Arissa merangkul erat perut Tristan, dan kepalanya jatuh lunglai bersandar di punggung Tristan.
Angin meniup terbang rambut Arissa ke sana kemari, bisingnya motor Tristan bahkan tidak mampu mengusik tidurnya sama sekali. Tristan bahkan harus menjulurkan tangannya menahan tubuh Arissa. Takut Arissa yang tertidur itu akan jatuh dari boncengannya.
Sepanjang perjalanan, Tristan membonceng Arissa dengan terus bersiul-siul. Umurnya saat ini memang tidak semuda anak SMA lagi, tapi senangnya hatinya persis anak-anak sekolahan yang baru merasakan pacaran. Sudah lama sekali, ia tak merasakan moment seperti ini. Berboncengan dan di peluk.
Selain Arissa, hanya Andien yang pernah ia bonceng. Dulu sekali. Saat-saat awal Andien berkencan dengannya, tanpa ragu Andien naik di motor buntutnya, memeluknya dari belakang dan bersandar dipunggungnya. Hanya saat-saat itulah Tristan merasakan bahagianya berpacaran dengan Andien, primadona di sekolahnya. Sayang, sekarang Andien banyak berubah.
Motor Tristan berhenti di halaman rumah minimalis miliknya, perlahan ia turunkan standar samping motornya, kemudian mematikan mesin motornya, melepas helmnya.
"Sa.." Tristan membangunkan Arissa dan punggungnya sengaja ia guncangkan agar Arissa terusik.
"Hmmmm...." Gumam Arissa, silau matahari pagi yang terik membuat Arissa berkali-kali mengerjapkan matanya. Namun kala telapak tangan Tristan menaungi kelopak matanya,Arissa kembali memejamkan matanya. Tristan membiarkan Arissa kembali tertidur di pundaknya, tangannya yang kekar memayungi kelopak mata Arissa, menghalau terik pagi.
Tristan berguman pada dirinya sendiri, sekarang ia memiliki rasa kasihan dengan gadis ini. Awalnya ia merayu dan menggoda Arissa hanya untuk memenuhi kepentingan penyelidikan prostitusi di kalangan pejabat, bahkan ia rela mempertaruhkan uangnya hanya untuk menyelamatkan keperawanan gadis tersebut. Tapi apalah dayanya, tidak semua kehidupan orang lain mampu ia selamatkan. Termasuk Andra.
Andra hilang bagaikan misteri, dan ia masih mengelak untuk mengakui mmisteri ini berkaitan erat dengan Andien. Sebagaimanapun ia masih banyak cinta untuk Andien,dan sekarang ia akan membiarkan rasa cintanya perlahan terkikis, ketika ia mulai memutuskan membuka pintu hatinya selebar mungkin untuk Arissa.
Arissaaaa...
"Kamu itu lucu" bisik Tristan di pucuk kepala Arissa.
Ia tidak pernah mengatakan cinta yang tulus selain kepada Andien, namun ungkapan untuk Arissq kali ini sudah cukup mewakili hatinya yang selalu kosong, sehingga tertawapun akan sangat susah. Bayangan Andra dan Andien selalu bertukar tempat mengisi otaknya dan menekan perasaannya. Rasa cemburu Andien membuat ia sering muak. Rasa kasihannya pada Andra, membuat ia sering bersedih.
" Tan...." Arissa terusik bangun mengucek matanya.
" Hmmm..." Gumam Tristan dengan alisnya menukik ke atas.
"Emang gue badut yah?" Tanya Arissa terdengar jengah, karena sering dikatakan lucu. Tristan menoleh pada sang empunya suara. Ia terkekeh tak berdaya kala Arissa menyeringai marah. Ketika marahpun terlihat lucu, walaupun sekarang ia terlihat sangat berantakan.
"Baby gemes" cubit Tristan membuat Arissa melotot.
Guk...guk...guk...gukk....
Lolong anjing Doberman miliknya, Tristan mendengar rintihan anjingnya segera berlari meninggalkan Arissa. Benar saja Anjingnya tergeletak sekarat di lantai, dan ia masih bertahan untuk hidup. Tristan membawa anjing dalam pelukannya.
"Bon..." Sebut Tristan memanggil anjingnya terlihat sekarat. Darah segar anjingnya kini masih melekat ke tangan Tristan. Bon perlahan terkulai lemas dan memejamkan matanya,satu titik air mata Tristan jatuh ke wajah Bon bersamaan hilangnya denyut nadi Bon. Bon akhirnya menghembuskan sisa nafas terakhirnya setelah ia bisa melihat wajah majikannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gadis Arisan (On Going)
HumorNo# 2 Romance 14 Mei 2019 Dilarang Copas Cerita akan di Private acak. Jadi follow dulu... Ini cuma Fiksi , maafkan jika ada kesamaan nama yah !!!! Cerita dewasa ???? Harap bijak membaca. ************ "Lu harus Cariiii duitttt buat n...
