Setapak demi setapak pelangi melangkahkan kakinya memasuki pekarangan rumahnya. Belum sempat ia membuka pintu, pintu sudah di buka oleh ayahnya.
"Darimana aja kamu Pelangi? Baru pulang jam segini? ayah tadi dapat telepon dari guru kamu. Katanya kamu nggak masuk sekolah? Bener itu?" Tanya Bima yang menunjukkan kemarahannya.
"Hmm" Jawab singkat pelangi lalu menerobos masuk, yang membuat Bima mengepalkan tangannya menahan emosi.
"Kamu kenapa selalu kayak gini?! Sekarang kamu sudah berani bolos dan selalu pulang sore bahkan malam. Harusnya kamu itu contoh kakak kamu, dia selalu sopan sama orang tua dan kelakuannya tidak seperti kamu!"
Maura yang mendengar perkataan Bima tersenyum puas." Mampus lo, emang enak dimarahin." Batin Maura.
"Terus mau ayah apa?! Ayah nyuruh pelangi buat mencontoh kelakuan Maura yang suka ngabisin uang ayah, beli barang-barang branded yang nggak berguna!"
Maura yang mendengar itu langsung berjalan mendekati pelangi dengan mengepalkan tangannya." Heh! Dengerin ya, gue emang suka beli barang-barang branded. Tapi gue nggak pernah sekalipun melawan papa!"
"Lo emang enggak pernah melawan ayah secara langsung, tapi Lo melawan dengan cara halus. Lo pura-pura baik di depan ayah tetapi di belakang Lo itu bang**t!" Bentak Pelangi.
Plakk
Bima menampar pipi Pelangi, pelangi memegangi pipinya sebelah kanan yang berwarna merah dan perih akibat tamparan ayahnya.
Pelangi menatap ayahnya dengan matanya yang memerah dan akan mengeluarkan air mata." Tampar! Tampar aja pelangi kalo itu bisa membuat ayah bahagia. Ayah pikir dengan cara ayah yang seperti ini bisa membuat pelangi berubah?! Nggak! Pelangi justru makin benci sama ayah!"
Setelah mengucapkannya pelangi langsung berlari meninggalkan rumah dengan air mata yang terus mengalir. Ia tidak peduli dengan suara petir yang bergemuruh di langit.
Ia terus melangkah kakinya dengan isakan tangis. Sampai-sampai ia tidak melihat jika ada mobil yang melaju ke arahnya. Pelangi menyadari jika ada sorotan lampu. Ia menolehkan kepalanya."Aaaaaaaaaaaa.." teriak pelangi dengan menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
Pengemudi mobil itu membulatkan matanya lalu mengerem mendadak mobilnya yang menimbulkan suara decitan. Dengan tergesa-gesa ia melepaskan sabuk pengaman dan keluar dari mobil.
Pelangi masih menutup wajahnya tetapi sekarang ia duduk di aspal dengan tubuh yang masih gemetar, jantung pelangi berdetak cepat dan dengan nafas yang memburu.
"Mbak nggak papa?" Tanya orang yang hampir menabrak Pelangi. Dia mendekat lalu berjongkok di sebelah pelangi.
Pelangi mendongakkan kepalanya, matanya membulat sempurna begitupun dengan orang itu.
"Pelangi!"
"Samudra!"
Dengan sigap pelangi memeluk samudra." Hiks... Samudra hiks... Gue takut hiks hiks." Pelangi menumpahkan air matanya di pundak samudra.
Samudra membalas pelukan Pelangi dan mengelus-elus punggung Pelangi." Ssttt... Udah nggak usah takut, ada gue disini." Ucap Samudra.
Samudra melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Pelangi yang sudah basah karena air mata." Kenapa Lo bisa ada di sini? Ini udah malem." Ucapnya lembut.
"Gue hiks... Hiks.." Pelangi tidak bisa untuk melanjutkan kalimatnya, lidahnya susah untuk mengatakannya. Samudra mengerti hal itu.
Samudra menegakkan tubuh Pelangi lalu berjalan pelan-pelan ke arah salah satu kursi yang letaknya tak jauh dari jalan. Lagipula jalannya juga sepi jadi samudra membiarkan mobilnya tetap pada posisinya.
Samudra mendudukkan badan pelangi secara perlahan." Jawab pertanyaan gue yang tadi." Suruh samudra.
"Pertanyaan apa?" Tanya Pelangi melirik sekilas ke arah Samudra. Samudra cengo mendengar penuturan Pelangi.
"Lah ternyata kalo orang habis nangis itu, langsung amnesia ya?" Batin Samudra.
"Kenapa sih Sam hidup gue harus serumit ini? Kenapa gue nggak bisa sedikit pun ngerasain bahagia. Gue juga pengen kayak anak lainnya yang hidup bahagia, mendapatkan kasih sayang yang lebih dari orang tuanya." Curhat Pelangi.
Samudra hanya bisa mendengarkan curhatan Pelangi, karena ia juga tidak tahu apa yang di bicarakan oleh pelangi, apa yang terjadi sama Pelangi, masalahnya Pelangi dan lainnya ia tidak tahu jadi dia memilih untuk diam.
"Kenapa tuhan nggak adil sama gue? Kenapa?. Gue capek harus pura-pura bahagia setiap hari. Gue capek pura-pura senyum. Gue capek! Kenapa harus serumit ini?!"
Samudra memeluk pelangi." Gue emang nggak tau masalah Lo apa. Tapi, Lo bisa jadiin gue sebagai sandaran di saat Lo lelah dengan semua itu."
TBC
Akhirnya up juga
Next or No?!
See you 💜
KAMU SEDANG MEMBACA
Pelangi [COMPLETED]
Roman pour Adolescents[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA!!!] Cerita pertama jadi masih banyak kesalahan! (Udah tamat! Tapi males nge revisi! Wajar kalo masih banyak typo) Samudra Arkana, seorang badboy plus playboy SMA Angkasa. Yang banyak di kagumi kaum hawa karena ketampanan...
![Pelangi [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/214164373-64-k825853.jpg)