Arissa bangun melepas bantalnya, ketika suara langkah kaki terdengar mendekat ke kamarnya.
Mendadak ia menjadi sedikit takut.
Siapa yang datang ?
Rentenir, Mafia, atau Ninja yang dikirim buat nagih hutang?
Panik. Arissa duduk memeluk lutut, sekujur tubuhnya bergetar karena takut ketahuan, bagaimana jika Bastian akan mengusirnya, karena mengetahui masalahnya.
Krekkkk..
Tiba-tiba Pintu terbuka.
"Aargh...ya ampun" Arissa memekik kaget, dan kemudian mengelus dadanya karena ia pikir sosok rentenir yang datang masuk kamarnya.
"Kenapa nervous? " Tanya Bastian menahan rasa geli melihat mimik Arissa telah terlanjur putih seperti tengah melihat hantu, Sebenarnya ia telah lama mengetahui tetang hutang dan Paman Arissa yang terlibat. Namun untuk kali ini ia lebih memilih untuk diam, dan meminta inisiatif gadis ini terbuka padanya.
"Nervous?" Ulang Arissa pada kata asing yang ia dengar, ia berusaha mengaitkan kamus di otaknya sebentar.
Artinya shock atau trauma begitu...yah pasti..
Bastian dengan sengaja memasang wajah datar, dan bersandar di ambang pintu. Menyalakan rokok. Menunggu Arissa menjawabnya.
Untuk pertama kalinya Arissa melihat pria ini merokok kembali di depannya, kabut asap menghalau pandangan Arissa menatap pria bermata biru.
Apa dia marah ma gue?
Arissa mulai terlihat panik, mencengkram angin dalam genggamannya sebentar, seakan menyadarkan dirinya agar kuat sekali lagi. Terbangun dari rasa terpuruknya, berlanjut menggelengkan kepalanya.
"No Nervous but gelisah aja, kaya yang ada gue pikirin" Jawabnya terdengar berbohong.
Uhuk...uhuk...
Bukannya Nervous itu artinya gelisah ...
Bastian hampir saja tersedak asap rokoknya karena jawaban Arissa memiliki makna yang sama pada akhirnya.
Menghindat wajah Arissa untuk menjadi lebih takut, ia pun menelan ludah untuk menahan rasa interogasinya. Bastianpun menekan ujung rokoknya di dinding, menjatuhkannya begitu saja ke lantai. Namun Arissa malah mengira pria ini telah mengetahui segalanya, dan kini memasang wajah suram padanya.
Menutup pintu kamarnya.
Tap...
Tap..
Langkah kaki yang maju itu terdengar, membuat Arissa gelisah.
Baru saja Bastian akan naik ke sisi ranjangnya. Sekejap Arissa bangun turun berpinjak ke lantai, menundukan kepalanya bersiap pergi.
"Mau kemana?" Cegah Bastian menarik mundur Arissa agar tidak menjauh dari sisi ranjang.
"Mau ke perpustakaan sebentar" Hindar Arissa sekejap, namun Bastian tidak membiarkan ia pergi dan membuat Arissa kembali duduk di atas pangkuannya.
"Untuk apa?"
"Baca kamus. Buat baca kamus" Jawab Arissa sambil melirik wajah pria bermata biru yang tengah menempel di atas bahunya.
Pria itu mengerutkan tidak paham.
"Karena kamu panggil dokter asing, aku...aku ..." Jelas Arissa gugup, ia ingin cepat mencari persembunyian sebelum pria bermata biru ini menanyakan semua hutang yang terlibat dengan dirinya.
Mengalihkan perhatian Bastian, Arissa mengangkat tangannya.
"Ini dokternya ambil darah buat di cek.." Tunjuk Arissa pada sumpalan kapas yang masih menempel ketat di pembuluh balik tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gadis Arisan (On Going)
HumorNo# 2 Romance 14 Mei 2019 Dilarang Copas Cerita akan di Private acak. Jadi follow dulu... Ini cuma Fiksi , maafkan jika ada kesamaan nama yah !!!! Cerita dewasa ???? Harap bijak membaca. ************ "Lu harus Cariiii duitttt buat n...
