Bastian tengah memasukan tangannya ke dalam saku celana. Menggengam erat kecemasan dalam saku celana, dengan wajah yang biasa terlihat datar tanpa ekspresi, kini jelas menjadi sangat kacau dan serius mengamati Dokter yang tengah memeriksa Arissa.
Cemas. Bukan hanya untuk Arissa. Namun untuk anaknya sendiri. Tentu saja, itu anaknya. Tidak ada yang lewat dari pengintaiannya selama ini. Arissa tentu saja hanya pernah bersamanya. Bastian jatuh dalam kesedihan, tiba-tiba mengingat ia pernah menjahati Arissa di tengah ia mengandung anaknya sendiri. Diam-diam ia mengutuki dirinya sendiri dan kebodohan Arissa. Bagaimana bisa gadis ini tidak menyadari dirinya tengah mengandung.
Pregnant not penat..
Bastian menggeleng kepalanya, kembali ke dirinya sendiri dan melihat Mila baru saja meneyelsaikan pemeriksaannya.
"Bagaimana, Mil ?" Tanya Bastian cepat, wajah panik tercetak jelas.
Mila, Sang dokter tidak langsung menjawab. Hampir saja ia tertawa, karena ini pertama kalinya ia melihat ekspresi Bastian tidak sedatar dan setenang biasanya. Ia hampir mengira Bastian hanyalah patung hidup.
Geli. Mila merasa geli. Jelas membuat Bastian menjadi tidak senang.
"Mil, ada apa ?" Bastian mengerut alis tidak senang melihat sepupunya terlihat mengejek kecemasannya.
"Amarga aku kaget ndeleng pasarean sepuhku, mula dheweke bisa kuwatir banget. Aku panginten sampeyan minangka patung ing wektu iki (1)" Kritik Mila seraya mengemas semua perkakas kembali ke dalam tas-nya.
"Mila..." Nada amarah terdengar tertahan di tenggorokan Bastian, Mila terlihat santai dan tidak menjelaskan kondisi Arissa padanya. Sedangkan Arissa terlihat terus terlelap sedari tadi. Belum bangun.
"Mila... Bagaimana keadaannya" Singgung Bastian berusaha masih sabar. Hampir saja ia ingin mencekik Mila jika mengabaikan kali ini.
"Apa napa? pacare mung kaliren. Dheweke ambruk saka keluwen. weteng kosong. Ora ana penyakit sing serius.(2) " Jawab Mila membuat kerut Bastian terlihat jelas.
"Dia pingsan karena lapar? Itu saja. Bukan ada sesuatu yang lain"
Mila hanya memberi anggukan,dan kemudian menambahkan.
" Mungkin dia banyak pikiran,
ayo padha kawin karo dheweke, wis ana anak ing weteng pacar. Mungkin dheweke merajuk, amarga sampeyan durung nikah, dadi dheweke mogok keluwen."sindir Mila membuat wajah keras Bastian terlihat melunak salah tingkah kemudian.
Menikah...
Hal itu belum pernah terlintas sama sekali di benak Bastian. Matanya tetap jatuh pada Arissa kemudian janin di balik perut yang masih terlihat rata. Gadis ini jatuh pingsan karena tidak makan.
Konyol...dia pingsan karena kelaparan.. Arissa kamu....
Gelut Bastian kemudian mulai mencari penyebab Arissa kehilangan nafsu makan.
Stress? Bukan kah hubungan kita baik-baik saja. Makanan tidak enak? Atau tagihan hutang ...
Bastian memijat keningnya. Karena hutang atau koki di rumah yang menjadi penyebabnya? Sehingga Membuat Arissa pingsan menahan lapar, atau lebih tepat ia telah melupakan waktu makan.
Terus berpikir akan dua hal kemungkinan penyebab Arissa pingsan, Bastian bahkan mengabaikan Mila yang tengah berpamit kepadanya.
Perut kosong. Lapar..
Bastian segera mengingat dan menghubungi Thom, dan meminta koki di rumah mereka di pecat segera. Bagaimana bisa Arissa tidak berminat makan?
"Beli makanan kesukaan Arissa sekarang. Cari malam ini juga" Perintah Bastian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gadis Arisan (On Going)
HumorNo# 2 Romance 14 Mei 2019 Dilarang Copas Cerita akan di Private acak. Jadi follow dulu... Ini cuma Fiksi , maafkan jika ada kesamaan nama yah !!!! Cerita dewasa ???? Harap bijak membaca. ************ "Lu harus Cariiii duitttt buat n...
