53.BERTAHAN TANPA PEGANGAN

11.2K 523 35
                                        

Bertahan tapi tak ada yang menahan, pergi tapi tak ingin pergi, dan ingin menghilang walau hati menginginkan pulang.
---------------------


Now playing|•Mahen-luka yang kurindu•|

*****



Radar tersenyum menatap wajah lekat adiknya yang sangat terlihat polos. "Cepat bangun tuan putri abang."

Matanya kembali memanas melihat wajah dan lengan adiknya yang memar kebiruan. Tangan nya terkepal kuat. Kenapa gue gak bisa ngelindungin adik sendiri!?

Pintu dibuka memperlihatkan sosok laki-laki berdiri tegap. Radar tersenyum sekilas. "Woi bro!" Sapanya.

Samudera tersenyum dia mendekat. "Lo gak adil bang, kenapa baru hubungin gue sekarang, dan gue harus tau duluan dari sekolah,"

Radar tersenyum tidak enak. "Sorry tapi gue lagi kalang kabut malem itu," Samudera mengangguk maklum.

"Jadi udah fix bakal pergi?" Tanya samudera sambil menatap lekat wajah Damai nayya.

Radar mengangguk dengan senyum sedih. "Gue tau lo yang selalu ngelindungin adek gue, thanks ya sam."

Samuedera menggeleng. "Dia tuan putri gue bang, gue selalu ingin buat dia senyum bukan nangis sama apa yang diajarin nyokap. Bahkan yang bikin gue nyesel saat gue telat buat ngelindungin dia," Ujarnya sambil menunduk. Mengapa dia memilih tidak menemani nayya ke pesta pertunangan arkan kemarin kalau bisa dia akan memutar waktu. Harusnya dia bisa menguatkan nayya bukan malah menjadi orang yang sangat emosi.

Radar menggeleng. "Semuanya takdir."

"Lo gak ada rasa sama adek gue?" Tanya radar iseng. Samudera mendongak kaget. Dia menggeleng kecil.

"Gue tau bang, bahagia gak bisa dipaksakan sama siapa, itu yang gue tau selama kenal cewek seunik nayya," Ujar samudera membuat radar semakin merasa rindu pada adiknya.

"Maaf gue gak bisa ikut nemenin nayya, tapi gue pikir masih ada dita kan sahabat nya. Gue yakin dia kuat." Ucap samudera tersenyum tipis.

Radar tersenyum kecil. "Yaa, gue salut dia mau nemenin adik gue suka duka." Samudera ikut tersenyum.

Radar bangkit. "Gue beli minum dulu ya, titip adik gue bentar." Samudera mengangguk. "Santai bang."

Setelah pintu ditutup samudera duduk ditempat yang tadinya diduduki Radar. Tangan nya terulur diatas puncak kepala nayya. Dia menatap lekat wajah nayya yang selalu nampak manis dalam apapun. Senyum nya mengembang pahit saat melihat selang oksigen yang menutupi sedikit wajah manis nayya.

Mata yang selalu nampak berbinar itu kini terpejam rapat. Bulu mata yang biasanya selalu tergerak itu sekarang tidak. Bibir yang biasanya selalu mengoceh itu terkatup rapat. Senyum yang biasanya selalu mengembang dalam keadaan apapun kini hanya tersenyum kaku.

"Gue telat ya nay?" Ujar samudera dengan suara serak.

"Gue juga gak lebih daripada bodoh ya nay?"

"Ayo nay bangun pukul gue kayak biasanya jangan cuma diem kayak gini, lo lemah nay!" Samudera terkekeh hambar. Dia memejamkan matanya sejenak.

ARKANAYYA [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang