Krekkk....
Baskoro dengan handuk terlilit keluar menuju Balkon, perasaannya barusan ada seseorang yang telah mengintip mereka. Mengedarkan pandangannya ke balkon, namun tidak ada seorangpun.
Ah..mungkin perasaan saja....
Baskoro merasa kurang yakin dengan pendengarannya kembali ke sisi ranjang duduk bersama Andien yang telah mengenakan pakaiannya, ia nampak sibuk berbicara dengan seseorang di teleponya.
"Andien..mau kemana?" Baskoro langsung berdiri bertanya kala melihat kekasihnya bersiap pergi mengangkat tasnya dan mengenakan sepatunya hendak pergi.
"Tristan telepon pipi.."
"Lalu..kamu balikan lagi ma dia"
" Demi anak ini.."
Baskoro menelan ludahnya kecut.
"Pipi akan lepasin There dan Arissa hari ini setelah agak malamam"
"Kok gitu sih pi" Andien teriak protes. Ketika ia memutuskan akan kembali Tristan, dan Baskoro mulai mengancam melepaskan musuh buyutannya.
"Mereka masih bisa menghasilkan uang kalo di ariskan...lagipula mimi bisa curiga, Arissa dan There kan masih kontrak...tunggu saatnya habis kontrak, kita bisa membuat sesuai kehendak putri kesayanganku" bisik Baskoro tenggelam di leher Andien.
"Jangan ninggalin jejak pi..plisss nanti Tristan curiga" gumam Andien geli dan menarik diri. Dalam hatinya terus mengutuk bejat nafsu Baskoro yang tidak pernah habis walaupun sudah selesai satu malam suntuk Andien melayaninya.
Arissa bergantungan dengan mencengkram ujung balkon, ia merasakan lilin nyawanya sudah akan padam begitu saja.
Lilin nyawanya seperti sedang bertiup ke arah kiri kanan. Namun ketika kakinya lama bergantung, seakan ia mendapatkan pijakan yang kuat. Seakan kakinya menemukan batu di udara. Ia pikir, hal ini hanya ilusi. Sampai suatu suara terdorong keluar membeei intruksi. Pria bermata biru itu terlihat lelah dan berat menopang tubuh Arissa. Bahkan ia membiarkan gadis itu menginjak bahunya sekuat mungkin, agar mendapatkan pijakan yang nyaman.
"Hei lepasin tangan kamu..." Suara bass seseorang yang terdengar seperti suara malaikat maut, sudah tak kuat lagi menahan beban di pundaknya. Suara yang makin jelas terdengar dari lantai bawah, Arissa pikir ia hanya sedang mendapatkan bisikan maut agar ia jatuh melayang ke bawah.
Bahkan pegangan tangan yang berusaha meyangga tubuh Arissa agar bertahan bergantungan dengan seimbang, Arissa pikir tak lain hal itu adalah cengkraman setan.
"Saya nggak bisa lama-lama megangi kamu.." suara bass itu makin jelas terdengar setengah menghardik, ketika sebuah cubitan menembus tajam kulit paha Arissa, membuat Arissa mendongak ke bawah ingin memaki.
Kalau nyubit pakai perasaan...kok sakit banget nyubit sihhh...
Ketika itulah mata cemasnya menangkap wajah tampan yang terlihat lelah, namun sangat familiar. wajah asia dengan mata biru onyxs yang tak asing. Wajah langka seperti ini hanya satu-satunya di dunia.
Arissa meringis, mengira-ngira apa Bastian berniat menolongnya atau membuat ia jatuh ke bawah.
"Lepasi tangan kamu.."
"Kalau gue lepas, nanti gue jatuh.."
"Kan saya dah nangkap kaki kamu"
"Janji dulu, loe nggak bakal lepasin gue" usung Arissa merengek.
"Saya capek, kalau kamu mau bergantung di situ lama-lama , nggak apa-apa" tepis Bastian yang mulai melonggarkan dengan sengaja.
Arissa bertindak gugup sementara, lagipula cengkraman tangannya telah mencapai batas maksimal, dan saat Bastian melonggarkan kewaspadaannya , Arissa melepaskan tangannya, ketidakwaspadaan Bastian membuat Bastian kehilangan keseimbangan, dan bersikap panik, tubuh Arissa kembali meluncur ke bawah, dan bergantung melayang untung saja dua tangan tangan Bastian masih repleks menangkap pergelangan kaki Arissa, dan tentu saja Thom bersama pengawal lainnya yang sudah bersiaga, telah turut menangkap pergelangan kaki Bastian pula.
Akhirnya perlahan-lahan kekuatan sederet pengawal Bastian kembali membawa naik Bastian dan Arissa ke balkon.
Sesampai di Balkon,Arissa merengek bahagia karena nyala lilin nyawanya masih berlanjut.
Makasih Tuhan, mulai besok Arissa bakal berbuat baik dan lebih baik lagi..
Bahkan oleh hal itu ia lupa memperbaiki dressnya yang terangkat sedikit ke atas. Membuat pemandangan indah menggelap mata. Banyak mata terpaku memandang keindahan kaki mulus di sana, apalagi ketika gadis itu melayang di udara, pemandangan kain segitiga merah muda nampak jelas di mata mereka semua.
Melihat mata genit yang terus mengarah tersebut,membuat Bastian mendengus jengkel, ia pun melepas kemeja penuh keringatnya. Iapun membuangnya menutup bagian minim gadis itu, rasa jengkelnya membuat ia melupakan nyawanya yang hampir ikut terbuang karena gadis ini.
"Tuan.." Seru Thom di sela paniknya.
"Hmmm.... Gaji kamu dan yang lain naik tiga kali lipat bulan depan karena sudang menyayangkan nyawa saya" hembus Bastian.
"Oh dewa"
" Tapi karena kalian semua melihat pemandangan yang indah..apalagi bewarna merah muda. Mulai sekarang gaji kalian dipotong tiga kali lipat" dengung Bastian kembali membuat kenaikan gaji sebelumnya terdengar sia sia. Thom dan yang lainnya pun kembali mengeryitkan kening dan menutup matanya.
"Seharusnya loe semua tutup mata tadi" Thom mengomeli semua anak buahnya kala Bastian dan Arissa telah meninggalkan balkon.
Arissa melepas tasnya, duduk bersila di depan dispenser, entah sudah gelas ke berapa ,ia tetap terus minum, ia serasa telah mengalami dehidrasi yang panjang. Dua tiga gelas tidak cukup.
"Nanti kamu kembung" cegah Bastian manarik gelas.Arissa hanya bisa memuntahkan sedikit air yang tertampung di mulutnya kala bibir gelas di tarik paksa dari mulutnya, dan Bastian kembali meminum sisa air dari gelas milik Arissa.
"Bekas gue ituh"
Bastian melirik tajam ke gelasnya. Sejak kapan dirinya mulai berbagi dengan orang lain?
"Gelas cuma satu" bela Bastian pada dirinya sendiri.
Arissa hanya kembali melihat punggung Bastian yang terlihat atletis menuju lemari, mengambil sepotong kemeja hitam dan mengenakanya dengan cepat.
"Hello..." Sebut Arissa, Bastian mengangkat kelopak matanya setelah selesai mengancingkan kemejanya.
"Mau ucapkan terimakasih"
Arissa menggeleng segera. Bastian mengeryitkan alisnya.
"Lalu"
"Kancing loe salah"ucap Arissa kemudian menunjukan tombol kancing yang tidak sesuai dengan lubang kancing. Bastian mendengus salah tingkah, dan segera berbalik memperbaiki kancingnya kembali.
"Tuann" seru Thom yang berdiri di luar kamar, jika ia berani sembarang masuk. Jangan-jangan ia akan kehilangan gajinya kembali.
" Ada apa?" Tanya Bastian dengan wajah gelap, karena satu kata terimakasihpun tidak di lontarkan oleh gadis tersebut. Pertaruhan nyawanya, terasa sia-sia.
Wajah gelap Bastian, membuat Thom berpikir lain.
Apa gue ganggu quality time boss lagi...aduhhh
"Ada apa?" Kali ini inotasi Bastian lebih keras menghardir Thom yang hanya terlihat melamun di ambang pintu.
" Mobil nona Andien telah meluncur pergi dari apartemen. Semua sudah mengikuti instruksi tuan "
Wajah bastian yang awalnya menggelap kini terlihat lebih cerah.
" Baiklah. Saya akan menunggu berita baiknya"
*******
22.3.19
Author note :
Wah saya selama seminggu ini kena wabah virus mata...jadi satu rumah mata kita merah , dan memularnya gantian 🤭 jadi maafkan postinbnya terlmabat dan semoga kalian suka chapter ini :)
Koment yah kalau mau di lanjutkan :)
KAMU SEDANG MEMBACA
Gadis Arisan (On Going)
HumorNo# 2 Romance 14 Mei 2019 Dilarang Copas Cerita akan di Private acak. Jadi follow dulu... Ini cuma Fiksi , maafkan jika ada kesamaan nama yah !!!! Cerita dewasa ???? Harap bijak membaca. ************ "Lu harus Cariiii duitttt buat n...
