Jeno Lindraka terbiasa dengan fakta bahwa ia anak haram. Lahir dari dua orang tanpa pernikahan. Sepanjang hidupnya, Jeno tidak pernah benar- benar punya tujuan. Lingkar hidupnya selalu soal luka demi luka.
Juna Lindraka baik- baik saja meski hanya b...
Kelas suram. Padahal, pengajar Sosiologi tidak masuk karena berhalangan suatu hal. Yang biasanya seisi kelas berisik oleh nyanyian, teriakan dan kejar-kejaran, kini sunyi. Suaranya hanya sebatas langkah kaki pelan dan helaan napas kasar.
Sebagai penyemarak, kebisuan Jeva hari ini berhasil memantik keheranan, hingga ketidaknyamanan atmosfer di dalam kelas.
Jeva tidak punya masalah dengan anak kelas. Kalau mereka ingin bersenang- senang sampai dua jam ke depan, tidak apa. Namun, tubuhnya yang hanya diam di kursi, menyandarkan punggung. Tanpa bibir yang bergerak dan bersuara, jadi aneh. Sehari-hari, Jeva adalah provokator kebisingan kelas.
Seisi kelas menyerahkan urusan ini pada Rainey, selaku orang yang dikenal paling dekat dengan Jeva di sekolah. Selain itu, biasanya Jeva hampir tidak pernah menolak Rainey. Nyaris Jeva ditandai bucin karena sikap istimewanya pada gadis imut itu.
Seraya membawa sesuatu di tangannya yang dibungkus kotak, Rainey mengambil posisi duduk di kursi samping Jeva. Justru, yang berdebar- debar adalah penghuni kelas, bukannya Rainey. Dengan mudah, Rainey menggeser kotak tersebut sampai di meja Jeva.
"Cupcake, Je. Buatan gue," tukas Rainey dengan senyuman manisnya yang tak pernah gagal membuat Jeva terkesima.
Namun, membujuk Jeva yang suasana hatinya memburuk sejak kemarin tidak akan semudah itu. Apalagi hanya lewat perantara satu kotak cupcake coklat kesukaannya.
Rainey butuh kinerja yang lebih keras.
"Hm, kemarin nilai Penjas lo jelek ya, Je? Sampe lo merengut gini," tebak Rainey, yang masih belum mampu memancing Jeva untuk bicara.
Salah satu anak laki- laki lain yang duduk dua kursi di depan Jeva bersuara, "Gak, Ney. Kemarin gue sama Jeva satu sesi praktek. Nilai Jeva justru yang paling bagus."
Jika begitu, dugaan Rainey salah besar.
Pipi Rainey menggembung dengan bibir terkatup rapat. Matanya tidak memiliki titik fokus tetap, kelopak sering mengerjap- ngerjap. Tidak ada yang ia lakukan selain berusaha mengingat- ingat yang terjadi satu hari lalu. Selesai Jeva praktek, mungkin anak laki-laki itu tidak senang karena Rainey tidak menunggunya. Kala itu, Rainey memang izin untuk pergi ke kamar mandi.
Apa alasan itulah penyebabnya?
Suara Rainey kembali terdengar. "Apa karena kemarin gue izin pas lo lagi praktek, dan lo marah karena gue gak bilang- bilang lo, Je?" Intonasinya naik. Menurut Rainey, ini alasan paling masuk akal.
Akan tetapi, Jeva masih diam dan bungkam. Selain dadanya yang naik turun mengembuskan napas, tidak ada yang bergerak. Bahkan Jeva jarang berkedip. Garis wajahnya lempeng-lempeng saja. Mungkin, Rainey bahkan dianggap tak ada olehnya.
Tubuh Jeva menegang. Demi apa pun, ia tidak siap membahas hal itu, setidaknya sekarang. Mengingatnya bisa saja membuat Jeva menangis, sangking kesal dan tidak terima. Lonjakan perasaannya sedang tidak konsen. Dalam hati, Jeva berharap Rainey akan menyudahinya. Tunggu sampai nanti Jeva mau membahasnya terlebih dahulu.
Satu kelas menghela napas lega. Suara riuh mengudara, kemudian kian meramai sampai Jeva mengernyit karena suara berisik yang tiba- tiba setelah hening yang lama.
Rainey kembali pada Jeva. "Gue pikir lo marah karena kemarin gue ketemu Yonash. Lo 'kan sensi ya, Je, sama dia."
Jeva mendecak. "Kalau gue marah karena lo ketemu dia diam- diam pun, apa bakal berpengaruh? Lo 'kan bebal. Sudah pernah gue tekankan gak suka lo dekat sama dia, masih aja."
Pertama kalinya, Rainey tertegun menyaksikan tatapan dingin dan ucapan bernada keras dari Jeva, untuk dirinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.