L I N D R A K A

171 11 5
                                        

Menjelang masuk taman kanak- kanak, Juna Lindraka berubah lebih ceria. Duwi tahu, anak laki- laki lucu itu pasti merasa senang karena akan bertemu lebih banyak teman. Sesekali, Juna bahkan berceloteh soal dirinya nanti yang akan memperkenalkan diri dengan bangga sebagai putra sulung Jeno Lindraka dan Rindu Wirdhana.

Jeno dan Duwi tertawa- tawa menyaksikannya.

"Kakak semangat banget. Gak takut, ya?" Duwi bertanya sambil menarik pelan tangan Juna dan menuntunnya untuk duduk di pangkuan.

Juna adalah murni seorang Jeno Lindraka di masa kecil. Terkadang, Duwi merasa sebal karena Juna dan Jeva sangat mirip dengan Jeno. Lantas, di mana bagian wajahnya yang menurun pada kedua putra?

"Kenapa harus takut, Ma? Kata Papa, di sekolah nanti bakal asyik. Kakak bisa punya lebih banyak teman, gak cuma teman- teman di komplek aja," sahut Juna.

Mata Duwi diam memperhatikan. Bahkan, cara bicara Juna sangat mirip dengan Jeno. Ia mendesah, kemudian mengecup gemas pipi Juna hingga anak itu tertawa geli.

"Kakak ini mirip banget sama Papa. Mama kesel. Kenapa gak ada mirip- miripnya sama Mama?"

"Mirip, kok." Suara berat Jeno membikin Duwi serta Juna menoleh.

"Papa!" seru Juna yang kini berdiri dan menghambur di gendongan sang ayah.

"Halo, ganteng." Jeno menyapa dengan mengecup bibir anak sulungnya itu.

Sekali lagi, Duwi menelisik wajah ayah dan anak itu. Semakin didekatkan, semakin terlihat bahwa setiap garis wajah Juna adalah plagiat dari wajah Jeno.

"Tuh 'kan, mirip banget," cicit Duwi pelan.

Jeno tertawa dan membawa Juna duduk berhadapan dengan Duwi.

"Mama mau ajak Jeva gabung, deh. Mau lihat seberapa mirip kalian. Nanti, Mama bisa panggil kalian kembar tiga aja biar gampang." Selorohan Duwi membikin Jeno tertawa lagi.

Duwi berdiri dengan melesat ke kamarnya. Tadi, Jeva baru saja mandi dan sedang tidur. Tapi mungkin balita itu sudah bangun.

Ketika Duwi masuk, benar saja, mata Jeva sudah terbuka lebar. Saat Duwi mendekat dengan senyuman gemas, Jeva yang terbaring di baby box melirik lalu tertawa tanpa suara.

"Halo, adik. Kembaran ketiga keluarga Lindraka, nih. Iya?" Duwi mengangkat Jeva yang berusia dua tahun dengan hati- hati. Selepasnya, Duwi dan anak bungsul menyusul ke ruang keluarga. Di sana, Jeno dan Juna bermain dengan asyik. Mereka menoleh ketika mendengar deheman Duwi dan segera tersenyum lebar melihat Jeva datang.

"Adiiiik!" Juna berseru gemas. Selalu, ia akan berteriak gemas ketika melihat Jeva yang memang terlampau menggemaskan.

Jeno tersenyum manis, nyaris membikin matanya menyipit. "Halo, Jeva Lindraka. Anak tengah nih, yang. Nanti yang bungsu, yang perempuan," usil Jeno.

"Serah kamu," jengah Duwi.

Jeno tergelak.

Juna mendekat pada Jeva dan menoel pipi gembil adiknya itu.

"Adik lucu banget. Pipinya kayak mochi!" kata Juna.

"Waktu kecil, Kak Juna juga mirip adek. Sama- sama punya pipi mochiii." Jeno mencubit pipi Juna dan kembali membuatnya tertawa- tawa.

Jeva masih ada dalam gendongan Duwi, dihadapkan ke depan di mana ia bisa menyaksikan ayah dan kakak laki- lakinya asyik bercanda.

"Hm. Jeva cemburu, nih. Belum bisa main sama Kak Juna dan Papa," kata Duwi yang segera membikin Jeno serta Juna berhenti.

"Ututu. Mau main juga, ya, Dek?" Jeno mendekat dan mengecup bibir Jeva, hingga kemudian mengambil alih tubuh balita itu untuk ia dudukkan di pangkuannya.

"Ayo, Kak, serang adeeek!" Juna pun mendekat ke Jeva dan mulai menciumi perutnya. Jeva tertawa, begitu juga Jeno yang gemas sekaligus haru melihat kedua putranya.

Mata Jeno naik, menatap Duwi yang juga tengah menatapnya bangga. Jeno tersenyum, membisikkan terima kasih yang Duwi tahu maknanya.

Jeno berterima kasih untuk penerimaan akan dirinya, perjuangan mereka untuk sama- sama bangkit dari keterpurukan, kesempatan kedua, dan bersyukur karena memiliki anak- anak mereka.

Rindu Wirdhana, Jeno Lindraka ini sangat mencintaimu.

Rindu Wirdhana, Jeno Lindraka ini sangat mencintaimu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

LINDRAKA adalah sebuah nama keluarga, sebagai Jeno sang kepala keluarga

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

LINDRAKA adalah sebuah nama keluarga, sebagai Jeno sang kepala keluarga.

Eksistensi LINDRAKA akan selalu menjadi bahagia yang berasal dari luka. Mereka, yang telah menyesap banyak pahit sebelum mendapat cinta dan hidup yang jauh lebih baik.

Terima kasih sudah menyelesaikan kisah ini, menjadi bagian LINDRAKA yang begitu setia. Menemani Jeno dalam kekalutannya akan figur seorang Ayah, siksaan sang Ibu. Merangkul Juna dalam keterdiamannya yang penuh penasaran, menjadi pelindung untuk jiwa yang rapuh dan rentan. Memeluk Jeva yang kehilangan sebelum sempat berpegangan tangan. Terima kasih.

Duwi, Nakaisha dan Rainey akan menjadi sosok yang tak akan LINDRAKA lupakan. Yang berhasil dipegang atau telah terlepas, LINDRAKA tetap berterima kasih.

Dengan ini, mari izinkan seirasjiwa menutup lembar kisah mereka. Menjadikannya seumpama benda antik yang dipajang apik. Jika kalian rindu, silakan berkunjung. LINDRAKA masih ada di sini, menjalani kehidupan baru yang penuh akan sukacita.

Terima kasih lagi, dan ayo bertemu lagi dalam kisah pilu yang lain.

Salam saya, seirasjiwa.

| S E L E S A I |

Mari berinteraksi lebih leluasa di;
Instagram aeshdwyne
dan duwipuspitasari_

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang