| Asmara |

112 22 3
                                        

Memangnya siapa juga yang akan mengemis cinta pada orang tak berperasaan?

Namun, mau dikuatkan anggapan itu bagaimanapun, jawabannya tetap tidak dipedulikan oleh Juna. Faktanya, ia menginginkan gadis itu.

Juna mengembuskan napas kasar. Memungut tumpukan buku- buku novel karya penulis kesukaannya dari meja perpustakaan. Mungkin masih belum, mungkin juga tidak akan. Tapi sejak SMP dulu, penulis kesukaan Juna tetaplah satu orang yang sama. Ia tidak pernah mengagumi tulisan penulis lain sebesar ia memuja narasi, diksi, hingga ide- ide cemerlang penulis kesukaannya.

Petang itu muram. Langit menggantung pekat awan. Membuat wadah di bawahnya menggelap. Tak terkecuali bagian otak Juna, ikut muram oleh beberapa hal mengganggu.

Tentang tulisan- tulisannya yang tak kunjung selesai–terhalang block writer dan ide baru yang menggoda, juga tentang gadis berambut coklat gelap itu.

Jika ditanya mengapa, Juna keliru akan menjawab alasannya. Nakaisha terlalu tidak tersentuh untuk sekadar Juna intip, bisakah didekati atau tidak. Perihal hati akan jatuh pada apa dan siapa, kapan dan bagaimana, terlalu rumit merumuskannya. Juna mendesah pendek.

Langkah- langkahnya cepat dan tak ingin diganggu. Pandangannya mengikuti setiap kali kaki maju. Juna seolah menyumpal headshet di telinganya, kebisingan kota tak terdengar.

Barangkali, suara- suara di dalam otaknya sendiri sudah cukup memenuhi pikirannya.

Perpustakaan kota tidak jauh dari rumah Juna. Ia bisa ke sana kapan saja, ketika kepalanya pening akan melanjutkan cerita karangannya bagaimana, mengembang konflik seperti apa. Diam di rumah, terutama di lantai tiga, memang sudah lebih dari cukup untuk menenangkan diri. Namun Juna ingin suasana baru. Jadi, tempat tinggal buku- buku itu jadi tempat pilihannya. Klasik.

Juna baru saja akan menggapai gerbang rumah ketika sebuah bayangan melintas di sudut matanya. Juna berusaha tidak terusik, tetapi gagal ketika suara itu menyapa lembut telinganya.

"Juna."

Tangan Juna turun, perlahan mengepal tanpa emosi.

Pandangan Juna jadi ikut tak bermakna. Ia diam, menunggu kalimat berikutnya mengisi kekosongan di antara keduanya.

"Kalung lo tempo lalu," kata Nakaisha. "Ini." Gadis yang sore ini mencepol asal rambutnya menyerahkan kotak bludru pada Juna. Terkesan asal, tidak berminat.

Mata gadis itu layu. Juna tidak mengerti, setidak bahagia apa Nakaisha hidup hingga matanya sekalipun tak menunjukkan binar- binar?

Bahkan, hadiah pemberian Juna telah ditolak. Padahal, Juna tidak memberikannya karena ingin dilihat. Juna tidak memberi kalung berbandul mutiara untuk dikembalikan lagi.

"Itu untuk lo." Suara Juna dingin, persis auranya kini.

Namun, tetap sakit dan rapuh juga di balik dinding dingin ini.

"Gue gak mau," sahut Nakaisha tak kalah dingin. Pantang peduli pada perasaan orang lain. Sesaat setelah kotak bludru itu berpindah tangan, Nakaisha lenyap dari pandangan Juna.

Tubuh kecilnya masuk ke pintu di sebelah rumah Juna.

Nakaisha memang seorang tetangga, beberapa bulan lalu.

Keluarganya terlalu penuh rahasia. Juna tidak sempat bertanya, pintu ditutup rapat oleh Nakaisha.

Sangat tidak mampu untuk diraih, barang sedikit.

Sangat tidak mampu untuk diraih, barang sedikit

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Say sad to Juna :(

Kakak ganteng satu ini, apa tidak ada yang mau memiliki? Ehe.

Tinggalkan jejak.

Terima kasih.

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang