Part 45 Dia Kritis (2)

15.8K 530 28
                                        

Yang dibawah umur, tolong skip bagian ini yah..

*****

Sesampai di ruang Iccu

Seorang Dokter telah menyelesaikan bantuan khususnya, mencegah kematian datang lebih cepat.

Andra terlihat kembali bernafas normal kembali, namun ia terlihat lemah untuk membuka matanya. Hanya ujung jemarinya yang bergetar yang bisa merasakan kehadiran Bastian.

Awalnya ia selalu menolak menemui pria ini. Ia sangat malu dengan keadaannya seperti ini. Tapi, ia tau ia tak memiliki waktu yang cukup banyak.

Ketika sebuah tangan hangat menyentuh tangannya yang dingin, perlahan air mata Andra jatuh menggulir di pipinya.

Ia menyesali...

Andai saja dari awal ia hanya mengenali pria ini, tidak mengenal Tristan, pria milik Andien itu. Ia tidak akan seperti ini.

Cinta itu membawa kebahagian...

Bagaimana bisa

Cinta telah membawa penderitaan sebanyak ini...

Isak Andra dalam hatinya...

Jatuh dalam kesedihan sangat dalam..

Cinta Bastian totalitas untuk dirinya, jika dulu pria ini tergila-gila mengejarnya, namun sekarang ia bukanlah orang layak untuk di cintai kembali.

Ia sudah cukup untuk bertahan.

Cukup untuk tidak menjadi gila.

Namun menjadi seorang pesakit seperti ini, ia hanya ingin berakhir dengan cepat dan tenang.

Telunjuk Bastian terbang menghapus pipi basah Andra. Sekalipun ia tidak pernah merasa jijik, telapak tangannya masih tersampir menggegam tangan Andra.

Cintanya telah lama hilang karena pengkhianatannya, namun rasa kasih sayang sebagai saudara angkatnya, itu masih melengkat.

Andai saja Andra tidak memilih pergi meninggalkannya, mungkin hari ini mereka telah berada dalam pernikahan.

Kamu terlalu bodoh Andra...

Umpat Bastian marah, ia tidak pernah berharap kemunculan Andra akan seperti ini. Ia selalu mengira suatu saat Andra akan muncul dengan keangkuhannya dan ia akan bergerak menghukumnya kembali seperti dulu,  ia tidak akan pernah memberi kesempatan untuk Andra sekali lagi melangkah melewati pintu.

Ia hanya akan menyembunyikannya dan menghukumnya.

******

Arissa berguling-guling di atas ranjang.  Matanya masih tidak ingin memejam, ia masih menunggu pria bermata biru yang telah membiusnya itu untuk pulang.

Jam 02.00 Wib

Pria itu masih belum pulang.

Arissa bangkit dan duduk mengutuk, semakin ia mengumpat Bastian, semakin ia merasa haus.

Ia tercekat mengingat ciuman mereka tadi.

Jari kurus Arissa menyentuh bibirnya kembali, permukaan bibirnya masih sangat basah, sedari tadi ketika ia mengingat pria itu, adegan selanjutnya ia hanya bisa mengelap bibirnya sendiri.

Haus...

Arissa merasa frustasi sendiri, kembali pergi ke dapur. Menuang air  ke gelasnya.

Bibir gelas..

Melihatnya saja. Membuat Arissa Frustasi. Bagaimana mungkin ia malah membayangkan bibir pria bermata biru itu mendekatinya.

Glukkk..

Gadis Arisan (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang