▪︎Juna Lindraka

317 28 2
                                        

•●•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

•●•

"Jangan ganggu, kenapa sih?"

Alis Juna bertaut tidak senang. Bukannya membuat ketir, justru si pengganggu semakin tertawa menjadi- jadi.

"Usia gue udah enam belas tahun. Eh, belum, sih. Dua hari lagi!" kata laki- laki yang tingginya kalah dari Juna, tetapi tampannya tak ada bedanya itu. "Tahu gak, apa yang lebih sakit dari jempol kaki kejedot pintu?"

Juna mendengus. Isi otak adik laki- lakinya ini memang tidak ada yang benar.

"Apa? Sakit hati?" jawab Juna asal, berusaha mengembalikan titik fokusnya pada coretan kerangka ceritanya yang beberapa hari ini tak kunjung mendapat ide. Buntu.

"Bukan. Yang bener itu, sakit gigi! HAHAHAHA kelihatan banget lagi galau si Kakak," tawa anak laki- laki itu.

Ingin sekali Juna tutup mulut Jeva dengan apa saja, agar ia bisa diam setidaknya satu menit saja. Sebenarnya, Juna maklum. Ia yang menjadi satu- satunya saudara Jeva. Sejak kecil sekalipun, Juna sudah hapal betul soal Jeva. Kesukaannya, kegemaran, cita- cita, terlebih perangainya.

Tapi, risi juga ketika anak laki- laki itu terus menerus bicara seperti dengungan nyamuk.

Juna mendecak, wajahnya tidak bersahabat. Kerutan di dahi bertambah. Jeva akhirnya diam, melihat yang sedang dikerjakan sang Kakak.

"Karena gue sudah enam belas tahun—eh inget, Kak, gue ini umur enam belas tahun," oceh Jeva. Jemari tangannya turut mempertegas berapa usianya kini.

Lalu, kenapa?

Ingin Juna tanyakan itu. Apa istimewanya menjadi semakin besar, semakin tua, semakin dewasa? Nyatanya, jadi anak kecil atau remaja jauh lebih baik. Masalah- masalah tidak perlu dipikirkan terlalu larut. Paling- paling, soal perebutan bola kaki, siapa yang menutup mata dan menghitung sementara yang lain bersembunyi, hingga masalah cinta monyet.

Akan tetapi, biarlah Jeva membanggakan usianya yang sudah hampir menyentuh matang itu. Juna tidak tega mematahkan binar di mata adik kecilnya itu.

Bicara soal binar mata, Juna segera menoleh pada Jeva. Kedua bola mata anak itu memang selalu cerah. Sekalipun ia menangis karena dimarahi Papa, atau karena tidak mengerti Matematika, binarnya tetap tenang duduk di sana.

Apakah Nakaisha tak pernah sekalipun bahagia? Sehingga tak ada binar sekecil apa pun di matanya?

"Karena sudah enam belas tahun, gue juga sudah paham tentang masalah cinta lo, Kak," kata Jeva tersenyum lebar. Mendadak jadi hangat di dada Juna. Juna menatapnya terpaku.

Jeva meluruskan punggung, membiarkan kali ini matanya menyaksikan hamparan taman samping rumah dari jendela kamar sang Kakak. Sementara Juna masih diam mematung, memegang bolpoin yang tintanya mulai mengering, dan kertas yang basah oleh coretan- coretan, Jeva berkata seolah ia yang paling dewasa di antara keduanya.

"Ada dua hal yang sulit dalam urusan asmara. Pertama, manusia. Kedua, perasaan. Ada yang bertemu raga, tapi rasa justru bukan untuk satu sama lain. Ada yang merajut rasa, tapi raga dipaksa untuk gak saling menyapa." Susunan kalimat Jeva bagus, Juna mendengarkan dengan tenang.

"Lo bagian yang mana, Kak? Satu, dua, atau.." Jeva beralih fokus pada wajah lelah Juna. "gak dua- duanya?"

Salah memang membiarkan Jeva menjadi terlalu serius. Karena kini, Juna tertampar karena perkataannya.

🌻🌻🌻

Mulai penasaran bagaimana kisah tokoh- tokoh yang sudah muncul, ke depannya?

Tinggalkan vote dan comment.

Terima kasih.

instagram | seirasjiwa

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang