#71 Tabrakan

2.8K 373 345
                                        

"Ca, loe marah kenapa sich?"
Arissa diam. Tidak menjawab, hanya nafasnya terdengar mendengkus kesal dan tidak beraturan, tiap ritmenya sangat tidak beraturan. Sedih dan jengkel, apa perlu dipertanyakan lagi?

There menarik tangan Arissa, membuka telapak tangan, meletakan kunci di tangan Arissa, "loe cemburu gara-gara gue pegang kunci rumah ini? ambil nih,"

Arissa membuang kunci ke tanah, berteriak seperti anak kecil ke tengah jalan, "gue nggak sudi!"

There berlari mengejar, menangkap Arissa dengan cepat. Untung ini jalanan komplek, bukan jalan raya, jadi relatif sepi untuk kalangan rumah elit seperti ini.

Hiks..hikss..
Sedu Arissa, wajahnya penuh air mata, tetapi bukannya menuai prihatin, namun rasa konyol yang membuat There ingin meledak dalam tawa, "dengerin gue dulu deh, loe kaya anak kecil yang sok nakal hari nih, lucu tau."

Arissa membanting tangan There, "lepasin gue, pelakor!"

There tercengang, setengah ingin menangis. Ketika sebutan tidak sesuai kelakuan, jangankan merebut Bastian, mendapat senyum pria itu saja, sangat sulit. Miris buat satu julukan yang belum tercapai, pelakor gagal misi.

Arissa membanting lagi, There lebih kuat sedikit dari Arissa, jadi cengkraman yang kuat tetap bertahan, "kenapa loe cemburu sama gue? kenapa loe nggak cemburu sama pak satpam aja, dia juga pegang semua kunci, nggak cuma satu lagi, dan semua itu dari Bastian !"

Deg.

Semua pikiran kacau Arissa teralihkan. Apa yang di ucapkan There, terasa sangat benar. Mengapa harus perhitungan dengan There yang cuma pegang satu kunci, Pak Satpam kan lebih banyak, satu analisa menjetik pikiran Arisa begitu saja, ia lantas membantah langsung, "beda lah, loe cewek, pak satpam kan laki-laki!"

There tersedak, kehabisan kata-kata . Keajaiban, Arissa bisa menyanggah dengan cepat, kurang dari lima detik untuk mikir. Belum saja ia akan menjelaskan kembali, sebuah mobil terlihat aneh. Kecepatannya seperti tak terkendali, tidak terlihat untuk ke kiri, ataupun ke kanan. Mobil itu terlihat seperti mengincar dirinya dan Arissa.

Berkedip memandang, seakan tidak yakin tetapi gerak bibir pria di balik kemudi itu, seakan terbaca mudah oleh There, "mati kalian."

Deg.

Tidak memiliki cukup waktu untuk menghindar, There hanya punya sedikit waktu mendorong Arisa keluar dari jalur dan jatuh ke tanah. Kemudian yang terdengar hanya---

Brakkk!

Sebuah dentuman yang membuat dirinya melayang di udara sebentar, lalu terhempas ke tanah.

There mengerjapkan matanya sebentar melihat langit, hari ini terlihat sangat biru, baru kali ini ia menebak pasti ada Tuhan di balik awan-awan, tersenyum aneh dan konyol, karena baru ingat Tuhan di saat seperti ini. Kemudian, semua terlihat gelap dan dingin.

Arissa yang tersungkur di atas tanah rerumputan, hanya mematung kosong seakan kejadian yang ia lihat sangat cepat, dan ia merasa di depannya, bukanlah sesuatu hal yang tapi nyata.

Tapi sosok orang yang sangat ia kenal, mengapa tidak kunjung bergerak, "There!!" teriaknya ironis, setelah tersadar akan sesuatu. Bukan mimpi. Bukan adegan sinetron.

***
"Hmmmm... Brakkkkkk!!" komentar Dira pada imajinasinya, ketika hitunganya telah berhenti kesekian kalinya.

Dira berlakon lagi mengambil obat tetes mata, menarik segenap ingatan yang sedih kembali padanya. Perceraian orang tuanya, kebangkrutan ayahnya, dan juga rasa terkucil dari teman-temannya, jatuh dari langit membuat dirinya stress penuh tekanan menuju depresi akut, menerima perawatan di rumah sakit jiwa. Keluar dari sana, bukannya lebih baik, pikiran liar makin menjadi-jadi, halunisasi terbentuk dalam plot-plot kejahatan yang menurutnya sangat mudah seperti ia menghitung angka 1+1, baginya 11.

Gadis Arisan (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang