Pernah sakit tapi sepertinya tak pernah ada yang lebih sakit dari ini, karna kamu penyebab luka ini.
--------------------
Mata Arkan membelalak sempurna. Tangan nya terkepal kuat.
"Hai kamu."
"Boleh aku duduk?" Tanya cewek itu menunjuk tempat kosong disamping Arkan. Arkan sontak berdiri. tangan nya gemetar memegang bahu cewek itu. Mata nya benar-benar menampakkan ketidakpercayaan.
"Viona."
Cewek itu tersenyum lembut. Sama seperti saat dulu yang terakhir kali ia lihat. "Aku bisa jelasin, duduk dulu ya?" Arkan mengangguk. Ia duduk. Viona mengikuti dalam diam. Sedangkan kedua teman Arkan benar-benar masih melongo.
Viona menoleh dengan senyuman kecilnya. "Aku tau kalian bingung, tapi tutup mulut nya dulu ya." Gadis itu kembali tersenyum sendu. Ia sangat rindu terhadap semuanya. Dengan kedua sahabat dan cintanya ini.
Arjun sontak memukul meja dengan sedikit keras oke ralat sangat keras, hingga membuat beberapa pengunjung terganggu, tapi ia tak memperdulikan itu. "Apa maksudnya ini semua?"
Viona menunduk. "Maaf sebenarnya aku yang salah, selama ini aku di amerika."
Pernyataan itu membuat semuanya menatap heran. "Kenapa?" Tanya Arkan datar. Ia masih membutuhkan jawaban dari seluruh pertanyaan diotak nya. Rasa rindu nya ia biarkan dulu biar gengsi yang kini didepannya.
Viona mendongak. "Karna aku gamau kamu ikut aku dan sedih nantinya," Arkan menggeleng tak habis pikir.
"Dengan lo pake cara pura-pura mati? Vin! Lo gak sadar gue mati rasa saat tau lo udah gak ada!?"
Viona meneteskan air matanya. Ia menggeleng samar lalu terisak pelan. "Itu jalan satu-satunya dulu, itu yang harus kamu ikhlasin, kalo saat ini aku udah gak ada jadi kamu udah lama ngelupain itu."
"Justru lo yang bikin gue kayak gitu sampe sekarang." Ujar arkan dengan suara rendah hampir seperti bisikan.
Kedua teman arkan melempar pandangan. "Kita duluan kan." Kata mereka lalu berlalu. Mereka berdua membutuhkan waktu ia tau tapi ada satu hal yang mengganjal dipikiran mereka. Nayya! Mereka sudah sangat ingin arkan dengan nayya lalu sekarang ada Viona, lalu bagaimana dengan arkan yang akan memilih siapa nantinya? Apapun itu mereka hanya bisa berkomat-kamit berdoa yang terbaik.
Sekonyol apapun Arjun, secuek apapun nando mereka juga khawatir, mereka bersahabat sudah dari kecil, salah satu sedih bagaimana mungkin bisa tertawa riang? Begitupun dengan masalah sebisa mungkin mereka bagi walau kadang arkan yang terlalu susah karna cowok itu lebih memilih menyelesaikan nya sendiri.
Mereka ingat bagaimana arkan menangis saat tau Viona sudah tidak ada di dunia. Mereka juga tau kesedihan mendalam cowok itu. Siapa bilang cowok dingin tidak punya masa lalu yang kelam. Hanya orang terdekat arkan yang tau dan tidak ingin membahas soal Viona jika didekatnya takut membuat cowok itu kembali sedih meskipun setiap saat keduanya yakin cowok itu juga tetap sama sedihnya walau di ekspresi datarnya.
"Maaf." Lirih viona kembali. Arkan memeluk tubuh itu. Ia memejamkan mata menikmati sosok yang sudah lama ia rindukan. Matanya mengerjap beberapa kali. Kenapa rasa rindunya seakan hilang? Mengapa rasanya hambar? Mengapa ada yang kurang?
KAMU SEDANG MEMBACA
ARKANAYYA [COMPLETED]
Teen Fiction[BEBERAPA CHAPTER DI PRIVAT FOLLOW DULU SEBELUM BACA] "Arkan aku cinta kamu," Jeda sebentar, "Kamu juga kan?" "Enggak. Lo tau sendiri kita pacaran karna taruhan. Lupa hm?" "Arkan tapi aku sayang beneran sama kamu." "Tapi gue enggak! Pergi! Atau lo b...
![ARKANAYYA [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/205703444-64-k663877.jpg)