| Kecup |

38 7 3
                                        

Jeva merupakan tipe murid yang belajar hanya ketika akan ujian saja. Sedangkan Rainey yang mengakui bahwa dirinya tidak terlalu pintar, sudah sejak lama menyicil materi yang kira- kira akan keluar di ujian akhir semester pertama nanti.

Ya, ujian sudah mendekat, minggu depan. Sebagai murid yang nilai harian serta ulangan hanya lebih tinggi sedikit dari kriteria ketentuan minimal, Rainey akhirnya memutuskan untuk mengajak Jeva belajar bersama, persiapan ujian. Harapnya, mereka bisa meningkatkan nilai di ujian nanti dan mendapat peringkat terbaik di kelas.

Jeva yang jarang menolak Rainey, tentu mengiakan ajakan itu tanpa pikir panjang.

Anak laki- laki itu mau belajar di manapun, asal bersama Rainey. Namun, ia meminta untuk tidak belajar di perpustakaan sekolah. Jeva kurang suka belajar di ruangan tertutup. Bisa- bisa, otaknya justru buntu karena tidak menemukan apa pun untuk dipandang, kecuali dinding- dinding dingin dan susunan rak buku.

Ketika ditanya ingin belajar di mana, Jeva memilih taman di dekat sekolah sebagai pilihannya.

Rainey menuruti. Setelah mengemas seluruh buku ke dalam tas, mereka pun keluar dari kelas. Bel pulang sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Seperti biasa, jemputan keduanya akan lebih lama datang. Jadi, sedikit waktu lengang itu digunakan untuk belajar bersama.

Sampai di taman kesukaan mereka itu, Jeva segera menjatuhkan pinggul di atas rerumputan hijau, di bawah pohon yang rindang.

"Duduk dulu, Ney. Capek," cetus Jeva, menepuk- nepuk sisi kirinya yang kosong.

Kepala Rainey terangguk. Sekejap, ia sudah duduk di samping Jeva. Merapikan rambut belakangnya yang menyentuh wajah karena tiupan angin.

"Mau belajar apa dulu, Je?"

"Apa aja."

Pilihan Rainey jatuh pada pelajaran Ekonomi. Itu merupakan yang tersulit bagi keduanya. Bersama buku paket yang tebalnya tak tanggung- tanggung, Rainey mulai larut dalam materi pertama. Biaya peluang.

Jeva masih belum tergerak untuk bergabung. Ia betah memandangi hamparan hijau di depannya. Tenang. Kalau di rumah, Jeva suka duduk di balkon. Langit biru akan sama menenangkannya.

"Je, menurut Gregoru Mankiw, biaya peluang adalah segala hal yang dikorbankan untuk memperoleh hal lainnya," baca Rainey di buku paketnya. "Berarti, apa pun yang dikorbankan untuk mendapatkan sesuatu, itu namanya biaya peluang."

"Kalau mengorbankan rasa untuk kebahagiaan orang lain, itu biaya peluang gak, Ney?" celetuk Jeva.

"Itu bucin, idiot."

Jeva kontan tergelak.

Memilih mengabaikan, Rainey kembali membaca tulisan di dalam buku. "Untuk menghitung biaya peluang, dibutuhkan dua pilihan atau lebih. Nah, dari pilihan-pilihan tersebut akan ada pilihan yang dikorbankan atau ditinggalkan.
Jika ada dua pilihan, maka yang dianggap sebagai biaya peluang adalah pilihan yang ditinggalkan. Tetapi, apabila terdiri dari beberapa pilihan, maka yang dianggap biaya peluang adalah kesempatan terbaik yang dikorbankan."

"Gue dengarnya jadi kayak kalimat bucin, Ney," tukas Jeva ringan.

Rainey menyorotnya jengah. "Mati aja lo."

Mungkin suasana hatinya sedang sangat baik. Jadi, Jeva tertawa lagi setelah mengusili Rainey.

Lidah Rainey mendecak. "Mau belajar gak, nih?"

"Iya, mau." Jeva mengurai tawanya dan mendekat pada Rainey. Melihat paragraf-paragraf penjelas, juga angka- angka di sana membuat kepala Jeva sudah pening duluan.

"Pusing lihatnya," adu Jeva.

"Iya. Ini bagian yang hitung- hitungan. Kita coba kerjakan dulu, ya."

Dari tempat pensil kainnya, Rainey mengeluarkan pulpen. Ia kemudian mencoret- coret buku tulis dengan angka- angka dan rumus yang tidak Jeva mengerti. Sembari mengerjakan, mulut Rainey berceloteh. Menjelaskan pada Jeva asal angka ini, asal jumlah ini, rumus ini didapatkan darimana. Selama itu, Jeva mendengarkan dengan serius. Bibirnya bungkam.

Baru kemudian, menyadari wajah Rainey yang sangat dekat dengannya membuat sesuatu membuncah di dalam diri Jeva.

Dalam satu detik, Jeva maju dan mengecup pipi Rainey cepat.

Rainey membeku karenanya.

"Gue sayang sama lo, Ney," cetus Jeva.

Gadis itu menoleh. "Harus banget dikecup?"

"Cara gue menunjukkan rasa sayang, ya begitu."

"Ya ya." Rainey memilih untuk kembali fokus pada apa yang dikerjakannnya.

Tidak senang, tidak kesal. Rainey merasa biasa saja untuk kelakuan spontan anak laki-laki bernama Jeva ini.

Daripada sang Kakak Juna, Jeva memang lebih terbuka dalam menunjukkan perasaannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Daripada sang Kakak Juna, Jeva memang lebih terbuka dalam menunjukkan perasaannya.

Pengin punya sahabat macam Jeva, gak?

Penulisnya aja mau🤣

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang