| Paling |

79 8 0
                                        

Atap langit berpadu jingga indah, mempesona, menyatu pada senyum simpul Nakaisha. Juna terkesima.

Juna memang tidak tahu cara melepaskan diri dari beberapa kecanggungan yang sering menjeratnya tanpa longgar. Barangkali, Juna pula yang lebih sering menyepi tanpa minat bersama lebih banyak orang. Seperti sekarang, Juna senang detik- detik yang ia habiskan, hanya karena menarik napas yang sama di tempat Nakaisha berada. Berdua, berlapis damai, tanpa rikuh.

Rambut coklat gadis itu sudah Juna ikat tadi, sesuai keinginan Nakaisha sendiri. Padahal, Juna suka rambutnya yang tergerai, beterbangan ditiup angin lembut. Namun, Juna merasa yang diinginkan gadis itu jauh lebih penting dan wajib diwujudkan daripada inginnya yang bukan apa- apa. Jadi, helai rambut itu berakhir dijerat oleh ikat rambut hitam milik Mama.

"Gue ini ... anak gak diinginkan," buka Nakaisha. Kedua sikunya menumpu di pagar balkon, sementara iris coklat terangnya masih memaku pada jingga di ufuk timur sana.

"Nenek gue asli Rusia. Beliau pengin Papa menikah sama Mama, karena Mama anak dari sahabatnya. Mudahnya sih, Papa dan Mama menikah tanpa cinta. Jadi, wajar beberapa kali lo melihat mereka datang bersama kekasih masing- masing." Nakaisha menatap Juna sekilas dan kemudian terkekeh pahit. Juna tidak suka raut wajah itu. Nakaisha terlihat berusaha kuat. Padahal, Juna tidak masalah jika Nakaisha ingin menangis di depannya. Sungguh, bukan masalah.

Setelah memikirkan cara penyusunan kalimat yang baik agar pertanyaan yang akan ia keluarkan ini tidak menyinggung Nakaisha, Juna pun bersuara hati-hati, "Terus, kenapa malah lo yang jadi pelampiasan? Maksudnya, sampai disakiti terus. Raga lo, psikis lo."

"Ya karena gue anak yang gak diinginkan," sahut Nakaisha anteng.

"Kenapa begitu?"

Nakaisha menghela napas. Ia memutar badan, menghadap Juna sepenuhnya. Mungkin Juna sudah tidak bisa menghitung, seberapa banyak Nakaisha tersenyum simpul seperti ini sejak kedatangannya beberapa menit lalu.

"Karena dijodohkan, mereka menjalankan pernikahan tanpa minat, tanpa gairah, seakan- akan dunia sudah kiamat sejak agama mengesahkan ikatan itu," Nakaisha menjeda ceritanya. Mendadak merasakan ludahnya mengering di tenggorokan. Tersendat. "Melihat itu, Nenek pun memberitahu, kalau pernikahan Papa dan Mama harus menghasilkan anak laki- laki. Katanya, pewaris. Mengingat Nenek gak ada cucu laki- laki. Dua kakak Papa, anak mereka perempuan semua."

Jam terasa sangat cepat ingin memanggil malam. Separuh jingga sudah luntur, diperdaya langit dengan tabur kelam di atasnya. Juna meminta waktu berjalan sedikit lamban. Ia ingin mendengarkan Nakaisha dulu, hingga selesai.

"Tapi, yang lahir justru gue." Suara Nakaisha yang memelan menarik lebih banyak rasa iba di benak Juna. Ia sampai berpikir untuk meminta Nakaisha berhenti saja, kalau memang rasa sakit membuat dadanya sesak.

Nakaisha melanjutnya dengan segala ketegarannya. "Maka dari itu, Nenek akhirnya memutuskan untuk memberikan warisan paling banyak untuk sepupu gue. Cucu pertama Nenek. Gara- gara itu, Papa dan Mama semakin renggang. Ketika mereka berpikir mau bercerai, Nenek melarang. Itulah sebabnya kami pindah ke Indonesia, dan Papa juga Mama gak pernah benar- benar menganggap gue ada."

"Gue selalu jadi sasaran amarah, Jun, karena Papa dan Mama pikir seandainya gue gak lahir, mereka bisa menikmati hidup yang lebih leluasa. Kalau yang lahir anak laki- laki, mereka jadi bisa mendapat imbalan dari pernikahan tanpa cinta itu. Pokoknya, sejak lahir gue sudah dianggap menyusahkan, anak sial."

"Sshtt. Gue gak mau dengar lo ngomong begitu," sangkal Juna.

"Tapi faktanya gue memang begitu."

"Lo berharga, Nakaisha. Gue menganggap lo lebih dari apa pun di dunia gue, setelah Mama tentunya," cetus Juna, tidak peduli bahwa yang ia lakukan mungkin terlalu berlebihan. "Gak semua memandang lo seperti cara mereka memandang lo, Kai." Juna tidak sudi menyebut Bapak dan Ibu Zuchman adalah orang tua. Sebab perangai mereka pun lebih buruk daripada binatang.

Kepala Nakaisha tertunduk dalam. Menyesap lapis bening di irisnya, jangan sampai jatuh. Itu justru membuat Nakaisha mencengkeram sisi sweater yang ia kenakan dengan kencang, sampai tubuhnya gemetar.

Juna segera berinisiatif mengambil kedua tangan itu dan berhanti menggenggamnya. Hangat di balik telapak tangan Juna yang penuh kasih sayang.

"Dengarkan gue," Juna mengangkat dagu Nakaisha dengan telunjuknya. Bersamaan dengan itu, sebuah pandangan teduh sudah lebih dulu Juna persembahkan. Aliran damainya membuat Nakaisha membeku, tak bisa mengalihkan diri.

"lo itu luar biasa, Kai. Gadis paling hebat yang pernah gue temui. Dan lo tahu? Gue gak pernah menyesal karena mengenal lo, bahkan masuk ke dalam rumitnya permasalahan lo," tukas Juna halus. Senyumannya membingkai tampan. "Lo gak usah takut. Di sini, gue akan selalu jadi orang yang paling sayang sama lo."

Mata Nakaisha terlihat mengerjap cepat, hingga kemudian membulat sempurna.

"Ya, gue sayang sama lo, Kai. Gue gak bisa janji. Tapi, gue akan berusaha untuk selalu menyayangi lo, menganggap lo berharga. Lo itu ... hal yang paling gue mau."

Tidak ada yang sadar bahwa jingga sudah sepenuhnya luruh. Bulan beserta teman malamnya menyapa, memberi sinar paling terang pada dua insan yang tengah larut dalam tatap hangat dan penuh kasih itu. Nakaisha mengerjapkan mata lagi, tidak percaya. Juna malah terkekeh dan menarik gadisnya dalam pelukan. Tenang sekali.

"Lo punya gue sekarang. Oke, mine?"

Nakaisha tidak punya kemampuan untuk bicara. Akhirnya, ia memeluk pinggang Juna lebih erat dan menenggelamkan wajah di dada laki- laki itu. Pelukannya mengencang seiring kata yang membuncah dalam dada.

"Ya, Juna. Aku mau."

Selamat berlabuh juga ya, tim Juna-Nakaisha!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selamat berlabuh juga ya, tim Juna-Nakaisha!

Jaga mereka dengan segenap sayang dari kalian🤗

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang