#68 Curiga Hamil

3.8K 409 267
                                        

Dira membungkuk membuang makanan ke bak sampah. Sekarang ia benar-benar kehilangan nafsu makannya.

Ia beranjak naik ke tempat tidur, membuka ponsel. Ada bebrapa chat masuk dari Leo. Lantas ia cepat membukanya.

Gue mau ngatur  kecelakaan
jadi loe harus bareng Arissa
Biar hal ini nggak menaruh kecurigaan
Setidaknya loe juga harus luka..

Dira berpikir liar seketika. Kematian Arissa dan bayinya, hal itu yang paling ia inginkan. Tetapi ia harus memastikan, bahwa Bastian tidak ada dalam rumah. Baru menjalankan rencananya.

Ia harus pergi menanyakan Bastian. Tapi menelepon Bastian semalam ini. Hal ini tidak baik.

Menunggu pagi. Ia tidak sabar menunggu pagi.

*****
Arissa kembali ke kamarnya setelah makan dengan kenyang.  Tanpa sadar ia  memegang perutnya sendiri yang terasa lebih tebal dan sedikit bulat dari biasanya.

Memandang cermin,ia ingin memeriksa perubahan badannya. Apa ia bertambah gendut, hanya di perut saja. Ia menaikkan piyama sedikit ke atas. Menonton perutnya di cermin. Kencang dan bulat menonjol.

"Kok kaya busung lapar. Apa gue kembung?" Koment Arissa pada dirinya sendiri. Ngeri sendiri.  Menggelengkan kepalanya segera mungkin. Makanan yang di sediakan di rumah Bastian selalu bergizi, dan ia tidak pernah absen makan kecuali saat itu, ketika hari ia di tagih utang.

Jaga bayi kita...

Kalimat Bastian kembali seakan membisiki Arissa. Arissa segera tunduk memeriksa perutnya sendiri.

"Jangan-jangan benaran lagi, kata Bastian" Curiga Arissa menjadi lebih antusias memegang perutnya, membayangkan seorang bayi perempuan kecil berwajah bule  seperti dalam mimpinya, kini berada dalam perutnya.

"Biasanya kalau mimpi kan bisa jadi kenyataan" Yakin Arissa kemudian. Arissa berpikir akan memeriksa dirinya besok pagi.

Arissa naik ke ranjang. Mengambil ponsel, berinisiatif menghubungi Bastian. Karena ia ingin tau mengapa Bastian belum pulang-pulang, apa benar ia di tahan di kantor polisi.

Tuttttsss....

Panggilan panjang tidak terangkat.

Tutsss...

Kini panggilan tersambung. Namun bukan hanya suara Bastian yang terdengar. Suara yang tidak asing ini. Arissa segera mengenali. Suara Tristan.

"Lepasi Arissa. Lepasin Arissa. Loe nggak pantas ama dia. Loe brensek, loe psikopat" Erang Tristan terdengar memaki.

"Emang siapa kamu ? Kamu yang brensek. Kamu kira aku tidak tau siapa di balik Andra semua... Kamu...kamu" Tajam Bastian

Brakkkk...

Suara hantaman terdengar keras. Arissa segera mematikan ponsel. Ia takut.

Genggaman tangan Arissa pada ponsel menjadi bergetar.

Arissa, loe jangan lupa. Pria yang loe pegang, pria brensek

Peringatan keras Tristan jatuh membisiki telinganya. Membuat dirinya gelisah dan takut seketika. Tapi bagaimana dengan perutnya, jika ia harus pergi? Ia belum pergi memeriksanya sendiri. Ia harus tau, apakah ia hamil atau tidak? Bagaimana jika ia hamil, apa Bastian akan sekejam itu.

Terus berpikir. Tetap buntu. Kembali buntu.

Tidak menemukan ide satupun. Arissa memutuskan menghubungi There.

"Nomor yang anda tuju, sedang di alihkan"

Menunggu beberapa detik, dan panggilan itu tersambung kemudian. Arissa menarik nafas leganya.

Gadis Arisan (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang