#77 Selingkuh dibalas selingkuh

3.8K 314 153
                                        

Ca, ingat -ingat! makin selow makin keji!

Peringatan There tercetak begitu saja lagi di benak Arissa. Selow, Dion kini  sangat selow  di depan matanya. Tapi ia tidak akan pernah lupa, bagaimana mobil yang sama telah menabrak There.

There, apa yang harus gue buat? selow -selow.

Arissa berpikir keras, sebenarnya penculiknya kali ini, tidak sekejam yang ia bayangkan. Tapi jika ingat apa yang terjadi dengan There, service tuan penculik, terasa sia-sia.

Sia-Sia...
Arissa tidak akan pernah lupa nyawa There di gantung begitu saja, apalagi nyawanya sendiri, yang bisa ia lakukan hanya menurut, berpura-pura  percaya  dan tidak melawan, sampai Bastian muncul,

makin selow makin keji...

Setiap ucapan There bak mantera di telinga Arissa, walau Dion tak kalah memiliki mulut  yang bisa menghipnotis Arissa.  Namun mantera There makin ketat menjaganya agar tidak jatuh ke kandang serigala, yang cerdik dan akhirnya langsung menerkamnya.

Arissa bertekad tidak akan tertipu. Ia masih membedakan pria baik dan berpura-pura baik, kelinci juga akan kabur melihat wortel di atas perangkap. Untungnya ada Bastian di sini, ia akan memikirkan cara berlari ke arah pria itu. Cepatlah muncul, cepat!

"jangan lupa skenarionya," bangun Dion membuat Arissa segera mendongak menatap pria selow.

"yes, i see."

Dion ragu sebentar, apa gadis ini benar-benar paham, atau gadis ini merupakan kancil yang menyamar menjadi kelinci. Semua dongengpun menulis kancil bisa menipu buaya, singa, serigala.

Jangan-jangan...

Dion terkekeh sebentar, karena hal termustahil itu tidak mungkin terjadi. Rasanya Arissa bukanlah kancil, tidak cocok dengan kapasitas otaknya. Tidak mungkin.

Ia memegang tangan  Arissa, sesuai  skenario, memiliki kekasih baru, selingkuh balas selingkuh. Bukankah misinya selesai dengan sangat mudah. Lagipula ini mall, rencana tempat yang sengaja di pilih oleh Tristan, karena keramaian jadi tidak akan ada bunyi pistol di sini. Satu dari mereka, membunyikan pistol, bearti ia lahir bodoh  untuk berakhir dengan bunuh diri.

Keluar dari pintu restoran Korea, satu kelompok  orang yang dikirimkan Tristan sudah berdiri di sekitar, memberi isyarat mata  ke arah Dion. Dion hanya memberikan isyarat kembali, dengan meminta mengikuti mereka, namun tetap menjaga jarak. Walau hanya lima orang yang mengikuti mereka, tetapi Dion yakin lima pria bertubuh besar itu adalah orang pilihan.

Bastian tengah berdiri membungkuk menatap puluhan adegan di  layar  ruangan informasi dan pemantauan mall. Mall ini sangat besar, sehingga butuh waktu mencari dan mencari Arissa. Matanya tidak pernah melewati sesi-sesi ,meneliti dan mengamati setiap detail orang yang datang dan masuk.

"Boss itu, sangat mirip!" Teriak Thom segera, Bastian kembali ke layar yang di maksud Thom, di lantai lima. Tampak seorang gadis dengan dress  bewarna  soft pink.

Itu Arissa. Tidak salah.

Menyipitkan mata terhadap tangan yang melingkar di pinggang Arissa. Tangan pria. Tampak juga tas-tas belanjaan penuh di tangan pria itu, dan itu di pastikan milik Arissa, dari gambar tas tercetak jelas berasal dari toko persediaan khusus pakaian wanita.

Hal ini,

Tidak seperti tampak di culik, hal ini membuat Bastian tersiram cuka. Apa-apaan ini, berselingkuh di depan matanya?  Berani sekali.

Brakk!!

Memukul meja dan satu cekatan tangan langsung mampir ke leher Thom, "apa kau memberitahu hal yang bagus untukku?"

Thom tercekat sebentar. Apa salahnya kali ini?, ia hanya memiringkan kepala ke layar, dan baru menyadari jika calon nyonya rumah terlihat sangat baik-baik saja dengan pria yang juga terlihat tampan, dan tuan nya terbakar jenggot. Lalu dia pergi di salahkan.

"Boss, bisa saja non Arissa sedang menyenangkan si penculik. Biar tidak di huku---"

Cekikan menjerat lebih ketat, tidak mengijinkan Thom menyelesaikan kalimatnya, detik-detik cengkraman hampir saja Thom kehilangan nafasnya,

menyenangkan si penculik!

Kalimat Thom benar membakar Bastian di atas perapian. Panas dan cemburu, "tangkap pria itu, jangan sampai ia lolos, lidahmu taruhannya."

Thom jatuh tersungkur ke lantai, setelah jeratannya  lepas, namun ancaman nyata jelas di depan mata. Ia harus menyelamatkan liddahnya. Ia harus menangkap pria  di layar itu.

Di layar makin memanas, ketika sorotan kamera di dekatkan. Thom terbelalak, mengapa calon nyonya berani sekali ? Tuan sedang menonton. Kali ini Thom tidak berani mengeluarkan satu katapun, ia ingat lidahnya hanya satu. Jika di potong, ia tidak akan bisa bicara lagi.

Pria itu tampak membawa Arissa ke toko perhiasan, membelai rambut, dan mengenakan kalung yang cantik di leher Arissa. Bahkan ia tidak terlihat menolak ataupun bersedih, hal ini membuat Bastian benar-benar terlucut ingin membunuh segera. Ia benar-benar kehilangan akal sehatnya kali ini.

Ini bukan penculikan, ini berkencan buta dengan sangat mesra.

Panas!! Terbakar!!

Brakk.!!

Suara pintu terbanting keras selanjutnya. Bastian keluar begitu saja, Thom pergi mengikuti, tapi petugas ruangan ini mengeram memanggilnya,

"lepaskan aku," jeritnya.

Thom kembali membuka jeratan tali yang melingkar kaki dan tangan petugas,

"aku akan memanggil tugas keamanan," petugas sangat marah, tapi Thom segera mengambil satu tumpuk uang, "maaf, jangan marah, boss hanya sedang mencari bukti istri berselingkuh."

Mendengar hal itu, petugaspun pergi maklum dan diam-diam setuju mengambil uang.

Setelah menyelesaikan dengan uang. Thom bisa pergi dengan aman, boss yang membuat ulah, ia harus memiliki kebiasaan menebar uang, agar semua orang menutup mata dengan baik.

Bastian tidak pergi ke lantai lima, ia hanya menunggu dengan dingin di parkiran mobil, semua parkiran milik orang lain telah di dorong keluar. Hanya miliknya dan deretan anak buahnya yang kini melingkar mobil penculik yang sangat jelas.

Menunggu hanya menunggu untuk keluar, dan akan menjerat.

Sambil terus menunggu, Bastian mengambil sebatang rokok. Ia memiliki kebiasaan seperti ini jika tidak bisa  mengendalikan amarahnya. Sudah empat batang jatuh ke tanah sisa puntungnya saja, tapi Arissa dan pria simpanan belum muncul.

Matanya tidak pernah lepas akan pinyu keluar.

Seakan mengerti pandangan Bastian yang terlihat suram dan gelap, Thom maju ragu sebentar dan berniat pergi memeriksa, "apa saya perlu pergi melihat lantai lima?"

"Pergi sekarang!" bentak Bastian.

Thom membawa dua pria lainnya mengikutinya, ini mall  tetap saja tidak boleh membuat rusuh. Mereka hanya bisa mengintai, dan belum jauh dari tempat parkir, yang di tunggu akhirnya datang.

Tampak sedang turun di tangga eskalator, pantas saja lama, ternyata bawaan tas belanjaan kali ini lebih banyak.

Apa ini terlihat sengaja? Pergi memanasi, namun mengapa harus menabrak There. Thom tidak bisa menebak-nebak alur cerita kali ini, segera meminta rekannya, karena yang di tunggu, dalam hitungan lima menit akan menuju parkir.

***
Ns.
Aduh maaf yahbpusing, yah gini deh cerita tanpa kerangka, klo diburu, jadi 🤭 tp yang pastinya aku tamatkan deh. misterinya aku selesaikan.

Kenapa Tristan ternyata jd dalang, karena dia pelindung Andien, jadi kekuasaan juga lebih besar harusnya.

Soal Arissa tenang kok, dia gk yang bodoh2 amat 😅 tapi mmg nyaris gk tertolong jg ..untung cma fiktif yah

Lalu bagaimana dengan Dira dan Andien akan hadir di part habis ini.

Gadis Arisan (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang