Jessie sedang duduk bersantai di pinggir kolam renang, yang terletak pada roof top hotel yang mereka tempati.
Setelah semalam konser yang di laksanakan oleh Jack dan kawan-kawannya selesai dengan baik, hari ini mereka semua mendapat jatah libur hingga empat hari kedepan, sebelum melanjutkan perjalanan mereka kembali.
Pagi ini Jack meminta Jessie untuk menemaninya berenang. Gadis itu menyetujui tanpa pikir panjang, karena teman-temannya yang lain masih tertidur lelap, sebenarnya wajar saja jika mereka semua masih tertidur, karena sekarang masih pukul lima dini hari.
Ya, pukul lima dini hari. Orang gila mana yang berenang pada pagi buta seperti ini?
Oh, tentu saja ada, dan orang tersebut sedang menceburkan dirinya kedalam air saat ini. Sementara Jessie hanya mencelupkan jempol kakinya dan bergidik merasakan betapa dinginnya air kolam tersebut.
Jessie buru-buru menarik kembali kakinya, dia tidak ingin terkena rematik di usia semuda ini. Tidak, terimakasih banyak.
Di tatapnya Jack yang masih berenang dari satu sisi kolam ke sisi lainnya.
"Apa darahnya tidak membeku di dalam sana?" monolog Jessie.
Ia kembali duduk diatas kursi santai yang ada di tepi kolam, seraya memeluk kedua lututnya, gadis itu terus memperhatikan Jack yang masih asik berenang. Hatinya berdesir melihat setiap gerakan yang dilakukan oleh pemuda itu.
bagaimana lengan putih dengan beberapa gambar terukir di sana mengayun membelah air, dan bagaimana saat wajah tampan itu keluar dari dalam air. Oh dan jangan lupakan rambut keritingnya yang sudah tidak berbentuk karena terkena air.
Jessie tahu jika dirinya ini bodoh, tapi perasaannya sudah tidak dapat di bohongi lagi. Dia sudah jatuh hati kepada pemuda keriting tersebut.
Bukan sebagai penggemar kepada idolanya, tapi sebagai seorang gadis kepada sang pujaan hati.
Jessie juga tahu jika kemungkinan perasaannya berbalas sangat kecil, dan kemungkinan dia untuk sakit hati jauh lebih besar. Tapi perasaan ini tumbuh dengan sendirinya, Jessie tidak dapat berbuat apapun mengenai hal tersebut.
"Apa yang sedang kau lamun kan?" tiba-tiba saja Jack muncul di hadapan Jessie, membuat gadis itu terperanjat kaget.
"A-aku tidak melamunkan apapun" jawab Jessie gelagapan, ia mengalihkan wajahnya yang terasa memanas, begitu menyadari jika jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa centi lagi. Dengan jarak sedekat ini mampu membuat jantung Jessie semakin berdegup cepat.
" benarkah?" Jack memicingkan matanya tidak percaya. Jessie semakin gelagapan tak kala Jack semakin menipiskan jarak di antara mereka.
"Y-ya ... aku tidak kyaaa ...!" omongan Jessie terpotong, ketika Jack dengan isengnya menarik gadis itu ke dalam kolam renang.
Jack tergelak melihat wajah Jessie yang baru saja keluar dari air, dengan rambut kusut dan wajah yang ditekuk, hal itu membuatnya menjadi tambah manis menurut Jack.
"Kau!" geram Jessie dan kemudian menghempaskan air kolam ke wajah tampan Jack.
"Itu curang!" tukas Jack, sembari terbatuk ketika air kolam secara tidak sengaja masuk ke dalam hidungnya.
"Lebih curang kau yang menarikku ke dalam kolam" Jessie menjulurkan lidahnya.
"Ooh, jadi begitu cara bermainmu?" Jack menyeringai dan kemudian mendekat ke arah gadis itu.
"Mau apa kau?" Jessie menyudutkan tubuhnya ke tepian kolam sembari menahan dada Jack yang tidak tertutupi apapun.
"Kemari kau" Jack menarik Jessie ke tengah kolam. Gadis itu meronta, dia adalah seorang perenang yang buruk. Meskipun dia lahir dan besar di desa, tetapi dia sama sekali tidak bisa berenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
why don't we? (COMPLETE)
Hayran KurguSiapa yang sangka kelima pemuda tampan yang selalu tampak bahagian dan sedikit konyol itu memiliki masalalu yang sangat berat. "Aku ingin melarikan diri dari dunia gelap yang seakan menjadi kutukan abadi bagi keluargaku"--Jonah " Aku ingin melarikan...
