Part 38. Siaran Langsung

14.3K 570 30
                                        

"Nggak menular kok" tatap Badman mengiris sedih. Seakan semua orang pasti akan menghindarnya.

Persekian detik..

Cupp..

Sepaket ciuman pipi mendarat di kiri kanan Badman. Badman mengguling mata kiri kanan, sedikit linglung tak percaya. Tanpa sadar tangan kurus besarnya menyentuh jejak ciuman tersebut.

"Eng.. nggak menularkan"

Arissa menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sedikit kikuk, ia pun mengguncang bahu Badman yang terlihat linglung. Sekian detik selanjutnya, ia pulih dari linglungnya.

Matanya terlihat lebih dingin. Setidaknya ia cukup layak bersama, andai ia tak menderita penyakit mengerikan.

"Buruan turun" dorong Badman ke arah pagar Balkon, selanjutnya perlahan dengan bantuan Badman, Arissa menuruni bagian menjorok luar pagar balkon. Tingginya lantai, membuat matanya melotot pada Badman.

"Pegang gue erat-erat" Arissa tetap mencengkram lengan Badman. Bahkan kuku milik Arissa terdengar meringis menancap kulit kering .

"Pegang talinya..bukan gue"

Badman yang berpegang dengan tiang Balkon, terus menginstruksikan Arissa agar segera merosot turun dengan tali, namun jarak ketinggian lantai sekejap membuat Arissa yang bergelantungan panik enggan melepaskan cengkramannya.

"Lepasin tangan gue"

Arissa menggelengkan kepalanya cepat.

"Niat kabur nggak sih?"

Arissa menganggukan kepalanya cepat.

"Kalau loe nggak cepat turun..Dono lihati elo..gue nggak jamin keperawanan loe lagi .. " gerutu Badman

"Mau loe nggak perawan lagi...?" Serbu Badman seraya melepaskan persatu jari-jari kecil milik Arissa.

Arissa menjulingkan bola matanya ke atas, kala Badman mulai menakut-nakutin kehidupannya, kehilangan keperawanan sama saja menghanguskan harta seorang gadis yang beharga.

Arissa nampak berpikir sejenak. Mata animasinya mulai terlihat merengek. Bukankah ia sudah kehilangan keperawananya ? Nasehat Badman, seakan tidak berguna.

"Gue takut mati..jangan lepasin tali gue..." Gumam Arissa yang kini hanya bergelantungan dengan tali. Tanpa ada pergerakan merosot kebawah sedikitpun.

"Susahnya nolong orang bodoh ...ehhh" dengan sedikit akal tanpa niat jahat, Badman mengguncang tali dan sekejap jantung Arissa panik dan bergerak merosot ke lantai, dan ketika kakinya terlihat akan mencanpai balkon di lantai selanjutnya. Perlahan ia mendongak ke pada Badman yang terlihat berkeringat menahan tali sedari tadi.

Di sisi bawah gedung apartemen, sosok pria jangkung yang mengenakan teropongnya memperhatikan tubuh Arissa berayun-ayun di udara, matanya pun memindai seorang pria kurus yang terlihat di atas Balkon.

"Tuan, apa kita harus membantu nona Arissa, mengingat kamar bawah tersebut milik nona Andien " ujar Thom.

"Tidak perlu, adegan sekarang lebih menarik. Kita hanya perlu menunggu" Bastian kembali masuk dalam mobilnya, walaupun hatinya sedikit beringsut memikir sosok pria yang membantu pelarian Arissa.

"Loncat ke balkon" Isyarat Badman tanpa suara. Ragu-ragu Arissa yang berada di ujung tali, membayangkan tubuhnya yang bergelantung dan menginjak udara, ia harus sekuat tenaga membuang tubuhnya ke kiri agar mencapai balkon.Perlahan Arissa berayun ayun dan

Brakkk......

Ia jatuh mencapai lantai Balkon. Meringis jatuh sakit. Dengan kaki yang tertatih-tatih iapun memberi isyarat keberhasilannya pada Badman.

"Loe masuk dan pergi.."isyarat gerak bibir Badman yang kesekian kalinya yang baru di mengerti Arissa, Arissa mengangguk cepat sebagai jawabannya. Badman yang setengah tubuhnya mendongak ke bawah, terlihat tersenyum. Ia kembali ke pusat kamar apartemen kembali.

Arissa meraih gangangan pintu. Tentu saja pintu terkunci. Ia pun berusaha mengetok, namun tak ada jawaban. Ia menempelkan telinganya ke daun pintu. Terdengar sayup-sayup suara desahan. Arissa mengerutkan pikirannya, pantasan gedorannya tidak bisa mengusik.Ia harus menunggu pemilik selesai bertarung lebih dulu.

Arissa mengendap mengintip ke jendela yang terhubung ke kamar. Iapun menegguk air ludahnya melihat sepasang tubuh tak berbusana terjalin di atas tempat tidur.

Arissa menutup matanya.

"Kok kaya kenal gue yang ceweknya.." bisik Arissa pada dirinya sendiri..ia kembali mengintip dari bilik tirai yang hanya sedikit terbuka. Namun kali ini gadis itu berada di bawah tubuh pria tersebut, jadi menutup pandangan mata Arissa.

"Idihhhh kok gue malah nonton siaran langsung yang kaya ginian" umpet Arissa dalam hatinya, namun karena rasa penasarannya ia tetap mengintip, adegan di depan matanya mengingat sosok pria permata biru, klien pertamanya yang menjajahi pertama kalinya. Mendadak Arissa menjadi kesal. Menghubungkan nasib buruknya , ada kaitan erat dengan pria tersebut.

"Sudah....pi..." Dorong gadis itu, lamunan Arissa buyar, terlihat punggung gadis itu membekangi pandangan Arissa. Sang pria bertubuh coklat bangkit dan membantu mengaitkan tali bra. Wajah samping pria tersebut sedikit terlihat.

Baskoro..

Ayah Andien.

Tentu saja Arissa mengenal Baskoro sebagai ayah Andien, karena saat Andien menjambak Arissa di kantor polisi dan menyebabkan Arissa terluka parah. Andienpun ditahan, dan keluar mendapatkan jaminan lebih dulu karena jaminan Baskoro sebagai ayah sah nya yang ia tunjukan melalui pengacara dan keterangan surat-surat hubungan antara mereka. Walaupun Arissa tak yakin Baskoro bisa mengingatnya, karena penampilan kacau dan wajah memar saat itu. Arissa jadi ragu, apa mungkin Baskoro akan melepaskannya mudah begitu saja.

Arissa kembali memperhatikan kulit mulus pasangan Baskorom seakan mengetahui pasangan intim Baskoro. Pastilah gadis muda belia. Kulitnya halus lembut, rambutnya tergurai panjang, dan ketika Baskoro membalik sosok gadis tersebut agar kembali berbaring di atas tubuhnya.

Arissa membuka mata telanjangnya selebar mungkin. Suprise. Sosok gadis belia itu, Andien. Arissa menutup mulutnya sendiri, menghentikan jeritan dan makian dalam hatinya.

Terkutuk sekali. Andien berbagi kasih sayang dengan ayahnya sendiri. Arissa duduk merosot ke lantai,menempelkan daun telinga erat ke dinding.

"Papi, tadi ada yang gedor pintu..lihat sana"

"Nggak mungkin..paling kucing "

Mendengar percakapan tersebut, Arissa seakan mendengar sirene bahaya. Ia melupakan kakinya yang sakit, berharap Badman masih bisa menolongnya dari kandang macan.

Ia mendongak ke balkon Atas. Badman tak terlihat. Talipun sudah di tarik kembali oleh Badman.

"Malah dorong gue ke ratu setan ..."umpat Arissa yang kemudian mendongakan wajahnya ke bawah. Ketinggian apartemen membuat wajahnya meringis kembali, melompat ke bawah, artinya bunuh diri.

*******

Author note:
Terimakasih sudah menunggu cerita ini...semoga kalian makin penasaran untuk kelanjutannya...

Kira-kira Bastian nolongin...
Atau Tristan atau Badman atau Dono 🤭🤭🤭
















Gadis Arisan (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang