Xiao An hapal bahwa jam 12 siang adalah waktu istirahat untuk Hua Li di sekolahnya. Asistennya mengatakan bahwa dia tidak punya jadwal rapat dua hari kedepan, memikirkan dia dapat menghabiskan waktu selama dua hari dengan bebas bersama Hua Li membuat mood Xiao An sangat baik hari ini.
Dia melihat jam di dinding, memutuskan untuk mengajak calon istri kecil itu makan siang bersama. Xiao An menghubungi ponsel Hua Li, namun tidak ada jawaban. Xiao An tidak berpikir banyak karena Hua Li memang selalu lambat dalam mengangkat telepon. Dia memutar nomor dan kembali menelepon, namun setelah tiga kali, Hua Li masih belum mengangkat teleponnya.
Alis Xiao An terajut, dia kembali memasukan nomor Ah Li dan menekan tombol panggil. Sepuluh detik, telepon itu tersambung, Xiao An berteriak kesal, "Ah Li, kenapa kamu lama sekali mengangkat telepon dariku?!"
"Maaf."
Mata Xiao An melebar, ini suara wanita. Hah? Siapa wanita ini?! Apa jangan-jangan kekasih...Tidak mungkin! Dia tidak akan membiarkan Hua Li menjadi lurus.
"Siapa kamu?" Xiao An bertanya, nada suaranya dingin.
Orang di telepon bergidik, dia menjawab terbata-bata, "Hua Li tidak ada di kelas. Aku..aku mengangkat telepon atas suruhan guru karena suara ponselnya menganggu pembelajaran."
"Hah?!" Xiao An terkejut, "Hua Li tidak masuk kelas?"
"En." Gadis itu menjawab, "Sudah dua puluh menit dan dia belum datang."
"Apa?!"
Xiao An tiba-tiba merasakan firasat buruk. Dia tahu bahwa Hua Li adalah murid yang rajin dan disiplin. Dia tidak pernah bangun kesiangan, selalu sarapan tepat waktu, mengatur jam belajar dan jam bermain dengan sangat teratur. Xiao An menutup sambungan telepon. Memgambil jaketnya dan berlari ke mobilnya.
Hua Li terengah-engah, dua orang pria yang lebih besar darinya menahan tangan kanan dan kirinya. Membuatnya tidak bisa bergerak, dia berusaha membebaskan diri, menggigit tangan orang yang memegangi lengannya. Pria yang digigit terkejut, marah dan langsung memukul pipi Hua Li yang halus dengan kepalan tinju.
Pria itu, "Dia benar-benar liar, pantas saja disebut mawar berduri."
Hua Li terjatuh di lantai, kemeja seragamnya robek dan wajahnya memiliki lebam kebiruan. Pria yang lebih besar tersenyum nakal, "Meski begitu, dia tetap cantik. Kalian pegangi dia, aku sudah tidak tahan lagi."
Teman-teman pria itu tertawa, mereka semua memiliki eskpresi cabul. Hua Li mendelik, matanya bersinar dingin, "Apa salahku sehingga kalian melakukan ini?!"
Tendangan melayang mengenai bahu Hua Li, pria yang menendang adalah orang yang dia tolak beberapa waktu lalu, "Kamu masih bertanya? Kamu pikir setelah kamu menolakku dan membuatku ditatap seakan aku seorang pecundang oleh semua orang. Aku tidak akan menaruh dendam padamu?" Pria itu menarik rambut Hua Li, mengangkat kepalanya hingga wajah cantik itu berhadapan dengan wajahnya, "Aku membencimu sampai ke tulang!"
Hua Li ketakutan namun eskpresinya tidak gentar seolah-olah tidak ada kata menyerah. Pria itu menyeringai dan apa yang dilakukan oleh orang itu membuat napas Hua Li nyaris berhenti.
Orang itu melepas celananya dia mendorong pria yang lebih besar untuk minggir, berkata dengan dingin, "Maafkan aku, tapi kali ini biarkan aku lebih dulu."
Pria lebih besar itu mengangkat bahu, menyingkir.
Mata Hua Li melebar, dia akan berdiri ketika pria itu menendang kuat kakinya hingga tubuh Hua Li jatuh kembali. Hua Li meringis, dia beringsut mundur tapi gerakan pria itu cepat. Dia seketika sudah menindihi tubuh Hua Li yang kecil.
Hua Li berteriak, dia berusaha mendorong pria itu namun pria itu sudah menahan kedua tangannya. Wajah pria itu menakutkan, hampir serupa dengan ayahnya dulu. Air mata Hua Li mengalir ketika kepala pria itu mendarat di lehernya, mencium aroma susu yang menyegarkan. Hua Li menggigit bibir, dia menangis. Tanpa dia sadari mulutnya berbisik.
"Tolong aku, kakak An."
Tiba-tiba terdengar suara hantaman benda keras. Cahaya menyelinap masuk ketika pintu didobrak paksa hingga terbuka. Sekelompok pria itu terkejut, mereka marah, "Brengsek! Siapa yang berani...ARGHH!"
Pria yang berada di atas Hua Li menoleh ke belakang, wajahnya memucat ketika seorang pemuda tinggi berpakaian mewah menerjang kearahnya dan memukul kuat wajahnya. Kekuatan itu sangat besar, pria itu terhempas ke belakang. Dia kesakitan, menyumpah, "Siapa yang berani memukul tuan muda ini?! Apa kamu tidak tahu aku adalah anak kepala sekolah?!"
Akan tetapi pemuda yang memukulnya tidak peduli. Xiao An menatap pria itu tajam dan menusuk, dia berkata, tegas dan dalam, "Siapapun yang menyentuh kekasihku, aku tidak akan membiarkannya hidup."
"Kamu!"
Xiao An tidak memperdulikan orang itu, dia menghampiri Ah Li yang terluka dan berantakan. Wajahnya semakin suram, membuat udara di sekitarnya turun beberapa derajat. Pakaian Ah Li robek, membuat tubuh putih bersih sebening giok itu terpapar. Xiao An berjongkok, dia melepaskan jasnya dan menyampirkannya di tubuh Ah Li.
Ah Li kelelahan, dia hampir kehilangan kesadaran. Namun bayangan buram pemuda di depannya masih dia lihat, "Kakak An?"
Xiao An getir, dia mengepalkan tangan. Melihat kekasihnya seperti ini, hati Xiao An sakit seperti tertusuk ribuan pedang, dia menjawab, "Aku disini. Jangan khawatir, kamu akan baik-baik saja."
Hua Li memejamkan mata, dia akan tertidur ketika bergumam, "Terima kasih."
Saat itu, Hua Li memiliki mimpi lima tahun lalu. Dia berada di ruang keluarga mansion orangtua angkatnya. Xiao baba melihat dia yang memainkan sebuah rubik kubus dan tertawa, "Hadiah dari kakak An?"
Hua Li tersenyum, mengangguk, "Hadiah ulang tahunku." Dia tampak senang.
Hua Cheng mendengus, "Kamu mau saja menerima hadiah murah seperti itu? Buang saja, besok baba akan membeli perusahaan pembuat rubik murahan itu untukmu."
Xie Lian cemberut, dia memukul lengan Hua Cheng, "Kamu pikir Hua Li anak berumur berapa? Untuk apa kamu memberinya perusahaan."
Melihat wajah istrinya yang cemberut, Hua Cheng panik, "Mak..maksudku untuk investasi ketika Hua Li sudah dewasa."
Xie Lian menghela napas, dia mengusap rambut Hua Li dan tersenyum, "Sekecil apapun hadiahnya. Selama orang yang memberinya tulus maka itu akan menjadi barang yang berharga."
Hua Li melihat rubik kubus di tangannya, tersenyum manis, "Menurut Xiao baba, apa kakak An tulus memberikan hadiah ini padaku?"
Xie Lian tertawa, dia menggoda, "Tentu saja tulus. Kakak An sangat menyayangi Ah Li. Kalian berdua sudah seperti saudara kandung, bukan? Hampir tidak terpisahkan."
Senyum Hua Li luntur, dia menatap Xie Lian dengan sepasang mata hitam besar. Melihat perubahan ekspresi puteranya, Xie Lian berhenti tertawa dan panik. Berpikir apa dia salah bicara di suatu tempat.
Namun tiba-tiba Hua Li bertanya, "Apa kakak An menganggapku sebagai saudara?"
Xie Lian menjawab seakan itu sudah pasti, "Tentu saja, dia seperti kakak bagi Ah Li, bukan?"
Hua Li bertanya lagi, "Apa Baba menganggap Xiao baba sebagai saudara?"
Hua Cheng menjawab ketus, "Tentu saja tidak! Xiao Baba adalah istri Baba, itu berbeda dengan saudara."
Wajah Hua Li tenggelam, Xie Lian memperhatikan itu dan bertanya, "Kenapa Hua Li bertanya seperti itu?"
Hua Li tiba-tiba mengangkat kepalanya, menatap kedua orangtuanya dengan mata polos namun bersinar, dia berkata dengan sungguh-sungguh.
"Aku tidak ingin kakak An menganggapku saudara."
Hua Cheng dan Xie Lian tersentak.
"Aku ingin kakak An melihatku seperti Baba melihat Xiao Baba."
Bersambung.......
Last update: 14/12/2019
KAMU SEDANG MEMBACA
[BL] [END] A Guy With Cold Face (Heavenly Official Blessing FF Modern AU)
FanfictionPemuda itu sangat tampan dengan rahang tegas dan kulit seputih salju namun tidak pucat. Rambutnya hitam berkilauan dengan poni menjuntai menutupi mata kanannya. Auranya misterius namun disisi lain juga nampak lembut. Benar-benar semurni giok. Xie L...
![[BL] [END] A Guy With Cold Face (Heavenly Official Blessing FF Modern AU)](https://img.wattpad.com/cover/180057356-64-k771777.jpg)