| Tolak |

60 13 0
                                        

Aneh. Jeva mendadak mendapat banyak hadiah sepulang sekolah ini.

"Gue gak ultah hari ini." Begitu kata Jeva kala Rainey bertanya soal hadiah- hadiah ini.

Beragam isinya, dominan coklat. Hari ini tidak ada perayaan khusus, baik umum apalagi pribadi. Jeva bingung setengah mati menemukan alasan dari pemberian hadiah sebanyak ini. Totalnya ada lima belas.

Tidak satu pun sang pengirim menampakkan diri. Kompak, mereka menggantungkan hadiah itu tepat di pintu loker. Jeva mendesah.

"Buang aja kali ya, Ney?" tanya Jeva, langsung dihadiahi pelototan tak menakutkan Rainey. "Beradab dikit, dong. Mereka beli ini semua pake uang. Mau lo buang gitu aja," tukasnya merengut.

"Lagian gue heran, ngapain ngasih beginian? Gue gak lagi ultah," kata Jeva.

Jeva akhirnya menjejal semua hadiah itu ke dalam lokernya, dibantu Rainey. Cepat- cepat ia akan menutup pintu, sebab loker yang terlalu kecil tidak mampu menampung seluruh hadiah dengan baik. Berdesak- desakan.

Hingga ia berhasil mengunci loker itu, sebuah amplop berwarna ungu tua terjatuh saat Jeva dan Rainey memasukkan hadiah- hadiah tadi.

Rainey yang menunduk dan memungut surat tersebut.

"Surat cinta, Je," tukas Rainey, yang kedua alisnya terangkat tinggi- tinggi. "Mau lo baca?" Ia bertanya manis pada Jeva.

Seolah sudah tahu isi surat itu, juga akibat ucapan Rainey barusan, Jeva jadi kurang berminat untuk mengetahui lebih banyak soal surat dengan perekat berbentuk hati itu.

"Hm, gak, deh. Lo aja," kata Jeva akhirnya.

Kepala Rainey terangguk. Dengan luwes, ia buka perekat amplop dan menarik sepucuk surat dari dalam sana. Kertas surat dilipat menjadi tiga bagian, Rainey bukan dengan sabar, hingga ia baca dengan suara keras.

"Teruntuk Jeva, adik kelasku dari sepuluh sosial dua. Ini dari kakak kelasmu, kelas dua belas bahasa satu." Rainey menjeda bacaannya, bergulir memandangi Jeva dengan mata membulat. "Anak kelas dua belas, Je!" serunya.

Tak pelak, hal itu juga membuat Jeva terkejut. Sejauh ingatannya, Jeva tidak pernah berurusan dengan anak kelas dua belas. Lingkar temannya hanya sampai di kelas setara saja. Jeva bahkan sangsi ia punya teman di luar kelasnya sendiri. Meski easy going, Jeva selektif memilih teman.

Tidak mengerti darimana kakak kelasnya itu bisa mengenali Jeva, juga tahu persis letak lokernya.

Kebingungan Jeva dibahas oleh Rainey. "Wajar, sih. Lo 'kan ganteng, Je. Dari ospek aja udah dikenal sama panitia dari kepengurusan OSIS. Semakin ke sini, ya semakin banyak yang kenal lo."

Jeva tidak menyadari hal itu.

"Masa iya, Ney?" Jeva mendekat dan menarik surat itu dari genggaman Rainey. "Ya udah, deh. Gak ada faedahnya baca ginian."

"Gak berfaedah mana, Je, sama bacotan lo?" cetus Rainey.

"Sama- sama gak berfaedah." Jeva tertawa singkat. Ia mengantongi surat itu, sejurus merangkul pundak Rainey yang terdapat tali tas.

Iseng, Jeva angkat pegangan di atas atas Rainey, sekalian untuk memeriksa apakah gadis itu membawa beban terlalu berat di pundaknya.

"Tumben tas lo ringan, Ney."

Rainey sedang menyesuaikan setiap langkahnya agar tepat berada di dalam kotak ubin. "Iya. Kata Mami gak boleh bawa berat- berat di pundak. Nanti bisa bungkuk."

Sebabnya, Jeva tersenyum lebar. Mengusak pucuk kepala Rainey gemas. "Bagus."

Perjalanan mereka menuju gerbang sekolah tertahan  begitu seorang perempuan dengan seragam persis seperti yang Jeva dan Rainey pakai, berhenti tepat di depan keduanya.

Jeva tidak kenal. Rainey juga.

"Siapa?" Jeva bertanya dingin.

Skeptis. Begitu yang Jeva tangkap dari pandangan si perempuan yang mengarah pada Rainey. Karena tidak nyaman, Jeva menarik siku Rainey, menempatkan gadis itu di belakang tubuhnya.

"Ada apa?" tanya Jeva lagi. Garis wajahnya tak ramah.

"Gue mau ngomong. Tapi, berdua aja." Arah lirikan mata perempuan ini tertuju lagi pada Rainey, yang diam- diam mengintip di balik punggung Jeva.

Jeva menoleh sekejap pada Rainey, lalu kembali pada si perempuan.

Tukikan matanya, rahang tegasnya, memperjelas tindakan dalam suara Jeva.

"Gue gak mau."

Rainey ditarik pergi oleh Jeva setelahnya.

Astgjshjshlhs Jeva kenapa manis banget, sih? Yang nulis cerita aja jadi baper, tanggung jawab ih!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Astgjshjshlhs Jeva kenapa manis banget, sih? Yang nulis cerita aja jadi baper, tanggung jawab ih!

Asik kali ya punya cowok modelan Jeva. Dia sebegitu serius dan konsisten jaga perasaan perempuan, ya walaupun sahabat aja sih, wkwk.

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang