Berita tentang keduanya berkencan menyebar seperti wabah. Xie Lian adalah pihak yang menerima dampak paling besar, setiap kali dia berjalan di koridor. Orang-orang akan memandangnya dengan berbagai ekspresi, antara marah, sedih, kagum dan jijik. Saat Xie Lian membuka loker untuk mengambil barang-barangnya, dia akan menemukan kunci lokernya telah dibobol dan di dalam lokernya penuh dengan coretan dan sampah.
Hal yang sama terjadi selama tiga hari kedepan, tapi dia tidak pernah memberitahu kekasihnya. Pada hari ketiga, dia lagi-lagi menemukan lokernya kotor dan berbau busuk, lalu mendengar cekikikan dari beberapa orang dibelakangnya.
Xie Lian tidak bisa lagi mentolerirnya. Dia mulanya ingin bersikap tidak peduli, tapi gangguan ini membuatnya muak. Jadi dia berbalik, menatap para gadis itu dengan tajam, lalu berkata penuh penindasan, "Kamu tahu aturan perguruan tinggi untuk dilarang membuang sampah selain pada tempatnya?"
Gadis-gadis itu terkejut. Selama tiga hari ini Xie Lian selalu diam, mereka mengira pria cantik itu takut. Kemudian melihat bagaimana pria itu akhirnya menunjukan taringnya, mereka menjadi gugup. Salah satu dari mereka masih berani melawan meski jantungnya hampir keluar ke tenggorokan, "Eh.." Katanya penuh sarkasme, karena gugup dia menjawab asal, "Maaf kami tidak tahu."
Xie Lian tersenyum lembut, namun pupil hitam itu seperti bilah pisau yang tajam. "Benarkah? Aku bahkan datang ke kampus ini kurang dari satu tahun dan aku menemukan spanduk dilarang membuang sampah sembarangan di semua tempat. Apa kamu memiliki mata? Bagaimana bisa kamu tidak pernah melihatnya?" Xie Lian tertawa dingin, dia tiba-tiba menunjuk orang yang lewat secara acak lalu memintanya berhenti, "Kamu, apa kamu tahu aturan dilarang membuang sampah selain di tempat sampah."
Orang acak itu tidak mengerti apa yang terjadi, dia mengedikan bahu dan menjawab ketus, "Apa yang kamu katakan? Bukankah spanduk larangan sudah ditempel dimana-mana?"
Wajah gadis itu menjadi hijau.
Orang acak itu segera pergi setelah merasakan situasi yang salah.
Xie Lian menatap sekelompok gadis itu lalu menangkat alis, "Kamu pikir aku tidak bisa marah? Kalian siapa dan beraninya mengurus kehidupan pribadiku? Aku bahkan tidak pernah melarang kalian untuk mengejar San Lang. Kalian saja yang tidak menarik sehingga dia bahkan tidak melirik kalian."
Para gadis itu menjadi marah, tapi mereka hanya diam dan menggertakan gigi karena malu. Bagaimanapun semua yang dikatakan Xie Lian adalah kebenaran.
Orang-orang yang lewat, menatap sosok Xie Lian penuh ketidakpercayaan, berpikir, "Orang ini menjadi begitu sombong dan menakutkan."
Luo Binghe dan Shen Qingqiu kebetulan juga melihat kejadian itu, melihat Xie Lian yang dengan lancar menasehati sekelompok gadis pencinta San Lang. Luo Binghe tidak bisa menahan diri untuk bertepuk tangan.
Shen Qingqiu meliriknya, "Apa yang kamu lakukan?"
Luo Binghe sedikit tertawa, "Aku akhirnya mengakui dia seorang gong sejati."
Mendengar itu, alis Shen Qingqiu terajut, merasa mungkin dia salah dengar, "Gong katamu?"
Luo Binghe mengangguk dan bercerita dengan antusias, "Sulit dipercaya tapi diantara mereka, Xie Lian adalah yang diatas. Aku akhirnya mengerti pepatah jangan melihat sesuatu dari covernya. Siapa sangka San Lang yang selalu terlihat sombong selalu kalah dalam permainanan ranjang."
Shen Qingqiu membayangkan dan tertawa terbahak-bahak. "San Lang? Orang itu dibawah? Apa dia kurang besar? Hahahaha payah sekali–TUNGGU BUKANKAH AKU JUGA!"
Luo Binghe, "....."
Shen Qingqiu ternyata lupa bahwa dia juga selalu dibawah. \( ̄▽ ̄;)/
KAMU SEDANG MEMBACA
[BL] [END] A Guy With Cold Face (Heavenly Official Blessing FF Modern AU)
FanfictionPemuda itu sangat tampan dengan rahang tegas dan kulit seputih salju namun tidak pucat. Rambutnya hitam berkilauan dengan poni menjuntai menutupi mata kanannya. Auranya misterius namun disisi lain juga nampak lembut. Benar-benar semurni giok. Xie L...
![[BL] [END] A Guy With Cold Face (Heavenly Official Blessing FF Modern AU)](https://img.wattpad.com/cover/180057356-64-k771777.jpg)