| Rapuh |

95 11 0
                                        

Ditawari singgah ketika berada di depan rumah Duwi, Jeno menggeleng pelan. Ia tidak merasa mempunyai alasan masuk akal untuk mengatakan ya. Sudah berjalan sejauh ini bersama Duwi saja tidak terbayangkan olehnya. Maka, Jeno segera pamit dan berbalik badan.

Namun, teriakan dari dalam rumah menghentikan langkah Jeno yang akan pergi. Segera ia memutar tubuh, melihat Duwi juga tertegun beberapa saat hingga bergerak cepat membuka pintu. Masuk dengan berlari, tergopoh- gopoh.

Tanpa pikir panjang pula, Jeno ikut berlari dan masuk. Ia tidak tahu hal lain. Yang jelas di pikirannya sekarang, adalah teriakan itu menunjukan ada sesuatu yang tidak beres. Bisa jadi, terjadi sesuatu yang buruk.

Jeno memang baik, pada sejatinya. Ia simpatik. Hanya saja, lingkungan keluarga yang suram seringkali membuatnya tak bisa tampak sebaik itu.

Duwi lebih dulu sampai di kamar Danu. Ia membelalak tepat di ambang pintu. Pakaian- pakaian berhamburan di lantai, Danu terjerembab di lantai, pria dewasa itu mengacak- acak lemari lebih brutal.

"Lo apa- apaan, sih?!" hardik Duwi, menarik kasar lengan pria itu dan mendapatkan tatapan nyalang.

"Lo.." Sarkas, ia tersenyum. "Mana sertifikat rumah?"

"Bodoh! Lo mau apalagi dari keluarga gue, hah?! Cukup! Gue sudah anggap lo mati!" teriak Duwi kesal. Suaranya yang serak basah, sirna. Berganti intonasi yang kuat dan suara bulat. Matanya memerah, antara menahan tangis, juga amarah. Deru napas Duwi nyaring dan sesak.

"Cepat dikit kenapa, sih? Ah!" Bersama tenaganya yang jelas lebih besar, pria itu menghempas tubuh Duwi hingga jatuh tepat di hadapan Danu dengan keras.

Danu menangis. Ia menggerak-gerakkan tangan, berusaha menggapai putrinya. Tapi, tak bisa. Danu bahkan tak lagi bisa merasakan keseluruhan tubuhnya.

Muak karena tak menemukan apa yang ia mau, pria itu beralih ke kamar sebelah. Kamar Duwi.

Bertepatan itu, Jeno datang.

Hal pertama yang Jeno lihat sama dengan Duwi beberapa menit lalu. Jantung Jeno berdegup kencang. Ia memandang Duwi, mendengar rintihan dari bibir gadis itu, menyaksikan tangisan Danu yang perih.

Jeno berang.

Telinganya yang tajam mendengar grasak- grusuk dari sebelah. Lekas Jeno melihatnya, dan kontan membulatkan mata kala menemukan pria dengan jaket hitam membongkar isi lemari pakaian di kamar itu.

Ini pemaksaan namanya.

"What the fuck are you doing?!" maki Jeno, memutar tubuh pria itu dengan sekali sentak.

Waktu berhenti saat itu juga.

Mau berapa kali lagi takdir bermain dengannya. Menanam ribu pertanyaan yang tak ada jawab. Memberi kejutan-kejutan tak diinginkan.

Jeno tidak tahu kenapa ia melihat Dicky berdiri di hadapannya kini.

"Gak usah ikut campur!" bentak Dicky. Wajahnya merah padam dan penuh peluh. Ia kembali sibuk mengacak seisi lemari selama Jeno masih berdiri mematung. Tak tahu akan bereaksi bagaimana.

Masker kain yang Jeno gunakan, juga topinya, membuatnya tak dikenali oleh Dicky.

"Ngapain lo di sini?" Jeno bersuara menantang. Mengingat kekacauan yang terjadi, suara teriakan Duwi, juga tangisan Danu, Jeno yakin Dicky yang bertanggungjawab untuk semuanya.

Dicky memutar kepala. Daerah di sekitar alisnya mengkerut. "Kenapa lo nanya- nanya?" sarkasnya.

Jeno tarik masker itu sampai ke bawah dagu.

"Jeno?" Dicky kaget, tentu. Ia tidak percaya bisa bertemu Jeno di sini. Yakin bahwa tak ada apa pun di sini yang memiliki hubungan dengan Jeno.

Keluar dari keterkejutannya, Dicky tertawa, sarat akan sinis. "Wah, mau jadi pahlawan kesiangan lo?"

Tidak mengerti, Jeno mengerutkan kening. Selama dia diam terpaku, Duwi tiba dari arah belakang dan langsung mendorong dada Dicky kuat, sampai terjungkal.

"KELUAR!" murka Duwi, rahangnya mengeras. Satu tangannya teracung, menunjuk pintu berada.

Dicky tentu tidak diterima. Ia bangkit, mengambil langkah maju dan bergerak menyentuh leher Duwi.

Tapi sebelum ia bisa, Jeno sudah mencengkeram tangannya dan bergeser penuh, menutupi keberadaan Duwi. Jeno menukik setajam pisau ke arah mata Dicky.

"Go away," tekan Jeno tak gentar.

Keberanian seperti itu tidak pernah tampak jika Jeno ada di rumah. Dicky mendadak bergetar.

Cepat Dicky menarik tangannya. Mengatur napas, padahal wajahnya menunjukkan ketakutan. Bibirnya pucat. Setelah memberi tatapan menikam pada Jeno, Dicky segera meninggalkan kamar itu, keluar dari rumah dengan perasaan malu.

Duwi jatuh saat itu juga.

Jeno menunduk. Ia naikkan masker sampai menutupi mulut dan hidung, lalu berjongkok di dekat gadis itu. "Lo.. gak apa- apa?" tanyanya.

Jeno tahu Duwi tidak menangis. Gadis itu hanya menunduk beberapa saat, menutupi wajah. Tak lama, ia kembali mendongak.

"Makasih," paraunya. "Makasih, sekali lagi."

"Hm." Jeno mengangguk. "Tadi itu, siapa lo?"

Takdir tidak ramah pada Jeno. Lingkarnya selalu hal- hal yang tidak diinginkan. Sama dengan jawaban yang ia sendiri pertanyakan baru saja.

"Dulu, dia abang gue. Anak pertama rumah ini."

Yang awalnya jumpa karena Jeno gak sengaja menumpahkan minuman ke kemeja Duwi, kini menjadi kisah yang alurnya dibaca seluruh orang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Yang awalnya jumpa karena Jeno gak sengaja menumpahkan minuman ke kemeja Duwi, kini menjadi kisah yang alurnya dibaca seluruh orang.

Waw.

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang