| Kata Sirna |

67 15 1
                                        

Perbincangan berlanjut menjadi undangan makan malam bersama.

Keluarga Zuchman sekilas tanpa cela. Entah itu fisik, maupun perilaku. Dari obrolan itu pula, terungkap bahwa Nakaisha sekeluarga bukan murni pribumi. Mereka asli Rusia. Pantas saja, garis wajah Nakaisha sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia gadis dari Asia.

Sepanjang cengkerama hangat berlangsung, Nakaisha tak berujar sepatah kata pun.

Seusai perkenalan singkat, Juna mohon undur diri ke garasi. Berencana melanjutkan niatnya memanaskan mesin motor. Namun, Juna tahu itu jadi tak'kan mudah ketika Mama menitahkan sesuatu yang tak terduga padanya.

"Kakak, tolong ajak Nakaisha keliling komplek kita ini, ya? Dia masih terlalu asing soalnya."

Inginnya membantah, tetapi tidak mungkin selama orang yang dibicarakan sang Mama ada di sana.

Akhirnya, Juna mendesah dan memberikan anggukan kepala sebagai jawaban.

Kini, keduanya berdiri di depan garasi. Juna mengeluarkan motor ninja warna hitam pekat miliknya, sementara Nakaisha menurunkan pintu garasi tanpa diminta. Sesaat, Juna tertegun melihat inisiatif gadis cantik itu.

Beberapa kesempatan, wajah Nakaisha sinis. Terkadang biasa- biasa saja, seperti sekarang.

Tidak lama Juna memanaskan mesin motornya, ia segera mengarahkan motor ke jalanan. Nakaisha memandangi, juga mengekor tanpa banyak omong. Karenanya, Juna tercekik hening, sedang Nakaisha tidak terusik.

"Ayo," ajak Juna canggung. Ia sudah duduk dengan gagah di atas kendaraan roda duanya. Meremat setir dengan gugup berkali- kali lipat.

Sekali lagi, tanpa kepayahan berarti, Nakaisha menginjak pijakan motor, meremas kedua pundak Juna dan mendarat sempurna di jok belakang.

Semua terjadi tanpa kendala, tetapi sangat mendebarkan bagi Juna.

Motor akhirnya melaju. Juna bawa dengan kecepatan pelan, mungkin saja Nakaisha butuh waktu untuk mengenali juga mengamati sekitar. Selama itu pula, Juna menelan bulatan kecil di kerongkongan. Merasa salah tingkah tanpa alasan yang jelas.

"Di sini sepi," suara Nakaisha menyeruak tiba- tiba. Di belokan ujung blok A memang sepi, jarang ada aktivitas di kawasan sana.

Karena tidak dalam kondisi laju dan bising, suara Nakaisha yang cenderung pelan masih bisa terdengar oleh Juna.

"Hm, ya." Selain itu, Juna tidak tahu harus membalas apa lagi.

Lalu, hening.

Hanya melewati satu blok ke blok lain. Juna kehabisan akal ketika mereka sampai di blok terakhir.  Akan tetapi, Nakaisha seolah paham akan kebingungan itu. Hingga detik berikutnya, ia sudah bersuara.

"Gue mau ke alun- alun."

Keinginan itu diwujudkan oleh Juna.

Di pagi hari, alun- alun ramai dengan kegiatan berolahraga. Macam- macam. Ada yang jogging, lompat tali, juga senam. Yang sibuk mengambil potret diri juga banyak. Sementara itu, Juna dan Nakaisha memilih duduk di bangku yang terletak di pinggir alun- alun.

Tanpa suara dari mulut masing- masing.

Juna tidak sempat memakai jam tangan saat di rumah, hingga ia tidak tahu sudah berapa lama duduk diam di suasana rikuh seperti ini. Setelah melewati pergumulan batin, Juna memberanikan diri untuk menolehkan kepala. Berniat melihat ekspresi Nakaisha meski sebentar saja.

Akan tetapi, suara benda jatuh, disusul teriak nyaring suara anak kecil yang menangis membuat Juna membatalkan niatannya.

Simpati Juna tinggi. Tanpa lama, ia segera berlutut di depan anak perempuan kecil yang terjatuh dengan posisi lutut menghantam jalanan itu, tepat di depannya juga Nakaisha.

"Sshtt. Gak apa- apa. Kakak lihat lututnya coba. Oh, ini bukan luka besar, kok." Intonasi Juna lebih halus dari sutra. Ia tahu cara memperlakukan anak kecil. Mungkin, terbiasa karena ia sendiri punya seorang adik di rumah.

"Kakak obatin, ya?" Juna tersenyum manis. Ditariknya napas panjang dari hidung, tahan, lalu Juna tiupkan dengan perlahan ke luka kecil di lutut sang anak. Rasanya akan perih, tetapi lebih baik daripada membiarkan debunya diam lebih lama di luka itu. Takut infeksi.

Sang anak masih sesegukan. Juna merangkul pundaknya dan memberikannya sebuah pelukan hangat.

Kemudian, orang tua anak itu datang. Berterima kasih sekilas pada Juna, lalu membawa anak mereka pergi dari sana.

Semuanya begitu cepat.

Ketika Juna akan membalikkan badan, tak sengaja netranya menangkap raut tak biasa dari Nakaisha.

Sebuah keengganan, muak, juga ketidakpeduliaan.

Juna tidak paham mengapa Nakaisha bereaksi seperti itu.

Juna tidak paham mengapa Nakaisha bereaksi seperti itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gak enaknya terjebak canggung, menurut kalian apa?

Dukung terus cerita ini, dan, terima kasih.

instagram | seirasjiwa

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang