| Sahabat |

35 11 0
                                        

Semakin banyak hadiah di depan loker Jeva. Terpaksa anak laki- laki itu berikan pada seluruh teman sekelasnya. Alhasil, seisi kelas heboh dan bersemangat membuka hadiah tersebut, yang isinya beragam.

Ada coklat, jam tangan, gelang, note, juga bolpoin.

Jeva punya semua itu, juga bisa ia beli sendiri kalau memang mau. Paling mengherankan, mengapa orang- orang tak diketahui memberikan sebegini banyak untuknya?

"Fans," kata si ketua kelas ketika melihat kerutan di dahi Jeva yang memandangi sisa tiga hadiah di atas mejanya.

"Gue bukan artis," tandas Jeva, dibalas kedikkan pundak singkat.

"Ney, gue bukan artis." Jeva beralih pada gadis berambut panjang di sampingnya, setelah lelah memikirkan soal siapa pengirim hadiah- hadiah ini. Penggunaan kata fans terlalu berlebihan bagi Jeva. Baginya, fans dimiliki seorang artis, sedangkan Jeva bukan.

Rainey menoleh, menyaksikan dagu Jeva jatuh di lengan Rainey yang tergeletak di atas meja. "Tapi lo ganteng," cetusnya yang semakin membuat Jeva mengembuskan napas kasar.

Walau fakta itu benar, Jeva jarang memperdulikannya. Kadangkala sulit menerima.

Jam keempat kosong oleh mata pelajaran, sebab para guru mengadakan rapat bersama kepala sekolah. Kelas Jeva sudah diberi tugas, sudah pula selesai dalam waktu sepuluh menit saja. Kini, Jeva menarik Rainey bergabung dengan dua laki- laki dan tiga perempuan di depan kelas. Mereka membentuk formasi lingkaran, bermain truth or dare.

Begitu Jeva dan Rainey bersila bersisian, lingkaran dibuat jadi lebih besar.

Permainan ditentukan dengan sebuah pulpen, ditaruh di tengah lingkaran. Klasik. Di mana ujung pulpen untuk menulis menunjuk, itulah yang akan diberi pertanyaan atau tantangan.

Beberapa kali, tiga perempuan selain Rainey ditunjuk pulpen secara berurutan.

Sampai di permainan yang ke sekian, Rainey kena.

"Truth or dare?" tanya Jeva.

"Truth."

"Kelihatan banget gak mau ambil susah," protes salah satu teman dalam lingkaran itu.

Rainey tertawa. Selain dirinya, yang lain menentukan siapa yang akan bertanya. Setelah pertimbangan, satu dari tiga laki- laki di sana terpilih.

"Oke, Rainey," katanya, tersenyum aneh serta diselingi alis yang naik turun. "Siapa cowok paliiing lo sukaaa di kelas kita?"

Orang-orang dalam permainan itu saling lirik. Pertanyaan retoris, sebenarnya. Satu kelas tahu bahwa Rainey selalu menempel pada Jeva. Mereka dekat dan tampak saling taksir.

Wajah Rainey tidak menunjukkan keberatan sama sekali. "Di kelas ini?" ulangnya, yang ditanggapi anggukan.

"Jeva," ucap Rainey mudah. "Gue suka Jeva lebih dari apa pun."

"Cieee!"

Dugaan anak kelas tidak meleset.

Rainey senantiasa santai, tidak terpengaruh akan sorakan usil teman- temannya. Namun, Jeva tentu mengerti. Ia segera meredamkan suara- suara hingga siulan itu.

"Eh, eh. Suka itu 'kan bisa diartikan banyak hal," tukas Jeva memandang seluruh pasang mata dalam lingkar permainan. "Gue juga suka Rainey, karena dia sahabat gue."

"Oh, sahabat."

"Masa iya, sih, sahabat?"

"Sahabat apa sahabat, nih?"

Jeva memutar mata jengah.

"Iya, sahabat!" Rainey mendadak berseru kuat. Ketika semua orang menatapnya, Rainey menarik senyuman lebar. "Emangnya apalagi yang ada di antara gue dan Jeva, kalau bukan kata sahabat? Iya gak, Je?"

Merasa dibela, Jeva pun tersenyum dan menganggukkan kepala. Mereka saling rangkul, menatap, lalu tertawa- tawa.

Seisi kelas sebal pada dua orang tidak peka ini.

Seisi kelas sebal pada dua orang tidak peka ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ayo semangat scrool-nya, hehe. Nih lope buat yang marathon baca LINDRAKA❤

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang