| Peluk |

52 10 3
                                        

"Ayah ada di kamar."

Jeno menoleh pada Duwi cepat. Ia mengerjap, kemudian menganggukkan kepala dan bergerak rikuh menuju kamar Danu. Tempat itu sudah lebih rapi dari yang terakhir kali Jeno lihat. Begitu Jeno menengok ke kanan, ada Danu yang terbaring di atas kasur. Memejamkan mata.

"Tidur gak, Wi?" bisik Jeno.

Alis Duwi terangkat. Ia melongokkan kepala ke dalam kamar, mencari jawaban atas pertanyaan Jeno. Danu memang tengah memejam, pergerakan napasnya teratur.

"Hm, kayaknya," balas Duwi tak kalah pelan.

Suara bisik- bisik samar itu rupanya masih terdengar sampai ke telinga Danu. Pria setengah abad itu membuka mata dan menoleh, langsung menyorot Jeno dan Duwi yang kompak terjengit.

"Eh, maaf, Yah. Ayah kebangun karena kita berisik, ya?" cicit Duwi, masuk ke dalam kamar dan bersimpuh di tepi kasur Danu.

Eksistensi Jeno lebih menarik perhatian Danu. Ia sampai memicingkan mata dan mengangkat kepala lebih tinggi. Yang dipandang sebegitu intens hanya mampu menunduk dengan kedua tangan saling menggenggam di depan tubuh. Di balik sikap tenangnya, Jeno merasakan debar jantung yang kian kencang saja.

Melihat kebingungan Danu, juga kekakuan Jeno, Duwi segera meluruskan. "Dia Jeno, Yah. Hm ... teman Duwi. Dia yang kemarin nolongin kita waktu cowok sialan itu datang."

Oleh karena penekanan di umpatan itu, Jeno tersenyum dalam diam.

"Sore, Om. Saya Jeno." Ia membungkukkan tubuhnya sedikit, sebagai salam hormat pada yang lebih tua.

Danu tersenyum teduh padanya. "Sore, Nak Jeno. Terima kasih ya karena sudah menolong anak Oom."

Sebelum menyahut, Jeno sempat melirik Duwi yang juga menatapnya. "Iya, Om. Bukan masalah."

Cara Jeno berinteraksi bukan yang aktif. Daripada bertanya, ia lebih sering menjawab saja. Danu yang gencar mengiriminya pertanyaan-pertanyaan, seputar usia, pendidikan, hingga tempat tinggal. Duwi membiarkan dua orang itu saling bicara, selama ia pergi ke kamar dan berganti pakaian, juga membuatkan minuman untuk Jeno.

Kembalinya Duwi di kamar Danu, kedua orang itu sedang tertawa. Danu dengan tawa hangatnya, Jeno dengan senyum tipisnya.

"Diminum, Jen," kata Duwi, mengangsurkan secangkir teh hangat.

Jeno mengangguk. "Terima kasih."

"Kamu anak yang beruntung, Nak Jeno. Bisa kuliah, bisa belajar. Anak gadis Oom tidak bisa. Seperti yang kamu lihat, dia harus kerja karena kondisi Om yang sakit- sakitan. Dia tulang punggung keluarga," papar Danu pelan, nadanya pedih dan miris. "Makanya, jangan sia- siakan keberuntungan ini, ya?" Senyum Danu terbentuk teduh.

Seumur- umur, Jeno belum pernah mendapat senyuman seteduh itu. Dari pria yang merupakan seorang ayah. Jeno berpikir, apakah ayah kandungnya hangat dan bersahaja seperti Danu? Kalau iya, pasti rasanya menyenangkan. Tapi, jika pengekang dan seorang kriminal, Jeno pasti tidak akan bangga karena memilikinya.

Miris. Jeno dan ayah imajinernya.

"Duwi ... juga beruntung, Om," lirih Jeno, senyumannya kecut. "Duwi punya Ayah seperti Om, itu sudah sangat luar biasa. Saya ... gak punya."

Baik Danu maupun Duwi sama- sama terkejut.

"Se–serius, Jen?" tanya Duwi dengan kedua mata membulat.

Jeno mengangguk tak kentara.

"Bahkan sejak lahir, saya gak tahu soal Papa. Mama gak pernah mau memberitahu." Sering memiliki waktu bersama Duwi mungkin menjadi pendorong bagi Jeno yang sejatinya tumbuh tanpa tahu cara bercerita. Kini, ia mengeluarkan seluruh perasaan nyerinya, tidak lagi dibiarkan mengendap di ulu hati.

"Kamu bisa anggap Oom ini Ayah kamu." Jeno dan Duwi serentak menoleh pada Danu.

Satu tangan Danu sudah ada di pundak Jeno, ditepuk- tepuk pelan. Senyumannya, terlalu hangat untuk Jeno yang tidak pernah mengenal sosok ayah. Dari Danu, Jeno seolah melihat gambaran jika saja ia punya Ayah di sisinya.

Jeno tidak kuasa menahan air mata.

"Sini, Jeno. Peluk Ayah." Kedua tangan Danu sudah merentang. Dalam sekali gerak, Jeno menghambur ke dalam pelukan itu.

Kali ini, pertama kali Jeno menangis karena rasa bahagia yang bergumul di dada. Pastinya, Jeno percaya hanya di tempat ini ia bisa mengeluarkan seluruh perasaannya, tanpa dikatai sensitif atau seperti anak perempuan.

Di sini, Jeno dianggap ada, dianggap berguna, dihargai, diberi kasih sayang.

Jeno tidak akan pernah lupa bagaimana peran Duwi dalam semua rasa bahagia ini.

Setelah sekian lama gak pernah tahu bagaimana rasanya dipeluk seorang Ayah, pasti sangat bahagia ya, Jeno

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Setelah sekian lama gak pernah tahu bagaimana rasanya dipeluk seorang Ayah, pasti sangat bahagia ya, Jeno.

Jeno dan Duwi, kalian berdua insan yang sama- sama hidup di atas luka. Tetaplah berpegangan dan bersama hingga akhir.

Kalian mengharapkan hal yang sama, 'kan, teman- teman?

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang