Tristan menabrak jatuh keningnya pada setir pengemudi.
Titttttt.....tittttttt......
Suara klakson terdengar beruntut menembus derasnya suara hujan. Andien yang baru saja merangkak ke atas tempat tidurnya, kini berlari keluar jendela, ingin memaki sang pemilik mobil. Kembali ia urungkan, yang bergaduh separut ini ternyata mobil Tristan
Ini bukan kebiasaan Tristan seperti biasanya. Biasanya Tristan akan masuk kerumahnya tanpa harus mengetuk. Kini pria itu hanya berada dalam mobil dan membunyikan klakson berkali-kali untuk memanggil dirinya. Sangat Aneh.
Andien bergegas menuruni tangga, mengambil jaket dan payung dari balik pintu. Ia segera belari menerobos hujan, dan payung dibiarkan terbang begitu saja ketika ia melesat masuk ke dalam mobil.
Bau alkohol...
Memenuhi udara dalam mobil. Dengan ekspresi pura-pura kesal, Andien mulai mencubit pinggang Tristan.
"Loe mabuk Tan..." Tuding Andien langsung, dengan mata berat yang terangkat perlahan, menoleh ke Andien. Matanya terlihat merah dan sedikit berair, Andien terperangah kaget.
"Loe kenapa?" Andien menarik leher Tristan maju dan jatuh ke dadanya. Isak Tristan memecah dan meringis. Andien terhenyak. Untuk pertama kalinya, ia merasakan kesedihan Tristan yang memuncak, Andien hanya menggigit bibirnya. Duduk dalam ke ambiguannya, ia berharap kesedihan Tristan tidak ada hubungannya dengan dirinya. Ia tak pernah berharap melukai Tristan. Apalagi membuat Trisan terlihat cengeng seperti ini.
"Tan...." Bisik Andien, tangannya jatuh di atas punggung Tristan dan begerak naik turun membelai. Isak yang tertahan perlahan menghilang, kini punggung Tristan bergerak menepi dan kemudian kembali bersandar ke bangku pengemudi.
"Kita putus Dien .."
Putus. Andien merasa ada sesuatu yang ia salah dengar.
"Loe ngomong apa sih..kecil banget suara loe ?"
Andien memasang telinganya kembali. Tangannya meraih pergelangan Tristan, mata Tristan jatuh melirik ke bawah. Tangan Andien terasa hangat menggegam kedinginannya malam ini.
Pletakk .
"Gue pengen kita berakhir" ulang Tristan lebih keras dan Andien segera membungkam telinganya sejenak. Sedikit awal kemudian ia malah tertawa renyah dan kemudian terbahak-bahak seakan yang ia dengar barusan, adalah lelucon yang paling garing. Tristan sedang bercanda. Ini pertama kalinya Tristan mengeluarkan kata putusnya, tidak sesering Andien yang selalu mengatakan putus untuk ancamannya dan tidak lama Tristan akan berbalik membujuknya kembali.
"Lucu banget sih loe..."tepis Andien setelah ia terbahak-bahak, kini ia harus menyembunyikan air matanya.
Tristan menarik telapak tangan Andiem, menarik keras kalung yang melingkar di lehernya.
"Gue nggak bisa memegang janji gur. Gue balikin .."
Andien menggegam kalung tersebut. Kini ia kembali tertawa. Konyol. Kalung yang selalu bersama Tristan hampir Sepuluh tahun, kini kembali berada di tangannya.
"Alasannya..." Gumam Andien dengan nada remehnya. Ia tidak terlihat kecewa maupun sedih. Ia berhasil menyembunyikan dengan baik. Namun tangan lainnya mengepal dan pikirannya menunjuk satu nama. ARISSA. Mengingat kejahatan yany barusan ia lakukan.
Hening. Hanya suara hujan yang terdengar mengusik sebentar sebelum Tristan mengeluarkan kata-katanya.
"Karena loe nggak pernah percaya gue, dedikasi cinta gue itu semua buat elo. Kenapa loe nggak pernah percaya.."
KAMU SEDANG MEMBACA
Gadis Arisan (On Going)
HumorNo# 2 Romance 14 Mei 2019 Dilarang Copas Cerita akan di Private acak. Jadi follow dulu... Ini cuma Fiksi , maafkan jika ada kesamaan nama yah !!!! Cerita dewasa ???? Harap bijak membaca. ************ "Lu harus Cariiii duitttt buat n...
