Pemuda itu sangat tampan dengan rahang tegas dan kulit seputih salju namun tidak pucat. Rambutnya hitam berkilauan dengan poni menjuntai menutupi mata kanannya. Auranya misterius namun disisi lain juga nampak lembut. Benar-benar semurni giok.
Xie L...
Setelah membayar. Xiao An membawa Hua Li pulang. Meski baru berumur delapan belas tahun, Hua Li sudah memiliki apartemennya sendiri yang terletak di pusat kota Guangzhou. Mansion orangtuanya terletak di pinggiran kota, menjorong kearah perbukitan asri dan sunyi, selain itu tempatnya sangat jauh dari sekolahnya.
Saat dia berulang tahun ke tujuh belas. Hua Li yang tidak pernah meminta hadiah akhirnya meminta di belikan apartemen baru yang dekat dengan sekolahnya. Sekolah Hua Li adalah yang terbaik di Guangzhou dan dilengkapi dengan fasilitas asrama. Tapi Hua Li seorang introvert kelas berat. Dia tidak tahan berada di satu kamar dengan orang lain.
Xiao babanya sebenarnya mengetahui sifat putera angkatnya yang antisosial dari telepon para guru yang melapor. Meski khawatir, Xie Lian tidak ingin mendesaknya untuk berubah secepat mungkin. Dia tahu semenjak Hua Li diambil dari panti asuhan, perubahannya dari orang yang bahkan tidak mau berbicara menjadi seperti sekarang adalah sebuah pencapaian besar. Di balik semua itu, Xie Li sangat bangga pada puteranya. Jadi dia dan Hua Cheng dengan senang hati mengabulkan permintaannya.
Hua Cheng memberikan Hua Li apartemen mewah dengan interior minimalis yang merupakan bagian dari salah satu kondomonium milik Hualian.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ketika mobil SUV merah berhenti di basement, Hua Li yang akan memberi ucapan selamat tinggal menjadi kebingungan karena pria ini mengikutinya keluar dari mobil.
"Ayahmu meneleponku, dia memintaku untuk menjagamu selama mereka di Jepang."
Hua Li sudah terbiasa ketika Xiao An menjadi pengawalnya, dia bertanya dengan wajah datar, "Aku sudah di rumah. Kakak tidak perlu mengawalku sampai pintu."
"Maksud ayahmu adalah.. Aku diminta menjagamu dengan sangat ketat. Akhir-akhir ini, pesaing bisnis bos tampak melakukan pergerakan aneh, dia takut orang-orang itu akan menyerangmu."
"Lalu?" Hua Li masih tidak mengerti.
"Lalu aku akan menjagamu dimanapun. Aku akan menginap malam ini." Xiao An berkata dengan serius, meski hatinya berwarna-warni seperti pelangi.
Mata remaja itu mengerjap, dia tidak menolak, namun merasa bingung, "Bukankah ini kondomonium Hualian? Baba bilang tempat ini sangat aman."
Bibir Xiao An berkedut, anak ini selalu bertanya sehingga dia hampir kesulitan mencari alasan. Otak cerdasnya entah bagaimana menjadi macet, "Sebenarnya toiletku tersumbat beberapa hari ini dan apartemenku menjadi bau kotoran. Aku tidak sanggup pulang."
"............"
Wajah Hua Li menjadi hijau, "Itu menjijikan. Kenapa tidak memanggil jasa pelayanan?"
"Tidak sempat!" Xiao An kesal, dia menarik tangan Hua Li memasuki lift, "Sampai kapan kamu akan bertanya, bukankah seharusnya kamu membawaku masuk dan memberiku secangkir teh."