Jeno Lindraka terbiasa dengan fakta bahwa ia anak haram. Lahir dari dua orang tanpa pernikahan. Sepanjang hidupnya, Jeno tidak pernah benar- benar punya tujuan. Lingkar hidupnya selalu soal luka demi luka.
Juna Lindraka baik- baik saja meski hanya b...
Bolos kelas sekali, tidak akan masalah. Lagipula, Jeva sangsi akan ada pengajar yang masuk setelah istirahat pertama hari ini. Pelajaran Seni Budaya biasanya hanya diberi tugas oleh pengajar yang bersangkutan, kemudian beliau keluar dari kelas.
Oleh sebab itu, Jeva melanjutkan langkahnya menuju lapangan basket. Terik masih belum menyengat. Rasa kecewa dan dongkol yang dirasakannya membuat Jeva ingin sendirian saja. Memikirkan lebih larut peristiwa beberapa menit lalu.
Apa benar Jeva egois?
Hanya karena ia ingin Rainey selalu dekat dengannya, berhenti merespons Yonash yang jelas-jelas punya maksud terselubung, apa ia terlihat egois? Selain karena ia menyayangi Rainey, menjaga gadis itu jugalah alasan mengapa Jeva tidak suka dengan Yonash. Anak laki-laki itu tampak tidak baik.
Barangkali, yang baru saja Jeva pikirkan kini mampu ia lihat secara langsung.
Harus melewati koridor kelas dua belas jika ingin sampai di lapangan basket. Jeva melangkahi deretan kelas khusus sosial terlebih dahulu, kemudian kini ada di kelas jurusan alam. Di sedikit celah pintu salah satu kelas yang terbuka, Jeva dapat menyaksikan sebuah tindakan berani. Ia sampai membelalakkan mata tak percaya.
Jeva yakin itu Yonash. Duduk di atas kursi, memangku seorang perempuan. Tangan Yonash bahkan bergerilya di punggung si perempuan. Disayangkan, perempuan yang Jeva yakini adalah kakak kelasnya itu, justru diam saja dan menerima perbuatan Yonash.
Sekolah bukan tempat berbuat mesum. Bahkan, isi dari kelas itu menjijikan semua. Bagaimana bisa mereka membiarkan hal sebegini berani terjadi di kelas mereka?
Selain itu, Jeva juga tidak akan lupa bagaimana Rainey membentaknya hanya untuk membela laki-laki berengsek macam Yonash ini.
Jeva tidak akan melepaskannya.
Tanpa sadar, Jeva melangkah menuju kelas itu. Ditendangnya bagian pintu sampai terbuka lebar. Seisi kelas, terkejut dan mendadak mematung. Segala keramaian tanpa pengajar, hening. Tak terkecuali Yonash dan si perempuan. Pandangan Yonash penuh ketakutan.
"Sialan!" Jeva menarik kerah kemeja Yonash. Sampai ia berdiri, sampai si perempuan terjatuh ke lantai. Jeva menatap nyalang. "Kalau lo emang seberengsek ini, lo gak berhak berteman sama Rainey, bahkan sama siapapun! Ingat, gue gak peduli apa yang akan lo lakukan selanjutnya. Tapi berhenti dekati Rainey selama kelakuan lo kayak binatang gini!"
Suasana menegang. Semuanya terguncang karena tindakan Jeva, yang di mata mereka menjelma menjadi adik kelas yang tidak bisa disepelekan. Kekuatan Jeva tak tanggung- tanggung. Tidak ada yang berani melerai. Di kelas itu pun, hanya ada tiga laki-laki, dan mereka semua culun.
Sebelumnya, Yonash punya posisi baik di tingkat kelas dua belas. Selain wajah campuran Indonesia-Australia miliknya, ia juga berbakat karena merupakan anggota OSIS dari kelas sepuluh. Namun hari ini, tepat di detik Jeva menarik kerahnya kasar, semua pandangan bahwa Yonash adalah yang terhebat, segera sirna.
Yonash tidak terima Jeva memperlakukannya begini.
Selanjutnya, Yonash tertawa. Benar-benar tertawa, hingga hampir semua kening mengkerut melihatnya. Jeva juga sama. Antara marah, antara bingung ia memandangi Yonash, sampai anak laki-laki itu mengurai tawa.
"Dengarkan gue," ucap Yonash, menabrak pandangan Jeva. "Gue ... emang cuma mau mempermainkan Rainey. Mau gue unboxing, terus gue tinggal, deh."
Jeva meradang. "Sialan!"
Bugh!
Yonash pingsan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kata kuncinya, jangan pernah main- main dengan seorang LINDRAKA.