| Cerita |

102 23 3
                                        

Jeva menunggu meski Rainey sudah memberitahu tak akan datang ke taman itu.

Nyatanya, Jeva menuntut penjelasan. Akan hal- hal yang tidak diberitahu dari seorang sahabat. Bukan soal dirinya, lebih mengenai Rainey sendiri yang kini tak lagi selalu berbagi tentang sesuatu. Jeva dianggap apa?

Pekatnya langit membuai harap dalam hati Jeva. Ia duduk terdiam, menghitung detik, berteman hampa. Kalau memang Rainey tak kunjung tiba, Jeva yang akan mencarinya. Jika Rainey jauh memilih bersama laki- laki lain, Jeva akan bertanya, mengapa?

Suara langkah yang semakin jelas membikin Jeva kontan mengangkat kepala. Berpegang pada asa terkuatnya, ia memandang tubuh mungil yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya.

"Ney," kata Jeva, segera berdiri dan membikin Rainey mendongak untuk melihatnya.

"Je, kan sudah gue bilang gue gak bisa dateng," cetus Rainey, lalu menghela napasnya panjang. Gadis yang hari ini mengurai rambutnya itu mengambil duduk di bangku taman, ada pohon besar di belakangnya, sejuk.

Jeva ikut duduk. "Kenapa? Biasanya kita selalu ke sini."

Tanpa perlu membalas balik tatapan penuh tanda tanya dan sedikit sakit itu, Rainey menyahut, "Ada urusan."

"Soal Yonash?"

Rainey mengangguk.

Kali ini, Jeva yang mengembuskan napas kasar.

"Gimana kabar dia?" Jeva tak benar- benar tulus bertanya, selain hanya untuk menampakkan pada Rainey bahwa ia peduli pada laki- laki itu.

"Bogeman lo gak tanggung- tanggung," beritahu Rainey. Senyumnya kecut. "Masih belum terlalu baik."

Jeva terdiam setelah Rainey bersuara. Kini, dua raga yang berdekatan itu memikirkan dua hal yang kontra. Sejak kemarin, Rainey tak pernah menatap Jeva dalam waktu lama, selalu cepat- cepat memalingkan pandangan. Barangkali, rasa dongkol dan kecewa masih ada dalam benaknya. Mengingat kekerasan bukan hal yang Rainey sukai, namun Jeva telah melakukannya.

Tapi, Jeva tak salah, dan tak ingin disalahkan. Memperingati sudah Jeva lakukan, tapi ia tidak didengarkan. Kalau sudah diberi pelajaran fisik, baru akan mengerti, 'kan?

Jeva kemudian ditunjuk- tunjuk karena sukses membuat Yonash masuk rumah sakit.

"Dia pantas digituin." Jeva berkomentar santai. Baginya, selama itu dengan Rainey, Jeva tidak perlu kesulitan mengungkapkan pikiran. Rainey selalu mengerti.

"Lo yang kelewatan, Je, bukan Yonash."

Barangkali Jeva lupa, Rainey tak lagi seperti yang ia yakini.

Kalimat itu membuncahkan emosi dalan diri Jeva. Membikin rahangnya keras, tangannya terkepal sempurna dan kilatan sangar di kedua matanya yang menghunus.

"Yonash emang ramah ke semua orang. Lo yang berpikir berlebihan," tuduh Rainey, suaranya meninggi.

Jeva menoleh. "Lo pikir main sama cewek sana- sini, sampai ke tahap pangkuan, itu wajar, Ney?"

Tak segera menjawab, Rainey memalingkan wajahnya terlebih dahulu. "Ya," suaranya parau. "Itu emang cara  Yonash berteman, kok."

"Lo sakit hati karena dia, dan masih ngebela? Lemah banget. Rainey gue gak kayak gini," cerca Jeva meluap-luap.

"Gue sayang sama Yonash." Tatapan Rainey memerangkap keterkejutan Jeva. "Gue maklumin. Kenapa lo gak ngerti, sih?"

Jeva tidak suka perubahan yang terlalu tiba- tiba. Soal Rainey, Jeva tahu ia tidak akan mengerti apa pun. Sahabatnya itu bukan lagi miliknya, sudah enggan dimengerti, berubah tanpa Jeva sadari.

 Sahabatnya itu bukan lagi miliknya, sudah enggan dimengerti, berubah tanpa Jeva sadari

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Say sad juga untuk Jeva :(

Pelik banget, ya, kisah asmaranya.

Jadi, kalian mau ambil Jeno, Juna, atau Jeva?

Sebelum ada pawangnya, hihi.

Tinggalkan jejak. Terima kasih.

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang