47. Nyesek.

971 43 1
                                        

Seminggu sudah Rehan di rawat di rumah sakit. Lelaki itu sudah boleh pulang hari ini. Bibir pucatnya sudah kembali merah, senyumannya sudah mulai terlihat dikala melihat perempuan cantik yang baru saja keluar dari mobil merah miliknya.

Rambutnya berterbangan kemana-mana, bibirnya tiada henti mengumbar senyuman. Hal itu seakan memperlihatkan betapa ramahnya dia.

Langkah kakinya terhenti ketika melihat Rehan yang berdiri tidak jauh darinya. Kepalanya menunduk dikala melihat perempuan cantik berpakaian sexsy menghampiri Rehan dan tanpa sungkan perempuan itu mencium pipi Rehan.

"Sore sayang." Sapa perempuan itu dengan gaya centilnya. Tika tersenyum masam, menghampiri Rehan dengan perasaan tegar.

"Mau pulang, Rey?" Sapa Tika, basa-basi. Dia tersenyum manis kepada Rehan.

"Mata kamu katarak? Udah tahu mau pulang pakai nanya. Caper banget jadi perempuan." Serkah Agnes, Tika menunduk dalam. Dia tersenyum kecut. Dia cukup sadar diri untuk bertanya seperti itu kepada mantan suaminya.

"Aku permisi dulu." Pamit Tika, dia berjalan cepat menuju ruangan Dokter Atala.

Rehan hanya bisa diam. Tatapan sendu dia perlihatkan dengan begitu jelas.

"Aku rindu." Batin Rehan, menjerit perih. Rindu yang ada di hati Rehan seakan meronta meminta untuk di tuntaskan. Dia tidak terima melihat kepergian Tika. Namun mau bagaimana lagi? Takdir berkata lain.

Bruk...

Tika menabrak seseorang hingga tersungkur ke lantai. Matanya memanas, dadanya sesak, serta bibirnya bergetar.

Sebuah tangan terurur untuk membantunya berdiri. Tika tersenyum kecut, kenapa bukan Rehan? Kenapa malah lelaki lain yang mengulurkan tangannya ketika dia terjatuh?

"Kamu berharap Rehan yang ngulurin tangan buat kamu? Tapi maaf, Rehan sudah pergi." Seakan bisa membaca pikiran Tika, Atala berkata seperti itu. Tika tersenyum miris.

"Tidak, Dok. Saya mau ngomong dengan Dokter sebentar." Elak Tika. Dia berbicara dengan sedikit menekan dadanya yang terasa sangat sakit.

"Mari ke ruangan saya." Ajak Dokter Atala. Dia hanya berdinas sementara di rumah sakit milik Bastian untuk menggantikan Dokter spesyalis jantung yang kebetulan cuti.

"Apa ini heandpon, Dokter?" Tanya Tika, dia meletakkan benda persegi diatas meja kerja Atala. Atala mengambil heandpone itu.

"Dapat dari mana kamu?" Bukan itu yang Tika ingin dengar. Bukan, Tika hanya ingin jawaban iya atau tidak. Bukan pertanyaan balik.

"Iya atau tidak?" Tanya Tika penuh penekanan. Bibirnya dia tarik keatas.

"Iy_iya." Jawab Dokter Atala dengan gugup. Bahkan sangat gugup. Seperti orang yang tertangkap basah mencuri barang milik orang lain.

Tika menatap Dokter Atala intens. Ekspresi wajahnya sangat datar hingga membuat Dokter itu menelan ludahnya beberapa kali.

"Dokter mengenal saya sejak SMA? Apa betul? Kenapa di galeri Dokter banyak sekali foto saya? Tapi saya rasa foto itu diambil secara diam-diam." Tanya Tika, curiga. Atala menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia bingung harus menjawab apa?

"Memang benar kalau saya mengenal kamu sejak SMA. Waktu itu saya sedang melaksanakan KKN di Jakarta. Saat saya sedang jalan-jalan bersama teman-teman saya, saya melihat kamu keluar dari gerbang sekolah sendirian. Saya terus mencari informasi tentang kamu, hingga akhirnya saya tahu kalau kamu itu adalah sepupunya Aldo." Jelas Dokter Atala. Tika hanya diam mendengarkan. Dokter Atala tersenyum tipis dikala mengingat masa-masa itu.

Air Mata PernikahanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang