52. Mie Instan.

938 42 0
                                        

Tika mematikan panggilan teleponnya lalu melempar heandponenya ke udara. Dia melakukan itu sampai beberapa kali.

Tika berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Apel yang baru dia gigit dia tatap lekat.

"Kayaknya tadi masih banyak, siapa yang makan?" Tanya Tika dengan bodohnya. Lalu dia kembali menatap heandponenya, saat dia ingin kembali menggigit apelnya, apelnya sudah habis tidak tersisa.

Aldo duduk disisi tempat tidur Tika dengan tangan yang memaksa apel itu masuk kedalam mulutnya.

"Pantesan apelku habis, ternyata ada tupai toh disini." Sindir Tika, Aldo yang masih mengunyah apel langsung tersedak.

"Rasain, makan tuh apel." Tika berbaring di tempat tidurnya, sedangkan Aldo sudah pergi mengambil minum.

"Terima, enggak, terima, enggak, terima, enggak, terima, enggak, Ter..."

"Terima, gitu aja susah." Potong Aldo. Dia duduk di sofa kamar Tika. Tika melirik Aldo dengan kesal. Setan itu selalu muncul dimana-mana.

"Ngapain sih kamu kesini lagi? Mending kamu ngajarin anak kamu belajar dari pada gangguin aku mulu." Ketus Tika. Aldo mengambil heandponenya dari saku celana boxer miliknya. Setelah itu dia senyam-senyum sendiri.

"Gila kalik tuh orang." Desis Tika, dia menatap Aldo dengan kesal.

"Anakku udah pintar, aku 'kan waktu buat dia baca bismilah dulu. Apalagi bibit yang aku tanam di rahim istriku adalah bibit unggul. Pasti anakku pintar kayak aku tanpa harus belajar." Ucap Aldo, sombong. Tika mendesis tidak setuju. Aldo tadi ngomong apa? Tanpa belajar Kevin bisa pintar? Bahkan seorang Dokter dulu juga berlatih membaca sebelum mendapatkan gelar Dokter.

"Semerdeka kamu ajalah, Do." Kesal Tika kepada sepupu sok gantengnya itu.

"Indonesia sudah merdeka dari 1995, jadi...."

"Diam dan keluar dari kamarku!" Bentak Tika, dia mendorong Aldo keluar dari kamarnya.

Tika duduk di sofa yang tadi Aldo tempati. Rasa bimbang kian mendomisi hatinya.

Ting...

Dokter Atala.

Saya masih menunggu jawaban kamu.

Tika menggigit ujung bibirnya. Dia ragu akan perasaannya sendiri.

"Bismillah, semoga pilihanku benar yaallah." Doa Tika, serius.

Tika.

Saya bersedia menjadi istri Dokter Atala.

Tika mengatur nafasnya. Dia hampir kehabisan oksigen saat ini.

Dokter Atala.

Kamu serius? Bukan karena saya teman Aldo sepupu kamu 'kan? Oh ya, jangan panggil saya Dokter, panggil Atala saja.

Apa maksud Dokter, eh maksudnya Atala. Dia kira Tika menerima dia karena Aldo? Itu sangat salah besar. Tika tidak pernah berfikir begitu. Ini murni keinginannya.

Tika.

Tidak, Ta. Ini murni keinginanku. Apa ini artinya kita pacaran?

Tika menggigit bibir bawahnya dengan ragu.

Dokter Atala.

Air Mata PernikahanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang