andra namun malah memperlakukannya dengan buruk, bahkan tangisan Andra kini menggema di telinganya.
Jika malam itu ia menahan diri, Andra tidak akan pergi. Namun malam itu ia tidak bisa menguasai dirinya. Ia menginginkan Andra sebagai seorang pria yang menerima dan memberi sentuhan kepada orang yang ia sukai. Hanya saja Andra menolak, karena ia menyukai orang lain.
Bastian mengerang atas penolakan Andra, dan ia melakukan kejahatan terhadap Andra. Dengan kejinya Bastian mengoyak gaun tidur gadis itu, menciumi, meremas dan menindih dan melakukan penyatuan berkali -kali. Bukan hanya sekali. Ia melakukan setiap saat jika ia ingin. Setiap ia merasakan aroma tubuh Andra melintasi di kepalanya, maka ia akan mencari dan menemukannya, jika gadis itu menolak dan menghindarnya ia tak segan untuk menculiknya hanya untuk memuaskan hasratnya.
**********************
"Dono..... Bangun Don..." Usik temannya setelah berhasil mendobrak pintu dan menemukan Dono, tak sadarkan diri.
"Dimas, ambil air, cipratin ke dono..biar cepat bangun..." Seru teman Dono yang badanya paling besar.
Pria yang bernama Dimas memutar-mutar lehernya, ia nampak teler karena pengaruh alkohol.
"Air... Yah..waitttt" ranyau Dimas berdiri dengan sempoyongan, menurunkan reseletingnya dan mengeluarkan air kencingnya dan menjatuhkan tepat ke wajah dono.
Tak lama...
Dono menggeleng segar ketika wajahnya seperti diguyur air hujan namun berbau pesing dan terasa asin dan kecut ketika tanpa sengaja lidahnya mengelap air yang jatuh membasahi bibirnya.
"Apaan sih ini..." Erang Dono terbangun kesal.
Ia menatap Dimas yang berdiri sempoyongan sedang memperbaiki celananya yang terlihat melorot.
"Bangsatttt" teking Dono marah,segera ia bangkit berdiri namun merasakan onderdilnya masih terasa nyilu, dan iapun mengamati dirinya tanpa busana hanya bersisakan sepak segitiga. Ia kesal karena mengingat gadis tersebut telah menendang milik yang paling beharga.
"Mana cewek sialan itu, Jul" ringis Dono yang berdiri setegak mungkin bertanya pada Jul yang badannya paling kecil.
"Kabur dari jendela bos..."jawab Jul seraya menunjuk jendela yang pecah tersebut.
"Kenapa kalian masih di sini, cari !!! Tolol.." sumbar Dono yang seraya mendorong jidat Dimas, tidak lama Dimas terlihat bergoyang limbung ke belakang dan perlahan terkulai ke lantai karena pengaruh alkohol.
"Lepasin baju Dimas..." Perintah Dono, Jul segera menaati perintah Bos nya.
"Dek cari arah sana, gue ke arah belakang, dan Jul cari ke sana. Siapapun yang ketemu duluan, langsung habisin aja dia....Bunuh" komando Dono kejam.
"Kalau dalam tiga puluh kita nggak ketemu, kita cepat tinggalkan tempat ini.." peringat Dono pada temannya.
"Dimas bagaimana?" Tanya Jul yang melihat Dimas terlantar tak berdaya di lantai, karena teler.
"Biarin aja dia disini..sapa sutuh kencingin muka gue" geram Dono.
Mereka pun berpecar keluar dari ruangan tersebut dengan berbekal senter yang mengeluarkan cahaya bulat kecil yang nampak bergerak acak ke sana kemari.
Arissa merangkul kakinya, ia menghela nafasnya panjang. Sedari tadi ia hanya bersembunyi di sudut tumpukan kursi dan meja yang tersusun tinggi. Sedari tadi ia menahan perih luka di tumit dan telapak tanganya, ketika ia berusaha mencoba melompati jendela tersebut, pecahan tersisa di kusen jendela malah menggores tubuhnya. Sedangkan gedoran pintu makin terdengar kuat, ia pun membuang pakaian Dono keluar jendela untuk mengelabui, seakan ia telah berhasil melompat dan kabur.
Kriukkk...
Arissa mengelus perutnya yang keroncongan, tanpa ia sadari iapun sedang menyapa janin kecil di dalam perutnya yang masih berbentuk sangat kecil dan terlihat berenang-renang kesana kemari.
Arissa menangis dalam hening, sebisa mungkin ia menangis tanpa suara. Sekali matanya menatap pintu, berharap penolong dirinya yang berdiri di ambang pintu, namun tidak ada satupun yang datang.
Ia merengkuh lebih dalam kakinya yang perih, setidaknya dalam hitungan jam. Matahari akan terbit, dan ia akan mudah terlihat dalam persembunyiannya. Iapun memutuskan mengendap keluar dan berharap tidak menemukan tiga penjahat yang lainnya.
Arissa berjalan merangkak dengan pelan, tertatih-tatih menahan perih luka yang ternganga. Iapun harus membawa luka-luka itu bergores dan bergesek di lantai. Ia melewati pria yang terlihat terlelap tersebut, melewati dengan hati-hati.
"Hehhhh...." Ranyau pria tersebut. Pergelangan kaki Arissa tertangkap oleh Dimas yang terlihat setengah sadar.
Arissa menahan nafasnya, dan berdoa memanggil Tuhan. Berkali-kali ia memyebut Tuhan dalam hatinya.
"Ketangkap loe..." Ranyau Dimas, membuat Arissa terperanjat ketakutan, namun tak lama mata Dimas terlihat makin meredup, dan cengkraman Dimas mulai melonggar. Pengaruh Alkohol membuat ia kini terkulai lemas dan mengantuk berat.
****************
Tristan dengan motor gedenya menyusuri jalan sepi. Berkali-kali ia dan motornya terlihat mondar-mandir, masuk gang satu dan keluar gang ke dua dan seterusnya. Maps yang terhubung dengan Arissa kehilangan sinyal, karena ponsel Arissa tidak aktif. Berbekal hanya dengan lokasi tautan terakhir yang sempat terekam di otaknya lah Trisyan mencari Arissa.
Nihil.
Tristanpun memarkirkan motornya, ia membuka ponselnya, dan melakukan pelacakan kembali berdasarkan nomor ponsel Arissa.
Jarum radar pelacakan bergerak terus berputar cepat, dan hasilnya kembali tidak ditemukan.
Nihil.
Pelacakan sia-sia, karena ponsel Arissa tidak aktif.
Perlahan Ttistan kembali membaca history maps jejak-jejak daerah yang Arissa lewati.
************
Author note :
Part ini masih bersambung yah....karena thor lagi ada kerjaan...makanya terlmabat..seharusnya senin..tp thor lupa...maaf yah :)
Tristan atau Bastian yang ketemu duluan ama Arissa?
KAMU SEDANG MEMBACA
Gadis Arisan (On Going)
HumorNo# 2 Romance 14 Mei 2019 Dilarang Copas Cerita akan di Private acak. Jadi follow dulu... Ini cuma Fiksi , maafkan jika ada kesamaan nama yah !!!! Cerita dewasa ???? Harap bijak membaca. ************ "Lu harus Cariiii duitttt buat n...
