#82 Melamar Andien (1)

3K 259 141
                                        

Andien membuka matanya, kini matanya terlihat lebih segar, tidak mudah terkantuk seperti sebelumnya.

Setelah pertama kali ia bangun dari masa koma-nya, di rumah Leo. Ia terus mengantuk dan tidur panjang, entah apa yang di masukan oleh pria itu dalam makan minumnya.

Setelah memiliki kesadaran yang sangat sehat.

Mata Andien berputar sebentar meneliti semua isi ruangan. Tampak bukan apartemen Leo. Sejak kapan ia pindah kemari? ia tidak tau tempat apa ini. Kamar ini terlihat mewah dalam satu penampilan, dan di luar jendela tampak jelas kolam renang besar, dan sisi-sisinya taman yang sangat hijau. Terasa sangat familiar, namun Andien tidak bisa mengingatnya.

Kreet...

Pintu kamar mandi terbuka.

Sosok seorang pria dengan tubuh tegap dan pinggang yang ramping keluar di balut handuk mulai dari pinggang.

Sosok yang tidak asing. Sosok yang paling dicintai Andien.

"Tristan..."

Tristan tersenyum, duduk ke sisi ranjang, mendekati Andien. Memberikan kecupan di keningnya, "pagi, sayang."

Satu tangan Tristanpun pergi mengelus perut Andien, dan membisik seakan sindiran itu sangat tersembunyi di benak Tristan, "pagi, beby."

Andien terkesiap akan sapaan terakhir. Anak dalam perutnya, sudah tidak ada. Itu karena Dira, jadi ia hanya berlakon bahwa anak itu masih ada di sana, "pagi, daddy.."

Tristan memeluk, namun sorot matanya terlihat sangat membenci kemunafikan Andien. Anak? bukankah anak itu, sudsh tidak ada.

Berlakon menipu setiap saat. Tristan malu akan dirinya sendiri, seakan baru menyadari hal ini. Ia memeluk ular yang sangat mengerikan. Jika bukan karena bantuan DION yang terbiasa melacak orang hilang, ia tidak akan pernah mengetahui Andien bersembunyi di sana.

Walau hal ini mengejutkan. Andien telah mengalami koma yang cukup membuat dirinya prihatin, namun ketidaksetiaan Andien mampu menutup rasa prihatin, dan mengubah dirinya menjadi jijik dalam semalam. Apalagi ia tidak jelas siapa ayah yang dikandung Andien. Untung saja anak itu telah hilang begitu saja. Sepertinya Tuhan pun tidak setuju akan kelahiran anak tersebut.

Andien mendekat memeluknya lebih ketat, bibirnya menempel menggigit kecil kulit leher Tristan, seakan meminta pria ini melakukan sesuatu di pagi hari, lagi pula ia harus mengisi ulang, isi perut dengan anak yang sudah dipastikan, anak itu milik Tristan.

Tristan sudah kehilangan minatnya. Menarik mundur diri secara perlahan, "cepat mandi, ada sesuatu untuk kamu."

Andien menatap punggung Tristan yang menjauh tengah memilih pakaiannya. Ada sesuatu yang aneh dari Tristan, Andien sangat sensitif terhatif detail mimik Tristan yang terlihat menyembunyikan sesuatu.

Malas berpikir curiga, Andien sedang tidak ingin mengganggu suasana pagi ini, ia masuk kamar mandi. Pantulan tubuhnya terlihat sangat kurus, tiba saja ia mengira Tristan kehilangan minatnya, karena tulang terlihat sangat menonjol.

Dira. Hal ini karena Dira. Kehilangan anak yang diharapkan Tristan, dan juga membuat Tristan kehilangan minat untuk dirinya.

Belum saja ia masuk akan ke bak mandi, ia merasa ada sesuatu yang janggal. Mengapa sepagi ini, ia bersama Tristan? Apakah Tristan mengetahui sesuatu antara dirinya dan Leo. Kali ini, Andien akan bertindak mencari Leo lebih dulu, daripada mengacaukan hati Tristan.

Keluar dari kamar mandi. Tristan sudah menghilang dari kamar. Andien berpikir sebntar, untuk menghubungi Leo. Untung ponselnya dibiarkan Tristan berada di atas meja.

Gadis Arisan (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang