"Tujuh," suara pembuka yang lumayan membuat Sakura tertarik untuk menoleh, apa-apaan ibunya itu, bukan waktunya berhitung pagi-pagi begini, mana langsung tujuh pula.
"Tujuh hari, kau cemberut terus seperti nenek-nenek kehilangan gigi palsu," Sakura menaikan kedua bahu setinggi-tinggi nya, sedang malas berbicara soalnya.
"Kenapa? Biasanya marah tidak sampai satu hari,"
"Aku sedang kesal bu, jangan ajak aku bicara deh," akhirnya keluar juga suara cempreng itu, sudah lama sekali rasanya tak ada suara yang membuat pengang itu di rumah ini.
"Kesal pada siapa?"
"Pada diriku sendiri,"
"Eh apa coba ulang," tak pernah sebelumnya Tsunade mendengar ucapan sejenis itu keluar dari mulut Sakura, waduh jangan-jangan dia terkena virus aneh di luar sana.
"Ih ibu, kalau di paksa begini aku kan jadi ingin cerita,"
"Yasudah cerita saja sih, biasanya juga cerita tanpa harus ibu paksa-paksa dulu," selai kacang yang sudah terbalut rapi di roti sekarang tampak begitu malang karena Sakura lebih memilih untuk berdiam diri sebentar.
"Tapi ibu janji dulu jangan malu punya anak seperti aku," ibunya mengangguk, ikut-ikutan menelantarkan roti yang hanya diisi oleh susu kental manis.
"Sasuke sakit-----"
"Oh, cerita begitu kenapa harus pakai rahasia-rahasiaan segala sih, ibu akan dengan tulus mendoakan Sasuke agar cepat sembuh," potong sang ibu membuat Sakura sedikit mengerucutkan bibir.
"Dan aku malah jalan-jalan dengan Neji, tersenyum dengan dia sepanjang hari, aku ...jahat 'kan bu?" Ibunya menggeleng dengan yakin, kejadian seperti itu dulu dia juga pernah melakukannya.
"Tidak, lalu apa Sasuke tau makanya kau cemberut terus?"
"Tidak, aku ingin memberi tahu dia secara langsung, ingin meminta maaf dengan benar, bukan di ponsel, bukan di email," Tsunade mengelus rambut Sakura dengan lembut sambil tersenyum.
"Kebetulan yang bagus, ayah akan dinas keluar kota selama tiga hari, mau menemui Sasuke?"
"Mauu buuu," mereka berdua pun akhirnya tersenyum bersama-sama, wajah cemberut itu sudah tak terpasang lagi.
***
Sakura memegang dengan hati-hati kue berbentuk wajah Sasuke buatannya sendiri dengan sangat teliti selama berada di dalam pesawat, dia bahkan melewatkan tidur dan tak bersender pada kursi dengan benar, dia ingin kuenya tetap terlihat bagus karena dari rasa sudah enak sekali, dia yakin.
"Tidak pegal tegap begitu dari tadi?" Sakura menggeleng jika saja matanya mengeluarkan api semangat mungkin sudah keluar.
"Sini gantian saja dengan ibu, kasihan kamu, nanti pegal,"
"Tidak usah ibu," bukannya berpikiran buruk atau apa Sakura tak yakin ibunya akan menjaga kue ini seteliti dia, dia kan sedang malas marah, jadi dia memutuskan untuk memegangnya sendiri.
"Awas nanti nangis kalau tubuhmu pegal,"
"Tidak akan bu," Tsunade mengangguk lalu kembali bersender pada kursi nyaman itu sambil memindahkan film.
"Jangan, aku sedang asyik nonton Lion king," karena malas berdebat Tsunade pun memilih untuk menghentikan jarinya untuk memindahkan channel, lebih baik dia tidur saja.
"Nah gitu dong tidur," Sakura merasa pundaknya sakit lalu bergeser sedikit, karena tak melihat-lihat dulu lengannya terantuk senderan kursi, menghasilkan sebuah efek kejut untuk dirinya sendiri saat ia melihat kue itu lepas landas begitu saja, dia hanya bisa berdiam diri alih-alih berteriak.
KAMU SEDANG MEMBACA
So Long!
Fanfiction"Tahun ini ayah tidak akan mengirim satu anak khusus untuk mengajariku kan? Aku ingatkan mulai sekarang, itu tak akan berhasil," P.S : ini cerita dibuat tahun 2019, jadi kalau alurnya mirip sinetron dan alay bgt mohon maaf ya O:) © Mashashi Kishimo...
