Jeno Lindraka terbiasa dengan fakta bahwa ia anak haram. Lahir dari dua orang tanpa pernikahan. Sepanjang hidupnya, Jeno tidak pernah benar- benar punya tujuan. Lingkar hidupnya selalu soal luka demi luka.
Juna Lindraka baik- baik saja meski hanya b...
Entah itu soal ketidaksukaannya terhadap Yonash, tingkah sebalnya pada Rainey yang seringkali membantah, hingga pada pukulan telaknya untuk anak laki- laki berengsek itu.
Hari ini ujian pertama di akhir semester satu. Jeva mendapat bagian ruang ujian tiga, sementara Rainey ada di ruang empat. Hal itu jadi sangat baik karena mereka tidak perlu berada dalam satu tempat, seolah saling tak peduli dan memasang wajah ketus. Usai pertemuan singkat mereka kemarin, di salah satu tempat kesukaan Jeva, mereka berhenti bicara satu sama lain serta memutuskan untuk tidak bertegur sapa lagi.
Lagipula, Jeva tidak bisa terus berusaha menjaga apa yang tidak ingin dijaga.
Ujian dimulai tepat pukul delapan. Lima belas menit sebelum itu, Jeva memutuskan berjalan-jalan di koridor gedung khusus ujian, mondar- mandir. Letak bangunan ini ada di belakang bangunan utama, dikelilingi pohon rimbun dan tanaman yang asri. Ada lapangan kecil di depannya serta ring basket. Jeva bergegas turun dan mengambil satu bola basket di sudut lapangan.
Satu kali lemparan, dua kali, tiga kali. Jeva selalu tepat. Arah matanya yang memicing tidak perlu lagi diragukan ketangkasannya. Namun, Jeva mungkin akan menyesal karena dengan matanya ini, ia pernah begitu mengagumi Rainey sampai terlena seorang diri. Nyatanya, Rainey justru jatuh pada laki- laki lain.
Terkesiap. Jeva segera mendengus ketika sadar bahwa ia lagi dan lagi memikirkan Rainey. Bola oren itu ia banting sekuat tenaga ke lapangan, memantul beberapa kali sebelum akhirnya masuk ke area tanaman. Jeva tak acuh, ia memutuskan kembali ke ruangannya.
Akan tetapi, dia terhenyak tatkala melihat hal yang paling ia hindari sekarang ada di depannya.
Rainey terlihat baik-baik saja. Mungkin, memang tidak pernah ada Jeva dalam pikirannya. Berbeda sekali. Sejak kemarin, Jeva justru tidak bisa tenang dibuat Rainey.
Jeva mendengus keras- keras, hingga Rainey mengerjap-ngerjapkan mata. Pandangan mereka saling membuang. Lebih dulu, Jeva melangkahkan kaki dan melewati tubuh Rainey.
Hati Jeva kontra dengan raut wajahnya. Sakit, dibalik topeng tak pedulinya. Jeva tidak tahu, tapi jika ini akhir antara ia dan Rainey, mereka bisa bicarakan baik- baik. Sebaik saat keduanya pertama kali bertatapan di awal temu. Mengakhiri tanpa pasti begini, membuat hati semakin teriris. Apalagi, untuk Jeva yang terlalu sensitif.
Merasa sudah melangkah cukup jauh, Jeva memutar kepala ke belakang. Sekali saja, ingin Jeva lihat lagi wajah imut itu, beserta rambut panjang hitamnya dan bando kesukaan si gadis. Sekali saja, ingin Jeva yakinkan bahwa setidaknya ia pernah jadi bagian penting bagi Rainey. Walau kini, tak lagi sama.
Tepat. Rainey rupanya juga berusaha menengok Jeva. Tatap mereka beradu, cukup lama ditemani hening. Hingga kemudian, Rainey memutar mata malas dan segera pergi dari posisinya.
Jeva tahu, ia tengah dibenci untuk sesuatu yang bukan salahnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tidak apa, Jeva akan belajar banyak hal dari sini.
Di usianya yang ke-16 tahun, Jeva akan mengerti bahwa hidup memang seringkali tak berbaik hati.