36. sebelum konser

820 88 11
                                        

Di sebuah bar, tampak seorang pemuda yang berusia sembilan belas tahun sedang memainkan gelas kecil di tangannya.

Kedua safirnya menatap kosong cairan berwarna coklat di dalam sloki. Pikirannya saat ini terasa penuh akan mimpi-mimpi yang selalu mengusik tidurnya selama sepuluh tahun ini.

"Sial!" makinya, dan kemudian meneguk cairan yang terasa membakar tenggorokan dalam satu kali teguk.

Rahangnya mengetat. "Kapan penderitaan ini akan berakhir?" desisnya dengan parau.

Rasanya dia sudah tidak mampu menahan beban ini lebih lama lagi. amarah, rasa takut dan dendam sudah mengakar di dalam hatinya.

"Hei, apa yang kau lakukan di sini?" tanya seorang wanita berpakaian terbuka, lengkap dengan lipstick merah darah yang menggoda.

Pemuda itu hanya melirik malas dan kembali menenggak minumannya.

"Sampai di mana aksimu?" tanya wanita itu kembali dan meneguk minuman yang disuguhkan oleh bartender kepadanya.

Pemuda itu menggeram.

"Ku dengar orang suruhanmu meleset" terdengar nada mengejek dari si wanita.

Brakk ...

"Sialan!" kembali makian keluar dari kedua bibir tipis sang pemuda.

Wanita itu menepuk pundak sang pemuda sembari terkekeh kecil.
"Tapi ada bagusnya juga, bukankah kau lihat bagaimana rapuhnya dia, saat gadisnya terkena tembakan?" wanita itu mengetukkan jari ke atas meja bar. "Bagaimana jika kita habisi saja gadis itu?" tawar wanita itu.

"Berani kau menyentuhnya, maka kau yang akan ku habisi" desis pemuda itu.

"Wow ... wow ... jangan bilang kau juga menyukai gadis berkacamata itu? Atau dia mengingatkanmu kepada seseorang?" tebak wanita itu.

"Bukan urusanmu" sanggah pemuda itu.

Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ingat dengan tujuan awalmu Daniel. Balaskan dendam keluargamu" bisik si wanita di telinga Daniel.

Daniel mendengus dan melangkah meninggalkan ruangan laknat tersebut.

"Jika kau mulai goyah maka dengan terpaksa kau akan kusingkirkan juga" wanita itu meyeringai dan kembali meneguk cairan di dalam sloki miliknya.

*****

Di tempat lain, Jonah membantu Letta untuk mengganti perban miliknya di dalam kamar para gadis.

"Aku bisa sendiri, Jonah" kesekian kalinya gadis itu melayangkan perotes yang sama sekali tidak diindahkan oleh Jonah.

Tanpa banyak bicara Jonah menggantikan perban Letta dengan cekatan.

"Sudah" beberapa menit kemudian luka Letta telah kembali diperban dengan rapi.

"Ternyata perbananmu cukup rapi ya" Letta memperhatikan lengannya yang tertutup kain kasa putih.

Jonah yang sedang membereskan kota p3k tersenyum sombong. "Apa yang tidak bisa di lakukan seorang Jonah di dunia ini?" lagaknya.

Letta mendengus. "Ku tarik lagi pujianku" perkataan Letta membuat Jonah terkekeh.

"Aku bercanda" Jonah mengacak puncak kepala Letta.

"Kau menghancurkan rambutku!" sungut Letta. "Oh iya, jam berapa kalian akan berangkat ke arena?" tanya Letta kembali.

Jonah menatap jam tangan di pergelangan tangannya. "Sekitar 10 menit lagi, sebaiknya aku turun sekarang" pemuda itu bangkit dari duduknya.

Letta menahan lengan Jonah. "Apakah aku boleh-"

why don't we? (COMPLETE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang