Jeno Lindraka terbiasa dengan fakta bahwa ia anak haram. Lahir dari dua orang tanpa pernikahan. Sepanjang hidupnya, Jeno tidak pernah benar- benar punya tujuan. Lingkar hidupnya selalu soal luka demi luka.
Juna Lindraka baik- baik saja meski hanya b...
Memberi perlindungan bagi Nakaisha tidak separuh- separuh. Keluarga itu memberikan sebuah kamar untuk Nakaisha tinggali. Nakaisha sudah mengganti pakaiannya yang lama dengan milik Mama Juna. Ukuran tubuh mereka tidak jauh berbeda. Jadi, Nakaisha terlihat bagus- bagus saja dalam balutan piyama itu.
Juna selalu memuja sang Mama. Melihat Nakaisha sekarang, Juna seperti melihat wanita yang telah melahirkannya. Bolehkah jika Juna ingin memuja Nakaisha seperti yang ia lakukan pada Mamanya?
Bermain dengan pikiran tidak akan ada habis. Beranjak dari depan pintu, Juna mendorong sedikit pintu kamar itu dan bersuara pelan, "Kai, lo lagi apa?"
Bermaksud menghindari jika Nakaisha sedang melakukan hal- hal privasi.
"Masuk aja," sahut dari dalam. Juna kemudian mendorong pintu lebih banyak dan menemukan Nakaisha duduk di sisi tempat tidur. Rambutnya basah dan jatuh di salah satu sisi pundak.
"Gak mengganggu?" Jeno meyakinkan diri.
Nakaisha terlihat menggeleng pelan.
Sejauh ini, Nakaisha masih gadis yang lebih banyak diam. Barangkali terkejut atas apa yang menimpanya beberapa hari lalu. Ia tak lagi terlihat sinis. Tandus, tetapi tak lagi dingin.
Nakaisha mungkin butuh waktu untuk baik- baik saja. Juna memberikannya kelapangan.
Ada jarak berupa ruang hampa di antara keduanya. Nakaisha tidak bersuara, keseringan menunduk dengan kedua tangan bermain di ujung surai cokelatnya. Sedangkan satu tangan Juna tersembunyi di saku celana training. Masih skeptis perlu ia perlihatkan atau tidak.
Sebelum itu, Juna bersuara, "Lo hebat, Kai. Untuk alasan apa gue mengatakan hal itu, lo gak perlu tahu. Yang jelas, gue kagum sama lo."
"Gue laki- laki, tapi kalau dikasari setiap hari, bisa ngamuk dan nangis juga. Gue pasti sudah gak mikir apa- apa selain langsung lapor polisi. Tapi, lo bahkan gak berniat memberitahu siapapun. Lo masih nuruti kehendak mereka untuk bersikap baik- baik aja di depan orang lain. Hati lo terbuat dari apa, Kai?" Juna serius bertanya. Sorot matanya penuh pada Nakaisha yang tak kunjung mengangkat kepala. "Lo bahkan bisa mengendalikan diri untuk berubah ceria di depan gue, padahal itu cuma akal- akalan mereka supaya gak ada yang curiga kalau lo korban kekerasan." Suaranya semakin memelan di akhir. Miris.
"Lo luar biasa, Nakaisha."
Laki- laki tampan yang jarang bicara di depan orang lain ini tengah memujinya, Nakaisha segera tersenyum samar. Merasa hangat.
"Gue anak sulung. Dari kecil, terbiasa diajarkan untuk bisa menjadi pundak paling kokoh untuk yang lebih tua atau kecil," cetus Juna. Nakaisha yang mendengarkannya tidak bisa menebak kemana pembicaraan ini akan mengarah. Berbeda sekali dari topik awal mereka.
Tak lama, Juna mengimbuhkan, "Lo bisa jadikan pundak gue tempat berkeluh kesah. Lo bisa cerita, nangis bahkan. Gue sudah terbiasa. Mama dan Jeva sering begitu ke gue. Mungkin, lo juga mau?"
Tidak disangka, Nakaisha justru menggeleng cepat. Tidak perlu berbasa- basi, ia menolak dengan tegas.
Karenanya, Juna menghela napas pelan. "Gak perlu merasa aneh. Gue yang menawarkan." Tubuh Juna merapat, sejurus satu tangan yang sejak tadi ia sembunyikan kini keluar dari saku. "Gue senang jadi pendengar. Gue senang orang tenang di atas pundak gue. Gue suka jadi tempat berkeluh kesah mereka yang gue percaya," katanya, melingkarkan tangan ke leher Nakaisha. Memakaikan sesuatu.
"Jangan sungkan. Gue siap, untuk lo." Juna menatap bandul kalung yang kini sudah duduk cantik di leher putih Nakaisha, bentuknya bulat dan berukir sebuah hati. Ia tersenyum puas. "Cantik," gumamnya.
Nakaisha menunduk. Tangannya meraih bandul kalung itu, memandangnya lebih lama, tanpa reaksi.
Kemudian, Nakaisha mendongak dan segera membingkai senyuman cerah. "Terima kasih, Juna."
Juna senang Nakaisha tersenyum karena dirinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Cek, cek.
Diharapkan untuk penumpang kapal Juna-Nakaisha mempersiapkan diri karena sepertinya sebentar lagi kita akan berlayar, uwu.