Jeno Lindraka terbiasa dengan fakta bahwa ia anak haram. Lahir dari dua orang tanpa pernikahan. Sepanjang hidupnya, Jeno tidak pernah benar- benar punya tujuan. Lingkar hidupnya selalu soal luka demi luka.
Juna Lindraka baik- baik saja meski hanya b...
Juna tidak membicarakan perihal Nakaisha kepada siapapun di rumah.
Tidak sampai lima menit Juna duduk menemani tadi malam, sebab Nakaisha yang justru merasa tidak nyaman akan kehadiran Juna memutuskan masuk ke dalam rumah detik itu juga. Juna tidak masalah. Bahkan sebelum ia masuk ke rumahnya sendiri, Juna sempat mengintip lewat celah gerbang, memastikan Nakaisha benar- benar masuk. Setelahnya, baru Juna bisa masuk ke rumah dengan perasaan lebih tenang.
Juna tahu ia hanya berusaha baik pada tetangga. Tidak ada alasan khusus mengenai tindakannya.
Akhir pekan. Jeva ada di rumah, tetapi kedua orang tua mereka harus pergi. Juna dengar, undangan pernikahan salah satu teman bisnis Papa. Karena Juna dan Jeva sudah besar, Papa memutuskan untuk tidak mengajak kedua putranya pergi. Mereka ditugaskan menjaga rumah. Baik Juna maupun Jeva tidak ada yang bermasalah dengan itu. Selama kedua orang tua bersiap- siap, Jeva duduk di sofa ruang televisi. Juna datang dan mengusili adiknya dengan mengganti channel yang sedang Jeva nikmati.
"Mama! Kakak, nih!" adu Jeva sebal.
Juna tertawa. "Aduan," cibirnya yang dibalas delikkan tak menyenangkan oleh Jeva.
"Kakak, Adeknya jangan diusilin mulu." Mama datang dengan dress batik berwarna peach semata kaki. Mama memang sudah punya dua putra yang besar- besar, tetapi tubuhnya masih tergolong ramping.
Juna memutar tubuh. Ia bertumpu siku di kepala sofa. "Mama cantik," pujinya kemudian.
Mama tersenyum dan mengusap kepala Juna gemas. "Terima kasih."
Sang Papa menarik Mama pergi ketika Juna ingin melayangkan sebuah pujian lagi pada Mamanya.
Juna tertawa. Papa memang pencemburu. Lucunya, pada anak sendiri.
Bosan, Juna melirik pada Jeva. Anak laki-laki itu anteng sekali menonton kartun kesukaannya seraya memakan keripik kentang buatan Mama. Juna justru memikirkan hal lain. Ia sedang tidak ingin menonton, menulis apalagi. Akhir- akhir ini ide Juna buntu. Barangkali, Juna harus berjalan- jalan dulu agar otaknya kembali segar.
Ia bergegas mengambil sandal, lalu membuka pintu sambil berteriak pada Jeva, "Kakak keluar, Je!" Yang kemudian dibalas teriakan juga oleh Jeva.
Kini langkahnya bertujuan. Juna akan berjalan menuju perpustakaan kota. Seingat Juna, ia juga punya sisa bacaan novel di sana. Ia terlalu malas meminjam buku. Berakhirlah ia akan membacanya hanya jika di perpustakaan.
Tepat ketika Juna akan menutup gerbang, Nakaisha keluar dan menaruh sekantung plastik hitam besar di tempat pembuangan depan rumahnya.
Nakaisha tidak melihatnya, tetapi Juna memperhatikan dengan seksama.
"Kai," panggil Juna.
Tepat, Nakaisha menoleh.
"Lo udah baikan?" Tidak ada lagi yang ingin Juna ketahui. Ia hanya mau memastikan bahwa Nakaisha sudah baik- baik saja usai semalam.
Sebagai pengamat andal, Juna melihat garis tarikan wajah Nakaisha tidak terlalu nyaman. Entah soal apa. Bisa karena ia belum merasa baik, atau tidak nyaman karena pertanyaan Juna.
"Sha, kamu ngap—eh, Juna?" Ibu Zuchman menghampiri Juna dan Nakaisha. Ia tersenyum lebar lagi, Juna pun mengangguk sopan.
Ibu Zuchman beralih pada Nakaisha. "Cepat," bisiknya.
Nakaisha mengangguk pelan. Ibu Zuchman sempat tersenyum pada Juna, sebelum berbalik dan pergi.
"Mau kemana?" Juna akan selalu bertanya untuk hal- hal yang membuatnya penasaran. Tadi, ia baru sadar bahwa pakaian Ibu Zuchman lebih.. wah. Nakaisha sendiri tidak terlalu mencolok, tetapi outfit yang dikenakannya lebih stylish untuk sekadar digunakan di rumah.
"Pergi," balas Nakaisha singkat. Tidak perlu repot tersenyum atau menatap balik netra Juna, ia pergi kemudian. Mengundang kerutan di kening mulus Juna.
Ketika seharusnya Juna berbalik pergi juga, tetapi ia justru beralih ke halaman rumah sebelah dan melihat Pak Zuchman memasukkan koper ke dalam bagasi mobil.
Juna mematung.
"Eh, Nak Juna." Pak Zuchman kontan menyapa.
Mata Juna mengerjap cepat. "Ah, mau kemana, Pak?" tanyanya ramah.
"Berkunjung ke rumah Nenek Nakaisha," jawab Pak Zuchman.
"Di Rusia?"
Pak Zuchman tertawa. "Di Bandung, kok."
Juna mengangguk.
Pak Zuchman lalu kembali pada pekerjaannya, mengangkat satu koper yang ukurannya paling besar dengan agak susah. Juna bergerak cepat menolong. Memasukkannya ke dalam bagasi dan menutup setelahnya.
"Makasih, Nak Juna," kata Pak Zuchman ramah.
Juna mengangguk lagi. Bapak dan Ibu Zuchman masuk terlebih dahulu, sedangkan Nakaisha masih berdiri diam di samping Juna.
"Hm, Kai." Juna menoleh dan berkata pelan. "Bakal lama gak pulangnya?"
Baru kali ini, Nakaisha mau menatap sedalam itu ke arah mata Juna. "I don't know." Lalu, Nakaisha turut masuk ke mobil dan meninggalkan Juna dalam keterpakuan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pasti sudah mengerti, ya, sistem alur LINDRAKA ini bagaimana. Jadi, bagian siapa yang paling favorit untukmu?