Pemuda itu sangat tampan dengan rahang tegas dan kulit seputih salju namun tidak pucat. Rambutnya hitam berkilauan dengan poni menjuntai menutupi mata kanannya. Auranya misterius namun disisi lain juga nampak lembut. Benar-benar semurni giok.
Xie L...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam itu Xie Lian membaca dengan hati-hati buku petunjuk pemakaian ponsel pintar. Sebenarnya sejak dulu, saat ibunya membelikan ponsel pintar, Xie Lian akan mengabaikan buku petunjuk ponsel lamanya. Namun kali ini berbeda, ini pemberian San Lang dan gratis! Ia tidak mau tangan sialnya merusak ponsel itu.
Suara ketukan pintu membuat Xie Lian tersentak karena terkejut, ia menoleh dan mendengar suara berat San Lang di luar. "Gege, boleh aku masuk?"
Xie Lian mengangguk, "Masuklah."
Pintu dibuka, menampilkan San Lang nampak segar dengan pakaian tidur dan rambut basah sehabis mandi. Pemuda itu tersenyum dan tertawa kecil melihat Xie Lian memegang buku petunjuk pemakaian. "Kau kesulitan?"
Xie Lian menggeleng dan tertawa. "Tidak juga, aku hanya membacanya untuk berjaga-jaga."
San Lang berjalan mendekat, duduk di ranjang dan mengeluarkan ponsel pintarnya. "Kalau begitu ayo bertukar ID." Xie Lian mengangguk tanpa ragu, ia membuka aplikasi chat di ponsel pintarnya dan membuka barkot ID nya sebelum memberikan ponsel barunya pada San Lang untuk di pindai. San Lang memindai barkot ID milik Xie Lian. Sepasang mata hitam jernih itu melebar melihat foto profil akun Xie Lian. Foto itu menampilkan bunga bermahkota putih dengan garis membentuk segitiga berwarna merah di setiap bagian tengah daun mahkotanya.
"Gege ini tulip bulp?" San Lang bertanya.
Xie Lian terkejut lalu kemudian balik bertanya dengan antusias. "Jadi itu namanya! San Lang tahu bunga ini?"
Tulip bulp; disebut juga tulip mania (Tulpemanie[Belanda]) Bunga tulip cantik asal Belanda dan terkenal sebagai tulip termahal. Harga benih bunga ini mencapai 7 juta rupiah.
Kening San Lang berkerut samar, ia menaikan sebelah alis. "Gege tidak tahu?"
Xie Lian menggeleng dengan tawa sumbang kemudian berkata, "Aku hanya merasa bunga ini sangat cantik jadi aku memotretnya dari taman depan. Aku harap San Lang tidak keberatan."
Tawa rendah San Lang terdengar, ia menjawab dengan tulus. "Gege boleh memotret apapun yang gege mau, San Lang tidak mungkin keberatan."
Xie Lian mendesah kagum lalu melanjutkan bertanya, "Aku melihat bunga ini cukup banyak di tanam di taman depan, San Lang yang menanamnya?"
"Apa ada yang aneh dengan seorang pemuda menanam bunga?"
Xie Lian buru-buru menggeleng, "Tidak sama sekali, maafkan aku, apa pertanyaanku membuatmu tidak nyaman?"
San Lang tertawa, "Tentu tidak! Gege berhentilah bersikap canggung padaku oke?" San Lang mengambil jeda, ada sedikit perubahan ekspresi di wajah tampannya. Yang semula sedingin es dalam badai salju kini menjadi sehangat bunga sakura di musim semi. San Lang membuka suara, "Tulip bulp bunga yang istimewa, gege tahu? Pada abad ke 17 para orang kaya akan rela mengeluarkan uang sebesar 5000 dolar demi satu tunas bunga ini. Mereka bahkan menjual rumah dan lahan mereka hanya demi membeli benih bunga ini."