Tirai kuning menutupi area tempat tidur. Api lilin kecil menyala redup, bergoyang-goyang seirama napas. Di dinding kayu, dua siluet terpampang seperti lukisan, saling tumpang tindih, melekat erat seperti lem. Suasana tengah malam selalu sunyi mencekam, namun di dalam kamar tidur sempit dan mewah. Dua napas beradu dan suara dencit ranjang memecah keheningan.
Dalam kehidupannya, dia selalu menyukai aroma ambergris. Terasa lembut dan menenangkan. Hanya dalam satu malam, aroma itu tidak lagi membuatnya nyaman, bahkan membuanya mual dan muak. Tubuh besar pria menindihnya, mendorongnya dan menyetubuhinya seperti binatang.
Xie Lian menatap kosong pada cahaya lilin, tidak berkedip sedikitpun. Cahaya kuning keemasan memantul di pupil matanya yang hitam. Hanya dalam beberapa saat, pantulan itu terdistorsi, seperti riak air. Mata yang kosong kini seperti kolam air oleh genangan air mata.
Rasa sakit yang luar biasa menyerang bagian bawahnya, membuat tubuhnya menggigil seperti ditusuk ribuan jarum. Xie Lian tidak berani melihat bagian bawahnya. Namun indera penciumannya menangkap bau darah yang kental.
Tanpa melihat, dia sudah tahu apa yang terjadi.
Tuan tanah muda baru berhenti ketika matahari hampir terbit. Saat benda itu keluar dari tubuhnya, butuh waktu lama bagi Xie Lian untuk menutup pahanya karena sakit. Tuan tanah muda menatap wajah cantik Xie Lian yang pucat dan mengusap pipinya lembut.
"Tidurlah.."
Xie Lian tidak menjawab, namun setitik air jatuh mengalir di sudut matanya.
Tuan tanah muda tertegun, kemudian menarik Xie Lian ke dalam pelukannya. "Apa aku berlebihan?"
Xie Lian membuka mulutnya dan berbicara dengan susah payah. "Tidak apa. Harap tuan tanah untuk menepati janji."
Tuan tanah tertawa, "Aku bukan orang baik, tapi aku selalu menepati janjiku."
Dia mengulurkan tangan, mengeluarkan tangan kanan Xie Lian dari balik selimut tebal. Ketika dia ingin mengecup punggung tangan putih itu, matanya menangkap cincin granit di jari manisnya. Melihat benda itu, wajah tuan tanah muda terdistorsi.
"Kamu sudah menikah?" Tanya tuan tanah muda.
Malam itu gelap dan dia tidak terlalu memperhatikan benda di tangan Xie Lian. Namun kini, cincin granit itu berkilauan dengan pantulan cahaya matahari pagi dari jendela. Setiap cincin pernikahan di kekaisaran Xian Le memiliki simbol sepasang elang emas, tidak peduli dari bahan apapun cincin itu terbuat. Dan pada cincin granit itu jelas terdapat ukiran sepasang elang emas kecil.
Xie Lian tidak menjawab.
Tuan tanah muda tidak puas dan mendesak. "Dimana pasanganmu?"
"Sudah mati." Jawab Xie Lian ringan.
"Bagus." Tuan tanah tersenyum dan mencium pipi putih Xie Lian.
Xie Lian tidak menolak. Bukan, dia tidak bisa menolak karena seluruh tubuhnya mati rasa. Dia bisa merasakan seluruh tubuhnya berat, seperti ditindih satu ton batu. Perlu waktu lama sebelum Xie Lian bisa menggerakan tangan dan kakinya.
Dia mengabaikan rasa sakit di bagian bawahnya dan berusaha bangun. "Tuan tanah, saya harus pergi."
"Tubuhmu masih lelah bukan? Istirahatlah dan tidur walau sebentar."
Xie Lian menolak, "Saya harus menemui putera saya."
Melihat kegigihan Xie Lian, tuan tanah muda tidak bersikeras. Dia melihat Xie Lian yang kesusahan memasang pakaiannya dan bangun untuk membantu. Tuan tanah muda mengambil sekantong kain bermotif bunga pada Xie Lian.
KAMU SEDANG MEMBACA
[BL] [END] A Guy With Cold Face (Heavenly Official Blessing FF Modern AU)
FanfictionPemuda itu sangat tampan dengan rahang tegas dan kulit seputih salju namun tidak pucat. Rambutnya hitam berkilauan dengan poni menjuntai menutupi mata kanannya. Auranya misterius namun disisi lain juga nampak lembut. Benar-benar semurni giok. Xie L...
![[BL] [END] A Guy With Cold Face (Heavenly Official Blessing FF Modern AU)](https://img.wattpad.com/cover/180057356-64-k771777.jpg)