Percayalah aku lebih memilih satu hati mu yang tak pernah tergapai dari ribuan hati lainya yang terbuka lebar.
————————————————
"Kenapa sayang?" Tanya suara itu terdengar lembut penuh perhatian. Hingga nayya mendongak terkejut.
Arkan hanya menaikan alis nya sebelah. Ia mendekatkan wajah nya. "Kenapa.sayang?" Ulang nya dengan ditekan agar lebih terdengar jelas oleh nayya.
Nayya mengerjapkan mata nya dengan polos. Ia menggelengkan kepalanya. Ia menghembuskan napas nya pasrah. Harusnya tadi ia tidak kesini ia tidak pernah naik bianglala. Dan baru naik saja rasanya sudah lemas.
Tak lama wahana itu terputar. Sampai keringat dingin itu mengucur di sekitar pelipisnya. Ia berdoa dalam hati semoga hanya satu putaran. Dan tepat di atas wahana yang berputar dari atas ke bawah itu berhenti. Hingga membuat beberapa orang memekik.
Nayya melotot langsung melihat ke bawah dan setelah melihat ke bawah ia kaget lalu segera kembali duduk dengan lemas. Arkan hanya tersenyum geli salah satu ekspresi nya yang jarang ditampilkan dan tidak dia sengaja. Kenapa gadis di samping nya ini ingin sekali menaiki ini sedangkan dia saja sudah gemetaran seperti itu.
"Kenapa? Ntar juga bakal muter lagi, sengaja orang nya mau buat lo panik." Katanya dengan ekspresi geli.
Nayya mendongak dengan wajah polos. "Entar muter lagi?" Tanyanya.
Arkan mendengus geli. Lalu mengangguk. "Iyya." Kata arkan. "Duduk diem dan jangan liat ke bawah lo tunggu sebentar lagi juga bakal jalan." Lanjutnya santai.
Lalu menoleh ke samping melihat pemandangan yang terlihat dari atas sini.
Nayya terngaga sebentar baru pertama kali arkan bicara dengan nada halus dan santai itu. Sadar diperhatikan arkan kembali menoleh. Membuat nayya langsung memalingkan wajah nya malu. Arkan menaikan satu alis nya. "Kenapa? Lo baru bisa liat gue dari deket?" Tanya nya santai namun nadanya tetap datar.
"Eh-i-iyya." Katanya pelan. Cowok ini selalu tidak bisa ditebak di luar dingin namun sekarang berubah hangat, sepertinya ia bersama orang yang berbeda saat ini, ini pasti kembaran arkan, oh tidak tidak dia berhalusinasi saja.
Dia harap Arkan akan terus seperti ini. Oke dia akan mencairkan sepenuhnya kutub es di diri arkan mulai saat ini.
Sedang asik bersama lamunan nya ia tersentak kaget karna tempat ini bergerak. Benar orang-orang langsung bersorak senang karna wahana kembali diputar. Setelah sadar Nayya menghembuskan napas lega. "Huhh akhirnya jalan juga." Lirih nya namun bisa terdengar Arkan. Arkan hanya mengangkat kedua alis nya tanpa bertanya atau menjawab toh sudah ada jawabanya bahwa gadis ini takut.
Setelah usai mereka langsung duduk di tempat duduk yang sudah disediakan di samping wahana itu. Nayya menghembuskan napas lega. Gila rasanya seperti digantung di menara sangat tinggi. Ia bahkan melupakan panggilan 'sayang' dari arkan tadi.
APA!? Ia mengerjapkan mata nya berulang kali lalu menoleh ke arkan yang sedang menyandarkan punggung nya ke sandaran kursi dengan mata terpejam. "Arkan," Panggilnya pelan. Arkan membuka mata nya. Lalu menoleh dengan satu alis terangkat.
"Ta-tadi lo manggil gue sayang?" Tanya nya takut-takut. Takut jika itu hanya halusinasinya atau arkan tidak sengaja menyebutkan nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARKANAYYA [COMPLETED]
Teen Fiction[BEBERAPA CHAPTER DI PRIVAT FOLLOW DULU SEBELUM BACA] "Arkan aku cinta kamu," Jeda sebentar, "Kamu juga kan?" "Enggak. Lo tau sendiri kita pacaran karna taruhan. Lupa hm?" "Arkan tapi aku sayang beneran sama kamu." "Tapi gue enggak! Pergi! Atau lo b...
![ARKANAYYA [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/205703444-64-k663877.jpg)